Wednesday, April 29, 2020

Jembatan Tangga-Parhitean dan Sungai Asahan

Note: Perjalanan ini dilakukan sebelum covid-19 mewabah, stay at home kawan-kawan.

Hai sahabat backpacker...

Menurutku Lembah Asahan adalah salah satu tempat yang indah di Tanah Asahan. Kawasan ini memiliki objek wisata yang cukup lengkap dengan banyaknya air terjun seperti Air Terjun Ponot, Sampuran Harimau, Aek Birong dan banyak lagi. Kemudian juga ada tebing batu, sungai rafting, bendungan, lembah, hutan hijau tropis dan lain-lain.

Setelah sebelumnya kami akhirnya berhasil menemukan Air Terjun Aek Birong yang belum memiliki akses jalan, kami pun memutuskan untuk pulang karena hari sudah menjelang sore agar tak kemalaman tiba di rumah.

Jembatan Tangga-Parhitean

Namun sebelum pulang, kami memutuskan untuk singgah sejenak di satu tempat lagi yaitu Jembatan Tangga-Parhitean. Jembatan ini adalah sebuah jembatan beton yang menghubungkan antara Desa Tangga di Kabupaten Asahan dengan Desa Parhitean di Kabupaten Toba Samosir yang dipisahkan oleh aliran Sungai Asahan. Jembatan ini masih berada di kawasan Lembah Asahan.
Jembatan Tangga-Parhitean
Sejarah Jembatan Tangga-Parhitean

Jembatan ini juga dianggap sebagai salah satu jembatan tertua di Sumatera Utara. Pembangunan jembatan ini sudah dimulai sejak tahun 1936 dan selesai pada tahun 1949. Peresmiannya dilakukan pada tahun 1950 oleh Wakil Presiden Indonesia pertama, Mohammad Hatta yang didampingi Gubernur Sumatera, TM. Hassan.

Meskipun sudah berdiri puluhan tahun dan dilalui ratusan kendaraan setiap harinya, jembatan ini masih berdiri kokoh. Membuktikan betapa kuat kontruksinya. Jembatan ini juga memiliki ciri khas berupa pagar cor beton menjulang dengan lengkungan di atasnya. Jadi terlihat cantik juga.

Btw alasan kami berhenti di jembatan ini pun karena pemandangan dari jembatan ini memang cukup indah. Barisan perbukitan yang mengelilingi Lembah Asahan terlihat jelas dari sini. Di bawah jembatan ini telihat pula aliran Sungai Asahan dengan arusnya yang deras yang dijadikan lokasi olahraga arum jeram.
Adikku dan teman-temannya
Sungai Asahan dan arum jeramnya

Sungai Asahan ini memang merupakan lokasi arum jeram yang cukup terkenal, bahkan dianggap sebagai yang terbaik ketiga setelah Sungai Zambesi di Afrika dan Sungai Colorado di Amerika. Kontur sungai yang berliku, bergelombang dan diapit tebing-tebing terjal membuat aliran sungai ini menghasilkan jeram-jeram besar dan bervariasi dari grade 4 hingga 5.
Pemandangan dari atas jembatan

Arus Sungai Asahan yang deras banget
Di sungai ini ada 4 etape pengarungan yang dimulai dari sekitar Air Terjun Sampuran Harimau. Etape ini sambung menyambung dan bisa dipilih sebagai alternatif rute saat berarum jeram.

Rute pertama berakhir di dekat jembatan ini. Rute ini dijuluki dengan istilah 'Never Ever End Rapids', karena tipe jeramnya yang sambung menyambung seolah-olah tak pernah habis. Di etape ini terdapat dua jeram besar dengan grade 4 dan 5.

Rute kedua bernama 'Hula-Huli Run', etape ini dimulai dari belakang SD Desa Tangga dan berakhir di Zivana Rapid . Secara umum, etape ini relatif aman untuk diarungi. Etape yang panjangnya hanya tiga kilometer ini didominasi jeram ber-grade 3+.

Rute ketiga bernama 'Midde Section', etape ini dimulai dari Zivana Rapid yang berlanjut hingga Jeram Nightmare. Midde Section merupakan etape paling berbahaya di Sungai Asahan. Maskot yang paling terkenalnya adalah Nightmare Rapid, namun lepas dari jeram ini masih terdapat jeram-jeram ber-grade 5 yang menunggu dan sangat berbahaya Saking bahayanya jeram ini, jangankan rafter lokal, rafter internasional pun banyak yang menghentikan langkah di jeram ini. Gilak banget cuy.

Etape terakhir adalah Halims Run, rute ini dimulai dari Desa Batu Mamak dan berakhir di Desa Bandar Pulo. Di tempat ini arus tenang banyak ditemukan. Selain itu terdapat pemandangan air terjun di sepanjang aliran sungai. Tebing-tebing tinggi pun menjulang menjadi bentukan alam yang sangat menawan. Tebing-tebing ini mengular hingga ke bagian hilir.

Menatap arus sungai dari atas jembatan ini membuatku kepingin buat ngarungi sungai ini dan merasakan serunya berarum jeram. Tapi karena kegiatan olahraga satu ini harus berkelompok, aku harus mengurungkan niat. Karena tak banyak temanku yang mau ikut. Sedihnya. -_- 
Sang backpacker di Jembatan Tangga-Parhitean


Sunday, April 26, 2020

Mencari Air Terjun Aek Birong, Air Terjun Alami di Lembah Asahan


Note: Perjalanan ini dilakukan sebelum covid-19 mewabah, stay at home ya kawan-kawan.

Air Terjun Aek Birong
Hai sahabat backpacker, selamat menjalankan ibadah puasa ya. Walaupun di tengah pandemi seperti ini, semoga kita bisa tetap khusu' dalam menjalankan ibadah puasa. Aamiin...

Sekarang aku mau melanjutkan kisah perjalananku saat di Lembah Asahan, sebuah lembah nan indah di kawasan Sigura-Gura. Setelah sebelumnya kami akhirnya menemukan Air Terjun Sampuran Harimau yang dulu terkenal namun sekarang terlupakan, kami pun melanjutkan perjalanan di Lembah Asahan ini.

Sebenarnya sejak memasuki kawasan Lembah Asahan ada satu air terjun yang sangat menarik perhatianku. Karena air terjun ini sudah terlihat sejak dari jauh dan mengalir di salah satu tebing batu yang mengelilingi Lembah Asahan. Hanya saja aku nggak tau air terjun apa itu, karena memang belum ada informasi yang kudapatkan tentang air terjun tersebut sebelumnya.

Oleh karena itu, kami memutuskan untuk bertanya pada penduduk setempat tentang air terjun tersebut.

Permisi Buk, air terjun itu namanya apa ya Buk?” tanya ku sopan pada ibu-ibu yang sedang duduk santai di teras rumahnya sambil menunjuk air terjun yang ada di tebing batu tersebut.

Air Terjun Aek Birong itu Nak,” Ucap si ibu.

Kalo mau ke situ, dari mana jalannya ya Buk?” Tanyaku lagi.

Nggak ada jalannya ke situ Nak.

Owh.. gitu, kalo gitu terima kasih ya Buk,” Ucapku sambil melemparkan senyum manis pada anak gadisnya yang duduk di sebelah si ibuk.

Ya ela... Sempat-sempatnya. 🤣

Mendengar bahwa tidak ada jalan untuk menuju Air Terjun Aek Birong, kami kemudian berdiskusi dan memutuskan untuk mencari akses jalannya sendiri. Karena Air Terjun Sampuran Harimau aja ketemu kok jalannya, jadi air terjun ini pasti ketemu juga. Begitulah menurut kami.

Segera kami menyusuri jalanan yang menanjak yang mengarah ke Bendungan Sigura-Gura. Sesekali jalanan yang berkelok tersebut mendekat ke air terjun dan sesekali menjauh. Hingga akhirnya kami menemukan satu titik terdekat ke Air Terjun Aek Birong ini.

Setelah memastikan motor terparkir dengan aman di pinggir jalan, kami pun memasuki kawasan semak belukar dan perkebunan sawit. Kami terus berjalan hingga akhirnya sampe pada titik ujung perkebunan sawit tersebut. Ke depannya sudah nggak bisa dijalani lagi karena mengarah langsung ke jurang jatuhan air terjun. Tanahnya yang gembur dan berbatu-batu membuat kami tidak menuruni jurang tersebut, khawatirnya terjadi longsong, terlalu berbahaya.
Sekitarnya ada bebatuan dan pepohonan

Pemandangan di sekitar air terjun
Sebagai seorang petualang, menurutku kita harus tau batas diri dan kondisi di sekitar kita. Apalagi prinsipku saat jalan-jalan adalah perginya sehat, pulangnya harus selamat. Toh walau hanya dari ujung kebun sawit, Air Terjun Aek Birong ini tetap terlihat indah.

Lokasi Air Terjun Aek Birong

Air Terjun Aek Birong ini terletak di Desa Tangga, Kecamatan Aek Songsongan, Kabupaten Asahan, Sumatera Utara. Air terjunnya berada di sisi kanan jalan jika kita menuju Bendungan Sigura-Gura dari Lembah Asahan.

Lanskap Air Terjun Aek Birong

Menurutku Air Terjun Aek Birong ini merupakan air terjun yang cukup indah. Mengalir di sela-sela tebing batu yang menjulang tinggi membuat air terjunnya memiliki ketinggian hingga 70 meter. Di sekitar air terjun, selain tebing batu juga terdapat banyak pepohonan rindang yang membuat pemandangan di sekitar air terjun ini menjadi hijau dan segar. Jadi rasanya nggak rugi juga harus melewati semak belukar untuk melihat air terjun ini. Apalagi air terjun ini masih sangat alami, belum disentuh tangan-tangan manusia.
Air terjunnya di balik rimbunnya pepohonan

Air Terjun Aek Birong

Wonderful Indonesia

Note: Perjalanan ini dilakukan sebelum covid-19 mewabah, stay at home kawan-kawan 
Sederhana namun indah dan alami


Sang backpacker di Air Terjun Aek Birong


Thursday, April 23, 2020

Mencari Sampuran Harimau, Air Terjun Yang Terlupakan

Note: Perjalanan ini dilakukan sebelum covid-19 mewabah, stay at home kawan-kawan


Brrmmmm... Brrrmmm.... 
Air Terjun Sampuran Harimau


Aku, adikku dan teman-teman adikku terus memacu sepeda motor kami melewati jalanan Sigura-Gura di Lembah Asahan yang berkelok-kelok sambil menikmati indahnya alam Lembah Asahan ini. Tak jauh dari pusat lembah, kami pun membelokkan kendaraan ke arah Air Terjun Ponot.

Air Terjun Ponot adalah salah satu air terjun yang ada di Lembah Asahan. Air terjun ini cukup terkenal di kalangan wisatawan lokal dan sering dikunjungi masyarakat sekitar saat hari libur. Air terjunnya emang indah dengan tinggi yang mencapai 100 meter dan terdiri dari tiga tingkatan air terjun.
Air Terjun Ponot
Namun tujuan kami kami hari ini bukanlah Air Terjun Ponot, melainkan Air Terjun Sampuran Harimau yang lokasinya nggak jauh Air Terjun Ponot. Setelah memarkirkan motor di parkiran Ponot, kami lantas berjalan kaki menuju Air Terjun Sampuran Harimau.

Setelah berjalan beberapa menit, kami sudah bisa melihat tebing batu dan puncak Air Terjun Siharimau. Tapi kami tak menemukan satu pun akses jalan menuju air terjun tersebut. Kami coba menerobos semak belukar yang berduri dan merangkak melalui bebatuan cadas, tapi malah ketemu air terjun lain yang debitnya sedikit sekali hanya saja lebih tinggi.

Cukup bikin frustasi sih, karena puncak air terjunnya sudah terlihat tapi nggak nemu juga akses jalannya. Sampe akhirnya kami bertemu seorang ibu-ibu yang sedang memanen ubi.

Mau kemana Nak?” Tanya si ibuk.

Ke Sampuran Harimau Buk, yang mana jalannya ya buk?” Tanyaku penuh harap.

Itu jalannya,” Tunjuk si ibu kira-kira 10 meter dari tempat kami berhenti.

Asem lah, ternyata udah deket banget, tapi karena semak, jadi kagak kelihatan jalannya.

Jalannya emang semak banget, beberapa kali kami juga harus melewati batang pohon yang tumbang, hingga akhirnya kami menemukan sebuah gazebo dengan ornamen khas Batak. Tak jauh dari gazebo tersebut, Air Terjun Sampuran Harimau akhirnya terlihat juga.
Akses jalannya semak belukar

Ada gazebo dengan ornamen Batak
Wuuahh... Nyampe juga ke tempat ini. Susah banget nyarinya.

Lokasi Air Terjun Sampuran Harimau

Air Terjun Sampuran Harimau ini masih dalam satu kawasan dengan Air Tejun Ponot yang terkenal itu. Air terjun ini tepatnya berada di Desa Tangga, Kecamatan Aek Songsongan, Kabupaten Asahan, Sumatera Utara. Kalo dari pusat Kota Kisaran, ibukota Asahan, kira-kira 3 jam perjalanan naik kendaraan menuju tempat ini.

Lanskap Air Terjun Sampuran Harimau

Air Terjun Sampuran Harimau saat ini sebenarnya air terjun kecil dan tingginya hanya sekitar 28 meter serta debit airnya kecil banget. Padahal dulunya air terjun ini sangat besar dan terkenal karena merupakan aliran langsung dari Sungai Asahan. Bahkan dulu, saking besarnya debit air terjun ini hingga menghasilkan suara yang bergemuruh seperti auman harimau. Oleh karena itu, air terjun ini dinamakan Air Terjun Sampuran Harimau. Luar biasa banget cuy.

Namun sejak tahun 1980-an, di atas air terjun ini dibangun sebuah bendungan dan airnya dialirkan sebagai pembangkit listrik. Sehingga air terjun ini tak lagi memiliki debit air yang besar. Aumannya pun padam dan secara perlahan air terjun ini pun mulai terlupakan dan jarang dikunjungi orang-orang.
Air Terjun Sampuran Harimau saat ini
Padahal air terjun ini masih cukup cantik sih, meski debit airnya kecil, namun di bawahnya terbentuk kolam alami yang cukup besar dan berair tenang, katanya sih dalam juga nih kolamnya. Dan walau terlihat airnya kekuningan, tapi airnya segar, bersih dan ada banyak ikan air tawarnya. Lalu di sekeliling kolam juga bersebaran batu-batu cadas berbagai ukuran yang memenuhi sekeliling kolam.
Kolam alami air terjunnya

Batu-batu bersebaran di sekitar air terjun

Adikku dan teman-temannya
Tebing Sampuran Harimau

Satu hal lagi yang menarik di air terjun ini adalah adanya tebing-tebing batu yang menjulang tinggi. Bahkan ada yang tingginya mencapai 215 meter. Tebing Sampuran Harimau ini cukup terkenal di kalangan pecinta olahraga rock climbing karena tebingnya yang cukup garang dan ekstrim, bahkan sudut kemiringannya mencapai 90°. Mantap!

Tebing Sampuran Harimau ini pun menjadi tempat latihan komunitas Panjat Tebing Asahan dan sering juga dipanjat para pemanjat profesional yang berhasrat menaklukkan puncaknya.  Bahkan Patrick Berhault, pemanjat asal Perancis pernah berbagi ilmu panjat tebing dengan pemanjat-pemanjat Indonesia atas undangan Menpora di tebing ini.
Tebing Sampuran Harimau
Berhubung hari sudah lumayan siang, kami pun segera membuka bekal yang kami bawa dari rumah dan segera menyantap nasi bungkus dengan lauk sambal telur di samping kolam air terjun. Meski menunya sederhana, tapi makan dengan suasana alam yang cantik ini membuat rasanya menjadi luar biasa.

Selesai makan dan membereskan sisanya agar tak meninggalkan sampah, kami pun segera bergegas keluar, karena masih ada tempat lain yang ingin dikunjungi.

Let's go...

Note: perjalanan ini dilakukan sebelum covid-19 mewabah, stay at home sahabat. 
Menikmati keindahan Air Terjun Sampuran Harimau


Sang backpacker dan Air Terjun Sampuran Harimau


Monday, April 20, 2020

Lembah Asahan, Kepingan Surga Yang Terlupakan

Brmmmm.. Brmmm....

Aku, adikku dan teman-temannya kembali memacu motor di atas jalanan Sigura-Gura yang berkelok-kelok dan punya pemandangan indah. Setelah sebelumnya kami sempat berhenti sebentar untuk bermain air di Air Terjun Aek Limut. Sekarang kami melanjutkan perjalanan menuju Lembah Asahan yang dikenal juga dengan nama Ngarai Sigura-Gura.
Lembah Asahan
Tak jauh dari Air Terjun Aek Limut, palingan cuma 20 menit dan kami udah sampe di pusat kawasan Lembah Asahan. Lembah Asahan ini merupakan sebuah lembah indah yang dikelilingi hutan hujan tropis yang hijau dan lebat.
Tebing batu menjulang tinggi

Sungai berbatu di lembahnya

Ada persawahan hijau
Di sekeliling lembah ini juga terdapat bukit-bukit dan tebing-tebing batu yang menjulang tinggi. Bahkan ada juga tebing batunya yang menjadi lokasi panjat tebing yang cukup terkenal di kalangan pencinta olahraga rock climbing, tepatnya di Tebing Sampuran Harimau. Tebing ini punya ketinggian hingga 215 meter dengan sudut kemiringan 90°.
Tebing Sampuran Harimau
Di sela-sela tebing batu itu ada banyak air terjun yang mengalir. Beberapa diantaranya udah di kelola sebagai objek wisata seperti Air Terjun Ponot dan Air Terjun Aek Limut. Namun banyak pula air terjun lainnya yang dibiarkan alami tanpa campur tangan manusia. Bahkan ada juga air terjunnya yang belum memiliki nama dan tak memiliki akses untuk mencapainya. Air terjun ini hanya terlihat dari kejauhan, mengalir lembut di antara tebing-tebing batu nan terjal.
Air Terjun Ponot

Air Terjun Sampuran Harimau

Air Terjun Aek Birong

Air terjun di sela tebing-tebing batu
Salah satu cara terbaik menikmati indahnya Lembah Asahan ini adalah dari sisi atas, dari ketinggian. Caranya adalah terus mengikuti jalan Sigura-Gura menuju Bemdungan Sigura-Gura yang ada di sisi atas. Di sana ada beberapa tepi jalan yang menghadap tepat ke arah Lembah Asahan.

Dari atas sini, pemandangan Lembah Asahan terlihat lebih jelas dan lebih indah. Di tengah lembahnya pun terlihat persawahan hijau dan aliran Sungai Asahan yang berkelok-kelok membelah lembah. Cantik sekali.
Indah cuy

Tebing batu, air terjun, hutan yang lebat

Lembah Asahan dari atas
 Berdasarkan penelitian yang dilakukan H.Th. Verstappen, seorang peneliti geomorfologi asal Belanda selama tahun 1961 hingga 1973, dalam bukunya yang berjudul Outline of the Geomorphology of Indonesia, A Case Study on Tropical Geomorphology of a Tectogene Region, mengungkapkan bahwa Lembah Asahan ini sudah ada jauh sebelum Danau Toba terbentuk. Hal ini dibuktikan dari ditemukannya endapan tuf Danau Toba pada ngarai-ngarai Sungai Asahan yang mengalir di tengah lembah ini. Diperkirakan Lembah Asahan ini telah berusia 80 ribu tahun sedangkan Danau Toba baru berusia 73 ribu tahun. Yupz... Lembah ini kakaknya Danau Toba.

Hormat ama senior boy. 🤣

Namun, walau lebih tua dari Danau Toba, lembah ini tidak seterkenal Danau Toba karena lembah ini memang belum dikelola secara terpusat sebagai tempat wisata. Yang dikelola masih air terjun-air terjun yang ada di sekitarnya saja.

Dulu sempat ada festival The Asahan Whitewater Festival, sebuah festival lomba mengarungi arum jeram Sungai Asahan yang dikenal sebagai lokasi rafting terbaik ketiga di dunia setelah sungai Zambesi di Afrika dan Sungai Colorado di Amerika Serikat. Namun makin kesini festival ini tak pernah lagi digelar dan perlahan Lembah Asahan mulai terlupakan oleh dunia.

Note: Perjalanan ini dilakukan sebelum covid-19 mewabah, stay at home sahabat.
Sungai Asahan

Lembah Asahan alias Ngarai Sigura-Gura

Indah banget

Friday, April 17, 2020

Air Terjun Aek Limut, Segar Banget Cuy!

Hai sahabat backpacker...

Gimana kabar kalian hari ini? Semoga sehat selalu ya sahabat, aamiin...
Berhubung hingga hari ini kita masih harus di rumah karena adanya pandemi corona, jadi aku ingin berbagi cerita petualanganku saat ke kawasan Lembah Asahan ketika wabah ini belum ada. Ketika dunia masih aman dan negara api belum menyerang.

Perjalanan ini kulakukan bersama adikku dan teman-temannya. Dengan mengendarai motor, kami melalui rute Kisaran-Simpang Kawat-Air Batu-Pulau Raja-Bandar Pulo dan Aek Songsongan. Ketika memasuki kawasan Sigura-Gura, tepatnya dari Wisata Alam Bedeng, pemandangan sepanjang jalannya mulai cantik dengan hutan hijau di sekeliling, Sungai Asahan dengan airnya yang deras dan sesekali terlihat bukit dan tebing batu yang menjulang.

Sekitar 20 menit kemudian, kami bertemu dengan satu air terjun yang cukup cantik, dari plang namanya, air terjun ini bernama Air Terjun Aek Limut.  
Air Terjun Aek Limut


Plang nama air terjunnya

Lokasi Air Terjun Aek Limut

Air Terjun Aek Limut ini berada tepat di pinggir jalan lintas yang menghubungkan Kabupaten Asahan dengan Porsea di Kabupaten Toba Samosir. Lokasi tepatnya berada di Parhitean, Kecamatan Meranti Utara, Toba Samosir.

Karena letaknya pas banget di pinggir jalan, jadi kagak perlu trekking-trekking buat ngedatangi air terjun ini. Cukup parkirkan kendaraan di pinggir jalan, lalu jalan kaki 5 meter doang dan kalian dah sampe ke air terjunnya.

Oh ya, tiket masuk ke air terjun ini gratis. Inget ya kawan-kawan, GRATIS. Pengunjung hanya perlu bayar parkir kendaraan Rp. 5000 permotor dan Rp. 10.000 permobil. Murah meriah cuy.

Fasilitas yang ada di air terjun masih sederhana, cuma tempat parkir di pinggir jalan, warung-warung yang menjual makanan ringan dan jajanan serta kamar mandi serta ruang ganti pakaian buat yang ingin bermain air.

Lanskap Air Terjun Aek Limut

Meski letaknya di pinggir jalan lintas, Air Terjun Aek Limut ini cakep banget loh. Aliran air terjunnya mengalir dari tebing setinggi 70 meter lebih. Debit airnya memang tidak besar dan deras namun itu bisa membuat kita basah-basahan di bawah air terjunnya karena rasanya seperti gemericik air hujan. Udah gitu airnya pun jernih, bersih dan segar banget.
Ketinggiannya sampe 70 meter

Debit airnya kecil tapi segar
Di tebing air terjunnya juga terdapat tanaman merambat berwarna hijau yang jika dari jauh terlihat seperti lumut. Sedangkan di bawahnya terbentuk sebuah kolam kecil yang menampung air dari aliran air terjunnya. Dari kolam ini, airnya langsung mengalir ke Sungai Asahan yang ada di seberang jalan.
Tanaman merambat di air terjunnya

Gemericik lembut air terjun

Sungai Asahan di sisi satunya
Kami pun menyempatkan untuk berfoto-foto sejenak di air terjun ini sambil sedikit bermain air, merasakan dingin dan segarnya air yang bersumber dari Pegunungan Bukit Barisan di Kawasan Sigura-Gura ini.

Puas bermain air, kami pun melanjutkan perjalanan lagi.

Brrrmmm... Brrrmmm...

Let's go

Note: Perjalanan ini dilakukan sebelum Covid-19 mewabah, stay at home ya sahabat. 
Air Terjun Aek Limut


Sang backpacker yang lebih imut


Wednesday, April 15, 2020

Danau Toba dari Paropo, Juara

Yok ke tempat selanjutnya kita, sebelum terlalu sore biar pulangnya nggak kemalaman.

Ajakku pada mereka yang masih asyik berfoto-foto di Taman Bunga Sapo Juma. Meski udah berfoto di semua sudut taman bunga tersebut, mereka belum juga berhenti. -_-

Brrmm.... Brmmmm....

Bang Fajar kembali mengendalikan mobil yang kami naiki. Tujuan kami selanjutnya adalah Paropo, sebuah desa kecil yang berada di tepian Danau Toba dan katanya punya pemandangan yang cukup indah. Untuk menuju desa ini, kami harus melewati jalur yang menurun curam dan berkelok-kelok hingga tiba di Desa Tongging. Setelah itu barulah menyusuri jalanan aspal yang berada di tepian Danau Toba.
Paropo
Memang sedikit ekstrim jalanannya, tapi pemandangannya juara, karena di sepanjang jalan kami bisa melihat indahnya Danau Toba di sisi kiri. Sedangkan di sisi kanan ada pemandangan perbukitan hijau yang menjulang tinggi. Cakep...

Lokasi Paropo

Paropo ini berada di Kecamatan Silalahisabungan dan udah masuk wilayah Kabupaten Dairi, Sumatera Utara. Untuk menuju ke tempat ini bisa masuk dari kawasan wisata Air Terjun Sipiso-Piso dan melalui Desa Tongging. Dari sana hanya sekitar 30 menit aja dan udah sampe di Paropo ini.

Lanskap Paropo

Begitu tiba di Paropo, aku langsung suka ama pemandangan tempat ini. Soalnya pemandangannya indah banget. Bahkan katanya Paropo ini Ranu Kumbolonya Sumatera Utara. Tapi untuk melihat momen itu sebaiknya di pagi hari, di saat matahari terbit. Karena kami tiba di tempat ini saat sore, jadi kurang terasa Ranu Kumbolo ala-alanya.

Meski begitu pemandangan di tempat ini masih tetap juara. Di depan terhampar pemandangan Danau Toba yang begitu luas, airnya yang jernih membuat aku bisa melihat ikan-ikan yang berenang di sela-sela bebatuan. Gemes sih liat tuh ikan, tapi tetap aja nggak bisa kutangkap dengan tangan.
Danau Toba dari Paropo, luas cuy
Di kejauhan juga terlihat Pulau Samosir, pulau vulkanik yang ada di tengah-tengah Danau Toba. Sedangkan di sekeliling terlihat perbukitan hijau yang memanjang mengelilingi Danau Toba. Perbukitan ini menjulang tinggi seolah-olah menjadi guardian bagi keindahan alam Danau Toba. Keren.... 
Bukit hijau yang menjulang tinggi



Satu hal yang menambah keindahan Paropo ini adalah adanya satu pulau kecil yang letaknya nggak jauh dari tepian danau. Untuk mencapai pulau kecil ini ada 3 opsi, yang pertama berenang sampe gempor lalu tenggelam. 🤣 Lalu yang kedua melalui jembatan kecil serta yang ketiga menggunakan getek alias rakit yang udah diikat tali.

Berhubung lokasi kami menyewa pondok kecil ini menyediakan getek, jadi cara terbaik buat ke pulau itu ya naik getek dan kata si Ibu yang punya pondok, naiknya gratis bolak balik sebagai bonus menyewa pondoknya. Mantap!

Pemandangan di pulau kecil ini juga cukup cantik. Di sekitaran pulau ada banyak batu-batu besar yang bertebaran. Dari sini juga bisa melihat Danau Toba dengan lebih luas lagi. Yang asyiknya lagi, di sini anginnya bertiup sepoi-sepoi. Jadi nyaman banget buat duduk santai menikmati pemandangan.
Pulau kecil di Paropo

Pemandangan dari pulaunya

Jembatan penghubung menuju pulau
Puas menikmati pemandangan dari pulau kecil ini, aku kembali ke pondok melalui jembatan.

Bang, fotoin kami dong!” Pinta Dewi dan pacarnya yang lagi duduk di ayunan.

Boleh.”

Cekrek... Cekrek...

Aku mengambil beberapa foto mereka. Setelah itu mereka pergi entah kemana. Aku kemudian duduk di kursi besi yang ada di depan ayunan tersebut, Sedangkan di atas rakit kulihat Bayu dan Putri berdua doang sedang menuju pulau.
Dewi dan pacarnya
Woy!! Jangan melamun aja Bang.” Ujar Selly mengagetkanku.

Ahahaha... Nggak melamun kok.” Balasku.

Selly kemudian duduk di sebelahku dan ikutan menatap senja yang perlahan turun di Danau Toba mengubah langit yang tadinya biru menjadi jinga pucat.

Ah.. sebentar lagi malam tiba di sini. 

Note: Perjalanan ini dilakukan sebelum Covid-19 mewabah, stay at home ya sahabat.
Selly, adiknya Bayu


Senja yang menyapa Paropo

Sang backpacker