Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts

Thursday, June 17, 2021

Rumah Pengasingan Bung Karno di Berastagi

Rumah Pengasingan Bung Karo di Berastagi
Rumah Pengasingan Bung Karno di Berastagi

Hai sahabat backpacker, setelah sebelumnya aku singgah di Masjid Lama Kabanjahe yang merupakan masjid pertama dan tertua di Tanah Karo, aku kemudian kembali melanjutkan perjalananku di Bumi Karo ini dan tujuanku selanjutnya adalah Rumah Pengasingan Bung Karno di Berastagi.

Baca juga: Masjid Lama Kabanjahe, Masjid Pertama dan Tertua di Tanah Karo

Alamat Rumah Pengasingan Bung Karno di Berastagi

Rumah Pengasingan Bung Karno terletak di Jalan Sempurna Desa Lau Gumba, Kecamatan Berastagi, Kabupaten Karo. Kalo dari Medan, rumah pengasingan ini terletak sebelum masuk ke Pasar Buah Berastagi dan simpangnya berada tepat sebelum Hotel Bukit Kubu. Dari persimpangan tersebut, rumah ini terletak sekitar 600 meter doang.

Sejarah Rumah Pengasingan Bung Karno

Berdasarkan sejarahnya, rumah bergaya Belanda ini dibangun pada tahun 1917, dulunya rumah ini adalah tempat tinggal seorang perwira Belanda. Pada Agresi Militer Belanda II, tepatnya pada tanggal 22 Desember 1948, tiga pemimpin Republik Indonesia, yaitu Bung Karno, Sjahrir dan Haji Agus Salim ditangkap Belanda di Yogyakarta dan dibuang ke Berastagi.

Mereka ditahan selama 12 hari di Berastagi dengan pengawasan ketat.. Namun karena masalah keamanan, saat itu di Tanah Karo ada basis perjuangan kemerdekaan yang dikenal dengan nama Laskar Rakyat, jadi Belanda memindahan mereka ke Parapat.

Meski hanya tinggal 12 hari di Berastagi, tetapi Bung Karno telah mendapat tempat khusus di hati masyarakat Karo. Bahkan mereka menjuluki Bung Karno sebagai Bapak Rakyat Sirulo yang berarti Bapak Lambang Kemakmuran Rakyat. 

Rumah Pengasingan Bung Karo di Berastagi
koleksi foto tua di dalam rumahnya
Rumah Pengasingan Bung Karo di Berastagi
Salah satu surat lama

Desain Arsitektur Rumah Pengasingan Bung Karno di Berastagi

Rumah Pengasingan ini dibangun dengan bangunan bergaya Belanda yang cukup kental. Rumahnya terbuat dari kayu jati dan berukuran 10x20 meter dengan cat putih dan seng berwarna merah. Di dalamnya terdapat beberapa ruangan seperti ruang tamu, kamar tidur, dapur dan kamar mandi.

Kondisi terkini Rumah Pengasingan Bung Karno di Berastagi

Saat ini Rumah Pengasingan Bung Karno di Berastagi masih terawat dengan baik. Bahkan keaslian furniturnya masih tetap terjaga seperti tempat tidur, lemari pakaian dan perabot lainnya. Di dalamnya juga ada foto-foto tua dan surat-surat lama milik beliau. Di pelataran depan rumah ini juga ada satu patung Bung Karno dari perunggu setinggi 7 meter dengan posisi duduk sebagai penanda bahwa rumah ini pernah menjadi saksi sejarah perjuangan Beliau. 

Rumah Pengasingan Bung Karo di Berastagi
Patung Bung Karno di pelataran rumah pengasingan
Rumah Pengasingan Bung Karo di Berastagi
Ada gazebo kecil di halaman rumahnya
Rumah pengasingan Bung Karno di Berastagi
Tempat tidur di dalam rumah pengasingan
Rumah Pengasingan Bung Karo di Berastagi
Meja dan kursi di dalam rumah

Hanya saja sekarang statusnya dijadikan sebagai Mess Pemprov Sumatera Utara sehingga cukup sulit untuk masuk ke dalam rumah ini dan butuh izin khusus. Untuk pengunjung umum, hanya dikasi izin untuk berfoto-foto di bagian depan rumah dan sekitaran Patung Bung Karno. 

Rumah Pengasingan Bung Karno di Berastagi
Sekarang menjadi Mess Pemprov

Padahal jika dijadikan sebagai museum atau bangunan wisata, tentu bisa menjadi tempat belajar sejarah tentang perjuangan Bung Karno dan para pahlawan lainnya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. 

Rumah Pengasingan Bung Karo di Berastagi
Rumah Pengasingan Bung Karno di Berastagi
Rumah Pengasingan Bung Karo di Berastagi
Backpacker ganteng dan unyu di pelataran rumah pengasingan

Wednesday, June 2, 2021

Masjid Lama Kabanjahe, Masjid Pertama dan Tertua di Tanah Karo

Masjid Lama Kabanjahe
Masjid Lama Kabanjahe

Hai sahabat backpacker, gimana kabarnya? Semoga sehat-sehat aja ya. Aamiin... Maaf ya, lama kagak keliatan, lama kagak ngeupdate cerita-cerita perjalanan. Soalnya beberapa waktu ini lagi sibuk persiapan ujian semester anak-anak.

Oh ya, selamat hari raya idul fitri ya teman-teman, mohon maaf lahir dan batin. 🙏

Baiklah, kali ini aku mau berbagi cerita lanjutan setelah sebelumnya aku mengunjungi Danau Lau Kawar yang indah yang berada di kaki Gunung Sinabung.

Setelah mengunjungi danau tersebut, aku kembali ke Kota Kabanjahe, ibukota dari Kabupaten Karo. Di kota ini rencananya aku mau mengunjungi Masjid Lama Kabanjahe yang konon katanya masjid pertama dan tertua di Tanah Karo, ya sekalian mau sholat ashar juga di sana.

Alamat Masjid Lama Kabanjahe

Masjid Lama Kabanjahe beralamat di Jalan Masjid, Kelurahan Lau Cimba, Kabanjahe, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Masjid ini berada di belakang Pasar Kabanjahe dan agak sulit untuk kutemuin. Soalnya aku udah nanya ke beberapa penduduk di sana tapi pada jawab kagak tau dan malah ngarahin ke Masjid Agung Kabanjahe yang merupakan masjid terbesar di Tanah Karo.

Untuk nemuin masjid ini, aku kemudian nyoba nyusurin jalanan Pasar Kabanjahe dan berharap nemuin masjid ini. Setelah 2 kali bolak balik, akhirnya aku nemuin juga atap masjid berwarna hijau yang mengintip dari balik atap-atap pasar.

Sejarah Masjid Lama Kabanjahe

Berdasarkan sejarahnya, Masjid Lama Kabanjahe dibangun pada tahun 1902 dan selesai dibangun pada tahun 1904. Masjid ini merupakan masjid pertama dan tertua di Tanah Karo.

Pembangunannya diinisiasi oleh para pedagang Islam yang berdagang di Tanah Karo. Karena saat ini belum ada satu pun masjid di Tanah Karo sehingga para pedagang Islam berniat untuk membangun tempat ibadah tersebut.

Niat tersebut kemudian disampaikan kepada Sibayak Lingga, pemimpin adat saat itu. Niat baik itu ternyata diterima dengan baik oleh Sibayak Lingga dan dengan bantuan dana dari Sultan Langkat, akhirnya berdirilah masjid pertama dan tertua di Tanah Karo. 

Masjid Lama Kabanjahe
Dibangun tahun 1902 hingga 1904

Arsitektur Masjid Lama Kabanjahe

Masjid Lama Kabanjahe memiliki arsitektur seperti masjid-masjid pada umumnya. Bangunannya yang berwarna hijau dan kuning itu terbuat dari kayu dan papan sedangkan atapnya bertingkat tiga. Di bagian serambinya dikelilingi pagar hijau dan terdapat beberapa kursi dan satu kentongan dari kayu. 

Masjid Lama Kabanjahe
Pelataran masjid
Masjid Lama Kabanjahe
Kentongan kayu di serambi masjid
Masjid Lama Kabanjahe
Ada kursi-kursi juga
Masjid Lama Kabanjahe
Ruang dalam masjid

Di bagian dalamnya aku melihat bangunan masjid ini cukup sederhana dengan beberapa tiang kecil sebagai pilar. Ruang ibadahnya terbagi dua dengan satu bagian untuk tempat ibadah pria, satu bagian lagi untuk tempat ibadah wanita.

Di bagian depan ada satu ruang kecil untuk tempat imam dan dilengkapi mimbar sederhana juga. Di sebelahnya juga ada kaligrafi dengan gambar Masjid Lama Kabanjahe. Sedangkan pada bagian belakang juga ada tiga Al-Qur’an berukuran besar. Dan secara umum, arsitektur masjid ini masih asli seperti saat dibangun dulu. 

Masjid Lama Kabanjahe
Mimbar masjid
Masjid Lama Kabanjahe
Kaligrafi dan foto masjid
Masjid Lama Kabanjahe
Al-Qur'an besar

Masjid Lama Kabanjahe sebagai Pusat Dakwah

Di bagian belakang Masjid Lama Kabanjahe ini juga ada satu ruangan tambahan yang dulunya dijadikan sebagai pusat pengajian dan belajar agama Islam. Karena pada awal berdirinya, masjid ini juga menjadi pusat dakwah dan penyebaran Islam di Kabanjahe dan daerah sekitarnya.

Namun saat ini aktifitas keagamaan di masjid ini udah mulai berkurang karena udah ada Masjid Agung Kabanjahe yang lebih besar dan berdiri di pusat kota Kabanjahe. Saat aku di sini, aku cuma nemuin satu cewek yang sedang asyik mengaji Al-Qur’an. Suaranya lembut dan merdu cuy. 

Masjid Lama Kabanjahe
Backpacker ganteng dan unyu di pelataran Masjid Lama Kabanjahe

Sunday, May 2, 2021

Museum Letjen Jamin Gintings di Tanah Karo

Museum Letjen Jamin Gintings
Museum Letjen Jamin Gintings

Brmmm..... brrmmm....

Aku kembali memacu sepeda motorku setelah sebelumnya sempat singgah sebentar di Air Terjun Lae Pendaroh yang berada tepat di pinggir jalan yang menghubungkan Samosir dengan Sidikalang.

Baca juga: Air Terjun Lae Pendaroh, Air Terjun Unik di Kabupaten Dairi

Kuarahkan sepeda motorku ke arah Kota Sidikalang, ibukota Kabupaten Dairi. Namun di satu pertigaan, sebelum masuk ke dalam kota, aku membelok ke arah kanan, ke arah Kabupaten Karo. Dari sana jalanannya didominasi jalanan lurus dan di kanan kirinya ditumbuhi hutan pinus. Suasananya yang sepi membuatku bisa memacu kecepatan motor dengan cukup kencang, brmmm... brmmmm...

Sekitar satu jam kemudian aku pun tiba pertigaan Merek, Tanah Karo. Namun setibanya di sana, hujan turun sangat deras. Dinginnya air hujan membuatku terpaksa berteduh di teras sebuah ruko yang sedang tutup. Sesekali percikan air hujan yang tertiup angin membuatku kembali merapatkan jaket yang kukenakan. Meski rasanya sia-sia karena dinginnya tetap terasa merasuk ke dalam tulang.

Akhirnya setelah satu jam berlalu, hujan tersebut pun reda, bahkan langitnya terlihat kembali biru dan bersih. Aku kembali memacu sepeda motorku ke arah Kota Kabanjahe, ibukota Kabupaten Karo.

Setibanya di Desa Suka, aku lantas berbelok ke kiri, ke sebuah museum pahlawan nasional yang bernama Museum Letjen Jamin Gintings.

Alamat Museum Letjen Jamin Gintings

Museum Letjen Jamin Ginting beralamat di Desa Suka, Kecamatan tiga Panah, Kabupaten Karo. Desa ini merupakan desa kelahiran dari Pahlawan Nasional Letjen Jamin Gintings. Kalo dari Kota Kabanjahe, museum ini berjarak sekitar 8 km atau 20 menit perjalanan.

Letjen Jamin Gintings

Emang siapa sih Letjen Jamin Gintings ini?

Letjen Jamin Gintings adalah salah satu pahlawan nasional yang berasal dari Sumatera Utara. Beliau lahir di Desa Suka, Kecamatan Tiga Panah, Kabupaten Karo pada tanggal 12 Januari 1921.

Selama hidupnya, beliau udah menyandang berbagai jabatan seperti Komandan Resimen, Komandan Pangkalan Tentara dan Teritorium, Panglima Tentara danTeritorium Bukit Barisan di Sumatera Utara dan menjadi Asisten II Menteri Panglima Angkatan Darat dan Inspektur Jenderal Angkatan Darat di Jakarta. Selain itu beliau juga pernah menjadi anggota DPR dan menjadi Seketaris Bersama Golongan Karya. Kemudian Beliau juga pernah menjadi Ketua Diskusi Luar Negeri Indonesia dan Ketua Dewan Angkatan 45 serta menjadi Duta Luar Biasa Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Negara Kanada.

Selama menjabat, beliau juga mendapat Bintang Kartika Eka Paksi Pratama dan Bintang Mahaputera Utama. Atas jasa-jasanya beliau diangkat menjadi pahlawan nasional pada tanggal 7 November 2014. Dan untuk mengenang jasa kepahlawanannya maka dibangunlah museum yang bernama lengkap Museum Mahaputera Utama Letjen Jamin Gintings di desa kelahirannya. 

Museum Letjen Jamin Gintings
Foto Letjen Jamin Gintings
Museum Letjen Jamin Gintings
Sejarah singkat Letjen Jamin Gintings
Museum Letjen Jamin Gintings
Ijazah dan penghargaan

Arsitektur Museum Letjen Jamin Gintings

Bangunan museum ini cukup mencolok dan unik, bentuknya memanjang seperti kulit kacang tanah dan didominasi warna silver. Konon desain bangunan museum ini dianalogikan seperti perjuangan Letjen Jamin Gintings yang pantang menyerah dalam melawan pendudukan Jepang dan Agresi Militer Belanda dan tak pula melupakan tanah kelahirannya. Yap! Seperti kulit kacang yang tetap setia melindungi isinya.

Di bagian depan museumnya juga terdapat satu patung Letjen Jamin Ginting berukuran besar. Di sekitarnya ad apula taman bunga berwarna-warni yang membuat pemandangannya jadi makin indah. Di halaman museum juga ada beberapa kendaraan taktis militer. Serta di bagian belakang museum ada pula both-both yang menjual berbagai macam pernak-pernik hingga oleh-oleh khas Tanah Karo. 

Museum Letjen Jamin Gintings
Patung Letjen Jamin Gintings
Museum Letjen Jamin Gintings
Kendaraan militer
Museum Letjen Jamin Gintings
Both oleh-oleh di sisi museum

Isi Museum Letjen Jamin Gintings

Setelah membayar tiket masuknya, aku pun segera menjejalahi bagian dalam museum ini. Museumnya terdiri atas dua lantai. Pada lantai satu, terdapat beragam benda-benda dari kebudayaan masyarakat Karo seperti peralatan hidup seperti berbagai senjata dan peralatan bertani, alat-alat rumah tangga, alat musik tradisional, alat tenun hingga pakaian adat Karo. 

Museum Letjen Jamin Gintings
Alat musik tradisional Karo
Museum Letjen Jamin Gintings
Alat tenun

Beranjak ke lantai dua, di lantai ini berisi berbagai maacaam barang koleksi yang berhubungan dengan Letjen Jamin Ginting. Pada dindingnya terdapaat panel-panel yang berisi sejarah hidup Letjen Jamin Gintings dan perjuangannya semasa hidupnya. Lalu juga ada koleksi bintang jasa dan penghargaan serta foto-foto tua yang berhubungan dengan beliau. Selain itu juga ada koleksi seperti tas dinas, tongkat komando, pakaian dinas, hingga perpustakaan yang berisi buku-buku yang berhubungan dengan beliau. Kayaknya kalo ada yang mau nyusun skripsi tentang beliau, boleh juga berkunjung ke sini karena datanya cukup lengkap. 

Museum Letjen Jamin Gintings
Tongkat komando peninggalan beliau
Museum Letjen Jamin Gintings
Perpustakaan di dalam museum
Museum Letjen Jamin Gintings
Foto-foto tentang beliau

Puas menjelajahi tiap sudut musuem ini, aku kemudian melanjutkan lagi perjalanan. Brmmm... brmmmm...

Tiket Masuk: Rp. 5000 

Museum Letjen Jamin Gintings
Backpacker yang ganteng dan unyu di depan museum

Monday, March 8, 2021

Jembatan Tano Ponggol, Jembatan Penghubung Samosir dengan Sumatera

Jembatan Tano Ponggol
Jembatan Tano Ponggol

Hai sahabat backpacker, gimana kabarnya? Semoga sehat selalu ya. Aamiin.... dah lama juga nih kagak update, soalnya beberapa waktu belakangan ini agak sedikit sibuk buat beradaptasi ama lingkungan yang baru dan sibuk juga buat persiapan ujian anak kelas 3 nya. Selain itu, hp yang biasa kujadiin sebagai hotspot juga dinyatakan tewas, setelah berjuang bersama selama 4 tahunan. Jadi gitu deh, baru sekarang bisa update lagi.

Back to story!

Setelah sebelumnya aku menikmati indahnya satu danau unik di Pulau Samosir yang bernama Danau Sidihoni alias si Danau di Atas Danau, -nama aliasnya keren uy- aku kembali melanjutkan petualanganku di Bumi Samosir. Tujuanku kali ini adalah Jembatan Tano Ponggol, sebuah jembatan yang menjadi satu-satunya jembatan penghubung Pulau Samosir dengan daratan Pulau Sumatera.

Baca juga: Danau Sidihoni, Danau di Atas Danau di Pulau Samosir

Jadi dengan adanya jembatan ini, kita bisa ngunjungi Pulau Samosir via darat selain pake kapal ferry dari pelabuhan Parapat, Tigaras, Muara maupun Balige.

Alamat Jembatan Tano Ponggol

Jembatan ini beralamat di jalan utama Pulau Samosir, Pangururan, Kabupaten Samosir. Jadi dari Danau Sidihoni, aku kembali lagi ke arah Kota Pangururan, ibukota Kabupaten Samosir. Dari sana aku kemudian berbelok ke kiri, ke arah Jalan Lintas Tele. Jembatannya terletak tak jauh dari Kota Pangururan.

Sejarah Tano Ponggol

Berdasarkan sejarahnya, ternyata pada zaman dahulu kala, Pulau Samosir dengan Pulau Sumatera nggak terpisah sepenuhnya. Kedua pulau ini menyatu di wilayah yang bernama Tanah Genting dengan panjang sekitar 1,5 kilometer. Jadi dulunya masyarakat sekitar harus menyeret perahunya untuk mencapai sisi danau yang satu lagi.

Nah, pada tahun 1905 Belanda kemudian membangun terusan alias kanal sungai di Tanah Genting ini agar perahu mereka bisa lewat tanpa harus menyeret perahu. Di atas kanalnya juga dibangun satu jembatan kayu sebagai penghubung Pulau Sumatera dan Pulau Samosir yang dilengkapi juga dengan pos pengamanan sehingga memutus jalur pejuang di dalam pulau Samosir dengan pejuang yang ada di luar.

Btw, saat itu Belanda emang lagi berperang ama Sisingamangaraja XII 

Jembatan Tano Ponggol
Kanal Tano Ponggol
Jembatan Tano Ponggol
Banyak coretan cuy

Rencana Masa Depan Tano Ponggol

Saat ini Jembatan Tano Ponggol udah menjadi satu jembatan beton berwarna kuning. Di kanan kirinya terlihat terusan yang menghubungkan kedua sisi danau.

Sekarang ini juga ada pembangunan kanal dan jembatan Tano Ponggol. Rencananya kanalnya akan diperlebar sehingga bisa dilalui dengan kapal. Jembatannya pun akan dibangun dengan lebih baru dan lebih megah. Saat saya berkunjung kemarin, di sisi kanal udah ada beberapa alat berat yang mulai bekerja. Semoga rencana pembangunannya bisa segera selesai agar menjadi wisata baru yang menarik di Pulau Samosir. Aamiin... 

Jembatan Tano Ponggol
Ada bukit di depan jembatannya
Jembatan Tano Ponggol
Ada si ganteng yang unyu di Jembatan Tano Ponggol

Sunday, January 17, 2021

Museum Huta Bolon Simanindo di Pulau Samosir

Museum Huta Bolon Simanindo
Museum Huta Bolon Simanindo

Hai sahabat backpacker, setelah sebelumnya aku udah ngunjungi objek wisata Batu Kursi Raja Siallagan di Huta Siallagan, Desa Ambarita, Samosir, aku pun kembali melanjutkan petualanganku di Pulau Samosir ini. Tujuanku selanjutnya adalah Museum Huta Bolon Simanindo yang terletak tidak jauh dari Huta Siallagan.

Baca juga: Batu Kursi Raja Siallagan, Wisata Seram Pulau Samosir

Alamat Museum Huta Bolon Simanindo

Museum Huta Bolon Simanindo beralamat di Jalan Pelabuhan Simanindo, Desa Simanindo, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara. Museum ini berjarak sekitar 16 km dari Huta Siallagan. Oh ya, museum ini juga deket banget ama Pelabuhan Simanindo, jadi bisa sebagai salah satu alternatif wisata kalo ke Pulau Samosir melalui Pelabuhan Simanindo. 

Museum Huta Bolon Simanindo
Jalan ke Pelabuhan Simanindo

Tiket Masuk Museum Huta Bolon Simanindo

Tiket masuk ke Museum Huta Bolon Simanindo adalah Rp. 10.000 perorang. Menurutku ini adalah tiket wisata termahal di Pulau Samosir. Karena kebanyakan objek wisata di Pulau Samosir tiket masuknya kisaran Rp. 2000 sampe Rp. 5000 doang dan banyak juga yang seikhlasnya bahkan yang gratis. Jadi tiket masuk ke museum ini tergolong mahal sih menurutku untuk ukuran Pulau Samosir. 

Museum Huta Bolon Simanindo
Tempat tiket dan informasi

Jadwal Buka Museum Huta Bolon Simanindo

Museum ini buka setiap hari sejak pukul sembilan pagi hingga pukul lima sore.

Koleksi Museum Huta Bolon Simanindo

Setelah membayar tiket masuknya, aku pun segera masuk ke dalam museum ini untuk melihat-lihat koleksi yang ada di dalam museumnya. Seperti museum Batak pada umumnya, museum Huta Bolon Simanindo juga punya bentuk bangunan berupa rumah adat Batak Toba. Hanya saja dindingnya dibuat dari bilah-bilah papan sehingga cahaya matahari bisa masuk lebih banyak ke bagian dalam museumnya. Mungkin bangunannya lebih mirip sopo, tempat pengumpunan hasil panen dan ulos milik Batak Toba. 

Museum Huta Bolon Simanindo
Bangunan Museum Huta Bolon Simanindo

Museum Huta Bolon Simanindo ini adalah rumah adat warisan dari Raja Sidaruk dan sejak tahun 1969 udah dijadikan sebagai museum yang bebas dikunjungi wisatawan.

Di bagian dalam museum terdapat berbagai macam barang koleksi dari peninggalan leluhur orang Batak seperti parlahaan, pustaka laklak, tunggal panaluan, solu bolon. Kemudian juga ada berbagai macam alat-alat rumah tangga hingga peralatan berburu, bertani dan alat-alat untuk upacara adat yang kebanyakan nggak kuketahui apa fungsinya. 😂 

Museum Huta Bolon Simanindo
Bagian dalam museum
Museum Huta Bolon Simanindo
Berbagai koleksi Museum Huta Bolon Simanindo
Museum Huta Bolon Simanindo
Koleksi ulos Batak
Museum Huta Bolon Simanindo
Tongkat Batak
Museum Huta Bolon Simanindo
Tempayan dan nggak tau yang itu apaan

Setelah puas melihat berbagai barang koleksi yang ada di dalam Museum Huta Bolon Simanindo, aku pun keluar dari museum tersebut. Namun sebelum menuju tempat parkir, mataku malah melihat sebuah gerbang batu yang menarik.

Aku lantas masuk ke dalam gerbang tersebut dan ternyata di dalamnya terdapat perkampungan Batak dengan beberapa rumah adat. Sepertinya rumah adat ini udah berusia cukup tua. Di depan rumah adatnya juga ada boneka sigale-gale. Sayangnya saat itu rumah-rumah adatnya sedang direnovasi, jadi aku cuma melihat sekilas aja. 

Museum Huta Bolon Simanindo
Gerbang batu yang bikin penasaran
Museum Huta Bolon Simanindo
Rumah adat di sebelah museum

Setelah itu, akupun kembali ke parkiran karena hari sudah beranjak siang dan aku masih ingin mengunjungi danau unik di Pulau Samosir yang dinamain Danau Sidihoni, Danau Di Atas Danau. Brrmmm... brrmmm... 

Museum Huta Bolon Simanindo
Backpacker ganteng dan unyu di Museum Huta Bolon Simanindo

To be continued...