Rabu, 16 Desember 2020

Kubur Batu Raja Sidabutar di Pulau Samosir

Kubur Batu Raja Sidabutar pulau Samosir
Komplek makam batu Raja Sidabutar

Note: Perjalanan ini dilakukan sebelum musim hujan

            Hati-hati saat traveling di musim hujan, terutama di wisata air.

Hai sahabat backpacker, setelah sebelumnya aku menyusuri Pasar tomok yang merupakan sentra oleh-oleh di pulau Samosir, aku pun melanjutkan perjalananku menuju Kuburan Batu Raja Sidabutar,

Baca juga: Pasar Tomok, Pusat Oleh-Oleh Khas Batak di Pulau Samosir

Alamat Kubur Batu Raja Sidabutar

Kubur Batu Raja Sidabutar ini terletak di desa Tomok, kecamatan Simanindo, kabupaten Samosir, Sumatera Utara. Komplek pemakamannya berada di antara pasar Tomok, sehingga cukup mudah untuk dikunjungi. Apalagi di bagian depan gerbangnya juga terdapat plang besar yang bertuliskan “Objek Wisata Budaya Kuburan Tua Raja Sidabutar.” 

Kubur Batu Raja Sidabutar pulau Samosir
Selamat datang di Objek Wisata Budaya Kuburan Tua Raja Sidabutar

Sebelum memasuki komplek makam, pengunjung harus memakai kain ulos yang telah disediakan di pintu masuk. Kain ini cukup diselempangkan di bahu saja. Selain itu, pengunjung juga harus menjaga sopan santun dan menerapkan budaya antri. Oh ya, tiket masuknya juga seikhlasnya saja, jadi tidak memberatkan pengunjung. 

Kubur Batu Raja Sidabutar pulau Samosir
Gerbang masuk ke komplek kubur batu
Kubur Batu Raja Sidabutar pulau Samosir
Tata tertib buat pengunjung
Kubur Batu Raja Sidabutar pulau Samosir
Tempat duduk buat dengerin cerita Raja Sidabutar

Keunikan Kubur Batu Raja Sidabutar

Di komplek sorkofagus alias kuburan batu ini terdapat beberapa makam dari Raja Sidabutar dan keluarganya. Kubur-kubur batu ini merupakan peninggalan megalithikum dari kebudayaan Batak Toba dengan usia lebih dari 450 tahun. Tua banget cuy!

Makam-makam batu ini dibuat dari batu utuh tanpa sambungan yang dipahat lalu diberi penutup. Makamnya pun tidak dikubur di dalam tanah, melainkan diletakkan di atas tanah. Namun seiring waktu, bagian bawah makamnya terbenam juga sedikit. Makam-makam ini juga memiliki ukiran yang penuh makna.

Makam yang pertama dan paling tua adalah makam Raja Oppu Soributtu Sidabutar, beliau adalah raja pertama di Tomok dan dipercaya sebagai orang pertama yang membuka desa Tomok. Pada makamnya terdapat ukiran kepala manusia yang dipercaya sebagai ukiran dari sang raja. Sedangkan di bagian atas makamnya terdapat ukiran kecil yang konon adalah ukiran cucunya sebagai harapan agar generasi selanjutnya lebih baik dari dirinya. 

Kubur Batu Raja Sidabutar pulau Samosir
Makam Raja Sidabutar pertama

Kisah Cinta Terukir di Makam Batu

Selanjutnya adalah patung Raja Sidabutar kedua yang bernama Oppu Naibuttu Sidabutar. Beliau adalah anak dari raja Tomok pertama dan memiliki kesaktian seperti ayahnya. Pada makamnya juga terdapat ukiran kepala yang dipercaya sebagai ukiran wajah sang raja. Di bagian bawah terdapat ukiran seorang pria yang sedang berjongkok. Konon ukiran ini adalah ukiran panglima perang sang raja yang berasal dari Aceh dan beragama Islam.

Sedangkan pada bagian atas makamnya terdapat ukiran seorang wanita yang bernama Anting Malela Boru Sinaga. Wanita ini adalah wanita yang sangat dicintai sang raja, namun kisah cinta mereka tak berakhir bahagia. 

Kubur Batu Raja Sidabutar pulau Samosir
Makam Raja Sidabutar kedua

Anting Malela adalah seorang gadis yang sangat cantik. Kecantikannya pun telah terdengar ke berbagai daerah sehingga banyak raja-raja dari daerah lain yang ingin menikahinya. Namun lamaran-lamaran dari para raja tersebut ditolak oleh Anting Malela.

Hingga akhirnya Raja Sidabutar kedua memberanikan diri menemui dan meminang Anting Malela. Pinangan tersebut ternyata diterima oleh Anting Malela namun dengan syarat pernikahan dilakukan 10 tahun lagi.

Raja-raja yang pernah ditolak oleh Anting Malela pun sakit hati mendengar pinangan Raja Sidabutar kedua diterima. Di antara raja tersebut ada yang kemudian mengirimkan ilmu hitam yang membuat Anting Malela menjadi gila dan pergi ke hutan hingga tak pernah ditemukan lagi.

Raja Sidabutar Kedua yang sedih akhirnya menikah dengan gadis lain. Namun semasa hidupnya, beliau meminta pada pemahat agar memahat patung Anting Malela dan meletakkannya di atas makamnya sebagai bukti kesetian cintanya pada Anting Malela.

Selain kedua makam lainnya, juga terdapat makam-makam batu lainnya termasuk makam Raja Sidabutar ketiga. Namun makam ini sudah terbuat dari semen dan tanpa ukiran selain tanda salib. Raja Sidabutar Ketiga memang telah memeluk agama Kristen pada saat itu.

Setelah puas melihat keunikan makam batu Raja-Raja Batak ini, aku pun melanjutkan petualangan di pulau Samosir dan tujuanku selanjutnya adalah Museum Batak Samosir

Kubur Batu Raja Sidabutar pulau Samosir
Sang backpacker di depan makam batu

To be continued..

Senin, 14 Desember 2020

Pasar Tomok, Pusat Oleh-Oleh Khas di Pulau Samosir

Pasar Tomok, Oleh-oleh Khas Samosir
Pasar Tomok

Note: Perjalanan ini dilakukan sebelum musim hujan melanda

            Hati-hati saat traveling di musim hujan, terutama di wisata air.

Hai sahabat backpacker. Seperti yang kuceritakan sebelumnya, akhirnya setelah sekian lama, aku bisa juga nginjakin kaki di pulau Samosir, sebuah pulau besar yang berada di tengah-tengah danau Toba.

Baca juga: Menyeberangi Danau Toba dari Parapat ke Pulau Samosir

Setibanya di pelabuhan Tomok, perjalananku di pulau Samosir resmi dimulai dan aku pun segera menjelajahi berbagai objek wisata yang ada di desa Tomok ini. Namun sebelum itu, aku harus melewati Pasar Tomok dahulu.

Cari apa Bang?

Singgah sini Bang, murah-murah

Cari baju dek? Sini-sini, 35 ribu aja sabiji."

Dan masih banyak lagi kakak-kakak penjual yang menawarkan dagangannya kepadaku. Sebenarnya Pasar Tomok ini bukan tujuan utamaku sih. Soalnya ini masih hari pertama cuy, baru juga nyampe di pulau Samosir, masak langsung cari oleh-oleh. Tapi karena berbagai objek wisata ada di sekitar pasar ini, jadi mau nggak mau aku harus melewati pasar ini deh.

Pasar Tomok

Pasar Tomok adalah sebuah pasar tradisional yang menjual berbagai pernak-pernik dan oleh-oleh khas Batak Toba. Pasar ini terdiri atas ratusan kios yang memanjang di sepanjang jalan dan ada juga yang berderet ke bagian belakang. Kios-kiosnya juga memiliki arsitektur khas Batak Toba yang terlihat dari atap kiosnya. 

Pasar Tomok, Oleh-oleh Khas Samosir
Ada banyak kios-kios

Oleh-Oleh khas pulau Samosir

Di pasar Tomok ini terdapat beragam pernak-pernik dan oleh-oleh khas Batak Toba seperti kain ulos alias kain tenun tradisional khas Batak, ukiran kayu, miniatur rumah adat, hiasan dinding, tas, kalung, gelang, gantungan kunci hingga kaos bertuliskan Danau Toba dan Samosir serta masih banyak barang-barang lainnya.

Barang-barang ini dijual dengan harga yang terjangkau, bahkan di antara pasar oleh-oleh lain di sekitar Danau Toba, di pasar Tomok ini harganya lebih murah. Harganya pun masih boleh ditawar. 

Pasar Tomok, Oleh-oleh Khas Samosir
Banyak oleh-oleh khas Samosir

Alamat Pasar Tomok

Pasar Tomok berada di desa Tomok, kecamatan Simanindo, kabupaten Samosir, Sumatera Utara. Pasar ini letaknya tak begitu jauh dari pelabuhan Tomok dan objek wisata lainnya yang ada di Tomok.

Berhubung tujuan utamaku bukan pasar ini, jadi aku sekedar lewat aja dan melanjutkan perjalanan menuju objek wisata selanjutnya, yaitu Makam Batu Raja Sidabutar.

To be continued...

Jumat, 11 Desember 2020

Menyeberangi Danau Toba dari Parapat ke Pulau Samosir

Menyeberangi Danau Toba
Hamparan luas Danau Toba

Note: Perjalanan ini dilakukan sebelum musim hujan melanda

            Jangan traveling ke wisata air selama musim hujan. Berbahaya!!!

Hai sahabat backpacker, gimana kabar kalian?

Kalo kabarku sih baik-baik aja. Tapi di sini sekarang lagi musim musim hujan cuy. Meskipun kampungku kagak kerendam banjir, tapi akses jalan keluar kampungnya pada tenggelam, baik yang ke arah kotamadya maupun ke arah kota kabupaten. Jadinya ribet deh kalo mau kemana-mana.

Berhubung lagi kagak bisa kemana-mana, jadi kali ini aku mau cerita tentang perjalananku beberapa waktu yang lalu. Perjalanan ini kulakuin saat belum musim hujan. Jadi masih aman lah. Dan tujuan perjalananku kali ini adalah Pulau Samosir yang ada di tengah Danau Toba.

Danau Toba

Danau Toba sendiri adalah sebuah danau tersebar se-Indonesia bahkan se-Asia Tenggara. Danau ini memiliki panjang hingga 100 kilometer dan lebar hingga 30 kilometer dan kedalamannya mencapai 505 meter. Danau ini berada di tengah pulau Sumatera bagian utara, tepatnya di kaldera Gunung Supervulkan Toba.

Ngomongin Danau Toba mungkin udah banyak juga sih kubahas di blog ini. Soalnya aku udah ngunjungi Danau Toba dari berbagai sisi yang berbeda. Mulai dari Parapat, Tigaras, Tongging, Silalahi, Porsea, Sigura-Gura hingga dari kota Balige. Semua tempat-tempat tersebut menampilkan keindahan alam Danau Toba secara sempurna dengan pemandangan yang berbeda-beda.

Tapi dari sekian banyak kunjunganku ke Danau Toba, selalu ada satu tempat yang selalu terlewat. Padahal tempat ini bisa dibilang salah satu tempat yang wajib dikunjungi kalo ke Danau Toba yaitu Pulau Samosir. 

Menyeberangi Danau Toba
Bukit hijau di sekeliling Danau Toba
Menyeberangi Danau Toba
Kapal-kapal yang sedang berlabuh

Pulau Samosir

Pulau Samosir adalah sebuah pulau vulkanik yang berada di tengah-tengah Danau Toba. Pulau ini termasuk dalam 10 pulau besar yang ada di tengah-tengah danau. Pulau Samosir juga punya banyak potensi pariwisata alam yang sangat menarik. Selain itu, di pulau ini juga tinggal suku Batak Toba dengan segala adat dan budayanya. Oleh karena itu, aku cukup tertarik untuk mengunjungi pulau yang satu ini.

Brmmm... brrmmm....

Dengan menggunakan sepeda motor aku melalui rute Kisaran-Perdagangan-Pematang Siantar-Parapat. Menjelang siang aku pun tiba di kota Parapat. Rencananya aku mau naik kapal ferri aja di Pelabuhan Ajibata. Tapi karena ribet buka peta di hp, akhirnya aku make GPS alias Gunakan Penduduk Setempat dan malah diarahkan ke Pelabuhan Tigaraja.

Menyeberangi Danau Toba

Pelabuhan Tigaraja ini melayani kapal motor yang membawa penumpang dari Parapat ke Tomok di Pulau Samosir. Di sini kapal motornya bertingkat dua dan bisa membawa sepeda motor, jadi motornya dijejerin di bagian samping kapal. Biaya penyeberangannya pun cukup terjangkau, perorangnya cuma dikenakan biaya Rp. 8000 aja dan untuk motor dikenakan biaya Rp. 10.000. 

Menyeberangi Danau Toba
Kapal motor penyeberangan Parapat-Tomok
Menyeberangi Danau Toba
Suasana di dalam kapal
Menyeberangi Danau Toba
Kapal melaju di tengah Danau Toba

Setelah beberapa penumpang menaiki kapal, kapal pun mundur secara perlahan dan meninggalkan pelabuhan Tigaraja untuk mengarungi Danau Toba. Dari lantai dua kapal ini pemandangannya indah juga, soalnya aku bisa memandangi luasnya danau Toba dengan airnya yang berwarna kehijauan. 

Di kanan dan kiri juga terlihat barisan perbukitan hijau di sisi danau sedangkan di bagian depan tak terlihat ujung danau ini. Sejauh mata memandang hanya terlihat hamparan danau yang begitu luas, rasanya seperti di tengah lautan saja.

Kondisi angin di tengah danaunya juga cukup kencang, sehingga kapalnya bergoyang-goyang terkena ombak. Rasanya jadi kayak mengarungi lautan aja cuy. Lautan ala Danau Toba. Seru!!!

Sekitar 30 menit kemudian aku pun tiba di Pelabuhan Sumber Sari yang ada di Tomok, Pulau Samosir. Hup... dan sekarang aku udah resmi nginjakin kaki di Pulau Samosir. Selamat datang di Pulau Samosir, Negeri Indah Kepingan Surga. Petualanganku di Pulau Samosir pun dimulai. 

Menyeberangi Danau Toba
Kapal lain yang sedang melaju
Menyeberangi Danau Toba
Pelabuhan Sumber Sari Tomok

To be continued....

Senin, 30 November 2020

Air Terjun Tibet di Simalungun

Air Terjun Tibet di Simalungun
Air Terjun Tibet

            Note:

-       Perjalanan ini dilakukan sebelum musim hujan melanda

-       Jangan ke air terjun saat musim hujan, bahaya.

 

Brrrrmmm... brrmmmm...

Posisi matahari masih tinggi, pertanda sore masih lama lagi baru tiba. Jadi kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan untuk menjelajahi air terjun yang ada di kabupaten Simalungun ini setelah sebelumnya kami udah mengunjungi Air Terjun Jambuara, Air Terjun Tonduhan, Air Terjun Katasa hingga jembatan ekstrim Hatonduhan.

Baca juga: Jembatan Hatonduhan, Jembatan Ekstrim di Simalungun 

Tujuan kami selanjutnya adalah Air Terjun Tibet yang masih berada di kabupaten Simalungun.

Brrmmm... brmmm...

Alamat Air Terjun Tibet

Air Terjun Tibet terletak di Nagori Buntu Turunan, kecamatan Hatonduhan, kabupaten Simalungun, Sumatera Utara.

Dari Air Terjun Katasa kami harus kembali ke jalan besar Mandoge yang menghubungkan Kisaran dengan Pematang Siantar. Pada persimpangan Seribu Asih, kami berbelok ke kiri, sedangkan jika ke kanan mengarah ke kota Pematang Siantar. Dari persimpangan tersebut, kami terus melaju sekitar 8 km hingga bertemu sebuah titi beton alias jembatan beton dan air terjunnya berada tak jauh dari jembatan tersebut.

Arti Nama Air Terjun Tibet

Air terjun ini dinamakan Air Terjun Tibet. Namun Tibet di sini bukan maksudnya Tibet yang ada di Nepal itu loh. Tibet yang dimaksud di sini adalah singkatan dari Titi Beton, sebuah jembatan beton yang berada di atas aliran air terjun ini. Jadi jika dipanjangin nama air terjun ini adalah Air Terjun Titi Beton.

Pemandangan Air Terjun Tibet

Setelah memarkirkan sepeda motor, kami pun sedikit trekking ke bawah, ke arah air terjunnya. Dari tempat parkir, lokasi air terjunnya tak begitu jauh. Hanya sekitar 50 meter doang. Namun jalannya cukup licin dan di penuhi semak belukar. Dari beberapa air terjun yang telah kami kunjungi sebelumnya, sepertinya air terjun ini yang paling tak terawat di kecamatan Hatonduhan ini.

Benar saja, sesampainya kami di bawah, pelataran air terjunnya dipenuhi ilalang yang cukup tinggi. Hanya sedikit kawasan yang tak tertutup rumput di pinggiran kolam air terjunnya dan dipenuhi bebatuan besar.

Air terjun Tibet ini sebenarnya cukup cantik meski air terjunnya tak begitu tinggi. Namun airnya bersih dan jernih serta berwarna hijau toska. Di depannya terbentuk kolam air terjun yang cukup dalam. Di sekitar kolamnya juga ada dinding batu yang tak begitu tinggi dan di dinding batu tersebut terdapat beberapa lobang yang terlihat seperti goa mini.

Di sisi kolam air terjun satunya malah ada dataran berpasir putih yang terlihat seperti pantai. Hanya saja kalo mau ke dataran berpasir ini kami harus menyeberangi kolam air terjunnya. Karena males basah dan nggak tau kedalaman kolamnya, jadi kami urungkan niat untuk ke daratan berpasir tersebut. 

Air Terjun Tibet di Simalungun
Tingginya hanya sekitar 5 meter
Air Terjun Tibet di Simalungun
Airnya bersih dan jernih
Air Terjun Tibet di Simalungun
Dinding di sisi kolam air terjun
Air Terjun Tibet di Simalungun
Dataran berpasir di sisi kolam air terjun

Tiket Masuk ke Air Terjun Tibet

Dibandingin ama air terjun yang udah kami kunjungi sebelumnya, tiket masuk ke air terjun ini yang paling mahal. Kami berempat diminta membayar hingga Rp. 30.000 dan dimintai ketika kami mau pulang. Padahal saat masuk nggak ada yang jaga, bahkan motor kami juga nggak ada yang jaga. Akhirnya setelah sedikit nego kami membayar Rp. 20.000. Setelah membayar tiketnya, kami pun beranjak pulang karena hari yang sudah menjelang sore.

Seru juga sih karena dalam satu hari kami bisa ngunjungi beberapa air terjun, yaitu Air Terjun Jambuara, Air Terjun Tonduhan, Air Terjun Katasa, Air Terjun Tibet dan Jembatan Ekstrim Hatonduhan. Mantap!!! 👍

Hmm... abis ini kemana lagi ya? 

Air Terjun Tibet di Simalungun
Aku di Air Terjun Tibet

To be Continued...

Jumat, 27 November 2020

Jembatan Hatonduhan, Jembatan ekstrim di Simalungun

Jembatan Hatonduhan di Simalungun
Motor melintasi Jembatan Hatonduhan

Nb:      -Perjalanan ini dilakukan sebelum dimulainya musim hujan

-Jangan main ke air terjun atau sungai sangat musim hujan, bahaya!!!

Di ceritaku yang sebelumnya, yaitu tentang Air Terjun Katasa, ternyata banyak teman-teman yang penasaran ama jembatan yang berada di atas air terjun tersebut. Sama sih, aku juga penasaran ama jembatan tersebut. Apalagi sesekali terlihat sepeda motor yang melintas melalui jembatan tersebut.

Baca juga: Air Terjun Katasa di Simalungun

Setelah nanya-nanya ama bapak penjaga Air Terjun Katasa, kata beliau jembatan tersebut bernama Jembatan Hatonduhan dan beliau juga nunjukin arah buat ke jembatan tersebut.

Alamat Jembatan Hatonduhan

Jembatan Hatonduhan ini berada di Nagori Bayu Bagasa, kecamatan Hatonduhan, kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Jembatannya berada tepat di atas Air Terjun Katasa. Dari Air Terjun Katasa, kami hanya perlu mengambil persimpangan yang berbeda dengan arah kembali dan jaraknya dari air terjun tak sampai 5 menit perjalanan.

Keunikan Jembatan Hatonduhan

Setibanya di ujung Jembatan Hatonduhan, aku pun memarkirkan sepeda motor di bawah pohon sawit, agar tak menghalangi kendaraan yang melintas.

Melihat jembatan ini dari ujungnya ada udah bikin perasaan jadi ngeri-ngeri sedap. Soalnya jembatan ini memiliki panjang hampir 100 meter dengan ketinggian mencapai 80 meter dan lebarnya tak sampai 1 meter serta tak memiliki satupun pagar pembatas. Nggak ada pagar pembatasnya cuy.

Padahal di bawah jembatan ini terdapat banyak bebatuan dan air terjun dengan air yang mengalir deras. Gilak... gilak...  

Jembatan Hatonduhan di Simalungun
Ketinggiannya mencapai 80 meter
Jembatan Hatonduhan di Simalungun
Lebarnya hanya sekitar 1 meter doang
Jembatan Hatonduhan di Simalungun
Menyeberang secara bergantian

Menurut bapak penjaga Air Terjun Katasa, jembatan ini dulunya bekas rel kereta api muntik yang digunakan sejak masa kolonial Belanda. Namun setelah keretanya tak lagi beroperasi, bekas rel ini dicor beton oleh masyarakat sebagai jembatan penghubung antar desa.

Jembatan ini pun menjadi satu-satunya akses masyarakat yang ingin menyeberang. Karena kalo nggak lewat jembatan ini, mereka harus mengambil jalan memutar melalui kecamatan Tanah Jawa. Kalo dari sana, bisa sampe 1 jam baru nyampe.

Yang bikin lebih ngeri adalah banyak masyarakat yang melalui jembatan ini pake sepeda motor. Bahkan banyak yang sambil membawa keranjang yang berisi hasil pertanian seperti sawit, jengkol, sayuran dan hasil pertanian lainnya. Sebelum melintasi jembatan, pengendara motor harus membunyikan klakson dulu. Agar tak saling berpapasan di atas jembatan.

Jujur aja, aku yang jalan kaki aja ngerasa ngeri pas udah sampe di pertengahan jembatannya. Sedangkan masyarakat di sini nyante aja ngelewati jembatan tanpa pagar pembatas ini pake motor dan bawa beban banyak. Nekad banget deh mereka.

Menurutku sih, jembatan ini adalah salah satu jembatan terekstrim yang bisa dilalui sepeda motor yang pernah kutemui. Selama ini aku udah sering lewat jembatan ekstrim, apalagi di kampungku malah ada tiga jembatan ekstrim. Tapi jembatannya nggak sampe sekecil dan setinggi ini serta nggak dilalui sepeda motor.

Pemandangan dari atas Jembatan Hatonduhan

Meskipun ekstrim tapi pemandangan dari atas jembatan ini cukup oke juga. Soalnya dari atas jembatan ini kami bisa ngelihat pemandangan Air Terjun Katasa dari ketinggian dan aliran Sungai Balah dan dan Sungai Turunan serta pemandangan hutan hijau yang mengelilingi kawasan Air Terjun Katasa. Mantap juga pemandangannya. 

Jembatan Hatonduhan di Simalungun
Pemandangan dari atas jembatan
Jembatan Hatonduhan di Simalungun
Air Terjun Katasa
Jembatan Hatonduhan di Simalungun
Backpacker imut di ujung jembatan