Wednesday, May 20, 2020

Berhenti Sejenak di Simpang Lima Ratu Samban

Note:
- Perjalanan ini dilakukan sebelum covid-19 mewabah
- Tetap di rumah ya kawan-kawan

Hai sahabat backpacker..

Maaf ya udah lama aku nggak update, soalnya jaringan Telkomsel bermasalah terus untuk beberapa hari ini dan itu bikin sulit buat update. Ngeselin banget cuy.
Simpang Lima Ratu Samban
Baiklah, setelah sebelumnya aku mengunjungi Rumah Ibu Fatmawati yang ada di Jalan Fatmawati, Kota Bengkulu, aku kemudian melanjutkan perjalanan di Kota Bengkulu. Aku lantas berjalan kaki menuju Simpang Lima Ratu Samban yang berjarak palingan 100 meter doang dari Rumah Ibu Fatmawati.

Simpang Lima Ratu Samban ini terletak di Anggut Atas, Kecamatan Ratu Samban, Kota Bengkulu. Simpang Lima ini juga merupakan pusat kota Bengkulu dan jalannya menghubungkan ke berbagai tempat-tempat yang menarik di Kota Bengkulu seperti ke Rumah Ibu Fatmawati, Rumah Pengasingan Bung Karno, Pantai Panjang, Masjid Jamik Bengkulu, Danau Dendam, bahkan menghubungkan dengan jalan lintas menuju keluar Kota Bengkulu.
Berada di pusat kota Bengkulu
Ratu Samban

Simpang lima ini dinamakan Simpang Lima Ratu Samban. Ratu Samban sendiri adalah salah satu tokoh pahlawan lokal di Bengkulu. Nama aslinya adalah Mardjati, salah satu depati Negeri Sembilan alias negeri Bintunan. Beliau diberikan gelar Ratu Samban oleh para tetua masyarakat karena telah membela kepentingan rakyat yang hidup kesulitan karena Kolonial Belanda.

Ketika itu Belanda menarik pajak hingga 30 ribu gulden dan hal tersebut sangat memberatkan masyarakat. Karena itu, pada tahun 1873, Ratu Samban membantai dua orang petinggi Kolonial Belanda di atas rakit yang ingin menyeberang ke Bintunan untuk mengontrol daerah dan menarik pajak. Sejak itu, beliau diburupihak Belanda hingga diberi harga buronan.

Ada banyak legenda dan cerita yang terjadi sejak ia diburu Kolonial Belanda. Hingga akhirnya pada 24 Maret 1889 beliau berhasil ditangkap Belanda dan dieksekusi di atas rakit seperti petinggi Belanda tersebut. Oleh masyarakat, beliau pun dimakamkan di Desa Bintunan, Kecamatan Batik Nau.

Monumen Ibu Fatmawati

Sebelumnya, Simpang Lima Ratu Samban ini bisa ditandai dengan adanya persimpangan lima jalan dan terdapat tugu bundaran di tengahnya. Di tugu tersebut terdapat patung seseorang membawa bendera dan sedang menunggang seekor kuda.
Namun sekarang patung kuda tersebut telah diganti dengan patung Ibu Fatmawati yang sedang menjahit Bendera Merah Putih sebagai bentuk penghargaan bagi jasa Ibu Fatmawati. Patung ini merupakan karya seniman Bali Nyoman Nuar.
Karya seniman Bali, Nyoman Nuar
Berbentuk Ibu Fatmawati yang sedang menjahit merah putih
Peresmiannya dilakukan langsung oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 5 Februari 2020, tepat pada peringatan hari ulang tahun Ibu Fatmawati dan tepat dua hari sebelum kedatanganku ke Bengkulu. Ya, nggak rezeki ketemu Bapak Presiden. Wkwkwkwk

Setelah selesai mengagumi patung Ibu Fatmawati yang kata penduduk setempat sebaiknya patungnya dicat, terutama patung kain merah putihnya, aku pun melanjutkan langkah menuju Masjid Jamik Bengkulu. Soalnya azan zhuhur udah berkumandang.
Simpang Lima Ratu Samban

Ada backpacker imut yang selfie dengan latar Simpang Lima Ratu Samban

Friday, May 15, 2020

Mengunjungi Rumah Ibu Fatmawati di Bengkulu

Note:
- Perjalanan ini dilakukan sebelum covid-19 mewabah
- tetap di rumah ya kawan-kawan

Hai sahabat backpacker...

Setelah sebelumnya aku mengunjungi Rumah Pengasingan Bung Karno selama beliau diasingkan di Bengkulu yang menjadi saksi perjuangan Bung Karno melawan penjajahan Belanda dan saksi kisah cintanya dengan Ibu Fatmawati, aku kemudian melanjutkan petualangan di Kota Bengkulu dengan mengunjungi Rumah Ibu Fatmawati.
Rumah Ibu Fatmawati
Alamat Rumah Ibu Fatmawati

Rumah Ibu Fatmawati ini berada di Jalan Fatmawati, Kelurahan Penurunan, Kecamatan, Ratu Samban, Kota Bengkulu. Letak rumahnya nggak jauh dari dari Rumah Pengasingan Bung Karno dan dekat banget ama Simpang Lima Ratu Samban, bahkan dari teras rumahnya bisa terlihat simpang limanya.

Tapi menurut bapak penjaga rumah ini, rumah asli Ibu Fatmawati bukan di sini, tapi di lokasi yang sekarang menjadi gedung Bank BNI. Rumah ini sebenarnya milik kerabat dari Ibu Fatmawati, entah pamannya entah kakeknya. Katanya sih pemerintah Bengkulu saat ini berusaha mengembalikan rumah Ibu Fatmawati ke lokasi aslinya, namun hal itu masih dalam proses. Untuk saat ini, di rumah inilah tempat untuk mengenal Ibu Fatmawati lebih jauh.

Tiket Masuknya

Seperti biasa, harga tiket masuk ke objek wisata sejarah itu selalu murah dan harga tiket masuk ke Rumah Ibu Fatmawati ini cuma Rp. 5000 doang perorangnya, murah meriah cuy.

Arsitektur dan Koleksi di Rumah Ibu Fatmawati

Rumah Ibu Fatmawati ini berupa rumah panggung dengan bahan bangunannya terbuat dari kayu. Terdapat teras di bagian depannya, dari teras ini pemandangannya cukup asyik juga karena bisa melihat halamannya yang dihiasi patung setengah badan Ibu Fatmawati hingga pemandangan kendaraan lalu lalang menuju simpang lima. Anginnya juga cukup enak di teras ini, adem cuy. 
Berbentuk rumah panggung

Teras rumahnya
Aku kemudian beranjak ke bagian dalam rumah, di sini terdapat sepasang foto Bung Karno dan Ibu Fatmawati yang mengapit lorong menuju ke ruang dalam. Lalu juga ada lukisan dan foto-foto tua Ibu Fatmawati hingga sejarah singkat tentang Ibu Fatmawati.
Bagian dalam Rumah Ibu Fatmawati

Lukisan Ibu Fatmawati

Foto-foto tua Ibu Fatmawati

Sejarah singkat Ibu Fatmawati
Di ruangan sebelah dalam terdapat dua kamar, yang satunya berisi sebuah ranjang besi lengkap dengan kelambu putihnya, mungkin tempat tidur Ibu Fatmawati. Sedangkan di kamar satunya lagi terdapat sebuah mesin jahit tua. Mesin jahit inilah yang dipakai Ibu Fatmawati untuk menjahit bendera Merah Putih yang dikibarkan pada proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945. Sungguh mesin jahit yang sangat bersejarah bagi kemerdekaan Indonesia.
Ranjang besi dengan kelambu putih

Mesin jahit yang digunakan untuk menjahit bendera kemerdekaan
Tak terasa azan zhuhur berkumandang, aku pun segera pamit untuk melanjutkan perjalanan ke Masjid Jamik Bengkulu, salah satu masjid tua dan bersejarah di Kota Bengkulu. Oh ya, sebelum itu bapak penjaga juga menawari untuk berfoto di antara foto Bung Karno dan Ibu Fatmawati, baiklah. Cekrek!
Sang backpacker difotoin bapak penjaga Rumah Ibu Fatmawati

Wednesday, May 13, 2020

Wisata Sejarah Di Rumah Pengasingan Bung Karno Di Bengkulu

Hoammmm.....

Pukul 09.15 pagi dan aku baru bangun. Sebenarnya jam 7 tadi udah bangun sih saat abang staff penginapan membawakan sarapan. Tapi setelah itu aku tertidur lagi karena ngantuk pake banget gara-gara jam 3 pagi baru tiba di Kota Bengkulu. Luar biasa. 
Rumah Kediaman Bung Karno Pada Waktu Diasingkan Di Bengkulu

Setelah bersih-bersih dan menikmati sarapan yang berupa sepiring nasi goreng dan teh manis hangat yang udah dingin lagi, aku pun segera bersiap-siap untuk menjelajahi objek wisata yang ada di Kota Bengkulu ini.

Meski tujuan utamaku pergi ke Bengkulu untuk mengikuti ujian, tapi rasanya nggak afdol aja setelah melakukan perjalanan sejauh 1200-an kilometer dari rumah tapi nggak ngunjungi objek wisatanya. Oleh karena itu sekarang aku pun berangkat menuju tempat-tempat menarik yang ada di kota ini. Dan tempat pertama yang ku kunjungi adalah Rumah Pengasingan Bung Karno, Presiden Republik Indonesia yang pertama.
Rumah Pengasingan Bung Karno di Bengkulu
Alamat Rumah Kediaman Bung Karno

Rumah yang menjadi tempat pengasingan Bung Karno ketika dibuang Belanda ke Bengkulu ini beralamat di Jalan Soekarno Hatta, Kelurahan Anggut Atas, Kecamatan Ratu Samban, Kota Bengkulu. Lokasinya nggak jauh dari penginapanku di Tropicana Guest House dan juga nggak jauh dari pusat kota Bengkulu maupun dari Tugu Simpang Lima Ratu Samban.

Harga Tiket

Tiket masuknya murah banget cuy, hanya Rp. 3000 doang perorangnya. Inilah enaknya ngunjungi bangunan peninggalan sejarah, dapat ilmu dengan harga yang sangat terjangkau.
Cuma Rp. 3000 aja cuy
Sejarah Rumah Pengasingan Bung Karno di Bengkulu

Bung Karno diasingkan di Bengkulu sejak tahun 1938 hingga tahun 1942 setelah sebelumnya beliau diasingkan di Ende, Flores karena pergerakan politiknya dalam melawan penjajahan Belanda. Di Bengkulu beliau ditempatkan di sebuah rumah milik seorang pedagang Tionghoa yang disewa oleh pihak Belanda.

Awalnya rumah ini berada di pinggiran kota Bengkulu, namun seiring perkembangan jaman dan perluasan kota, rumah ini sekarang berada di pusat kota Bengkulu.

Di awal pengasingannya di Bengkulu, Soekarno sempat ditakuti oleh masyarakat karena takut membawa pembaharuan yang tidak disukai masyarakat. Namun Bung Karno tak menyerah, selama di Bengkulu, beliau aktif mengajar di sekolah agama, lalu merenovasi Masjid Jami' Bengkulu, hingga membentuk grup pertunjukan musik dan drama Monte Carlo. Melalui pertunjukan tersebut Bung Karno memasukkan nilai-nilai nasionalisme. Pinter...

Btw, Bung Karno juga bertemu dan jatuh cinta pada Ibu Fatmawati selama masa pengasingannya di Bengkulu. Ibu Fatmawati ini kemudian menjadi ibu negara Republik Indonesia yang pertama dan yang menjahit Bendera Merah Putih yang dikibarkan saat proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945.

Arsitektur Rumah Pengasingan Bung Karno di Bengkulu

Setelah membeli tiket masuknya yang murah meriah, aku pun segera menjelajahi bagian-bagian dari rumah kediaman Bung Karno selama diasingkan di Bengkulu ini. Oh ya, ini rumah pengasingan Bung Karno ketiga yang kukunjungi setelah sebelumnya aku pernah mengunjungi rumah pengasingan Bung Karno di Berastagi dan Parapat, Sumatera Utara.

Rumah pengasingan ini memadukan arsitektur Eropa dengan Tionghoa. Bentuk rumahnya terlihat seperti bangunan Tionghoa namun jendelanya khas Eropa. Rumah ini juga tidak begitu besar, di dalamnya terdapat beberapa ruangan dan beberapa barang koleksi peninggalan Bung Karno.
Arsitektur Eropa campur Tionghoa

Bangunannya masih asli dan terawat

Termasuk bangunan cagar budaya
Di dalam rumah ini terdapat ranjang besi tempat tidur Bung Karno, koleksi buku-buku Bung Karno berbahasa Belanda, seragam grup Monte Carlo, lemari buatan Bung Karno, meja makan, sepeda ontel dan lain-lain. Selain itu di rumah ini juga terdapat banyak foto-foto bersejarah dan informasi tentang perjuangan Bung Karno dalam meraih kemerdekaan Indonesia bersama para pejuang lainnya. 
Ruang Kerja Bung Karno

Sejarah perjuangan Bung Karno

Kursi di salah satu ruangan

Karya Bung Karno

Sepeda onthel Bung Karno

Ada si ganteng yang unyu di depan Rumah Pengasingan Bung Karno

Monday, May 11, 2020

Menginap di Tropicana Guest House Bengkulu


Note:
- Perjalanan ini dilakukan sebelum covid-19 mewabah
- Tetap di rumah ya teman-teman

Hai sahabat backpacker...

Seperti di ceritaku yang sebelumnya, aku tiba di Kota Bengkulu jam 3 pagi. Dan setelah diantar oleh bapak ojek, aku pun tiba di depan penginapan yang udah ku pesan. Tapi saat sampai di sana, pintu penginapannya tertutup dan lampunya gelap.
Tropicana Guest House
Note: Lupa ambil foto dengannya, jadi foto ini kuambil di google map
Permisi,” Ucapku sambil berharap ada yang membukakan pintu.

Permisi,”  Ucapku sekali lagi.

Dan alhamdulillah, tiba-tiba lampunya menyala dan seorang staff penginapan membukakan pintu. Ternyata dia tertidur di meja resepsionis karena menungguku setelah sebelumnya kukabari kalo aku bakal telat karena insiden bus. Wajar sih dia tertidur, soalnya ini guest house, bukan hotel yang staffnya siap 24 jam.

Abang staff ini pun segera mengurus cek in ku dan memberikan kunci kamar. Buru-buru aku meletakkan barang di kamar, kemudian membersihkan badan dan segera istirahat. Ahh.. nyamannya berbaring di tempat tidur setelah dua malam tidur di kursi bus.

Alamat Tropicana Guest House

Tropicana Guest House, itulah nama penginapan yang kupilih sebagai tempat istirahatku selama di Kota Bengkulu, penginapan ini beralamat di Jalan M. Hasan, Pasar Baru, Kecamatan Teluk Segara, Kota Bengkulu.

Penginapan ini letaknya tak jauh dari pusat kota dan juga nggak jauh dari beberapa objek wisata seperti Rumah Pengasingan Bung Karno, Benteng Marlborough dan Simpang Lima Ratu Samban. Bahkan dari depan hotel juga bisa melihat pantai dan samudera yang ada di bawah sana.

Fasilitas Tropicana Guest House

Fasilitas yang tersedia di Tropicana Guest House ini cukup lengkap juga. Dengan harga Rp. 110.000 permalam untuk kamar standard, aku mendapatkan satu kamar dengan tempat tidur yang cukup luas, juga ada ac dan tv nya. Kemudian juga tersedia sajadah serta handuk yang bersih. 
Kamar standard di Tropicana Guest House

Tempat tidurnya
Tv, AC dan meja
Dengan harga segitu, aku juga mendapatkan fasilitas sarapan yang bisa dipilih antara nasi goreng atau roti. Tentu aja aku memilih nasi goreng, selain porsinya lebih banyak, rasanya juga nggak puas kalo nggak makan nasi. Sarapan ini tiap paginya diantar ke kamar masing-masing. So, nggak harus repot lagi buat sarapan di pagi hari. Selain itu guest house ini juga menyediakan dapur bersama serta kulkas, di dapur ini juga ada air minum, kopi, teh dan gula yang bisa digunakan bersama.
Nasi goreng untuk sarapan
Untuk kamar mandinya memang terpisah, namun kamar mandinya bersih dan airnya pun melimpah, bahkan air hangatnya juga mengalir lancar dari shower. Hanya saja saat itu sabun dan shamponya tidak tersedia. Sedangkan untuk kamar yang lebih mahal, kamar mandinya ada di dalam.
Kamar mandinya
Guest house ini juga dilengkapi tempat parkir berpagar bagi yang membawa kendaraan, sehingga cukup aman. Lalu juga ada ruang santai yang dilengkapi beberapa buku dan asbak rokok serta yang terpenting adalah tersedianya gratis wifi.

Namun yang paling mengesankan dari guest house ini bagiku adalah pelayanannya yang sangat luar biasa. Staffnya sangat ramah dan baik hati, bahkan aku yang telat cek in hingga jam 3 pagi pun masih dilayani dengan ramah. Sungguh luar biasa menurutku.

Saturday, May 9, 2020

Perjalanan Menuju Bengkulu Dengan Bus Putra Simas

Note:
- Perjalanan ini dilakukan sebelum covid-19 mewabah
- Tetap di rumah ya teman-teman

Selamat! Anda lulus tahap administrasi berkas 

Anda diwajibkan mengikuti ujian SKD,

Begitulah kira-kira pengumuman yang terpampang pada akun SSCN ku yang berarti aku harus mengikuti ujian SKD jika ingin diangkat menjadi seorang PNS. Tahun ini adalah tahun keduaku mencoba keberuntungan mengikuti cpns, setelah di tahun lalu aku hanya mendapat ranking 5 di hasil SKD. Tahun ini aku mencoba mengambil di Kemenag, Bengkulu.

Jauh banget.

Memang jauh, tapi itu karena yang sesuai jurusanku, Guru Sejarah, memang lagi nggak banyak yang buka di Sumatera Utara. Jadi aku mencoba keberuntungan di Tanah Bengkulu. Aneh juga sih, soalnya masih banyak sekolah yang kekurangan guru, tapi lowongan cpns gurunya dikit banget.

Untuk menuju Bengkulu, aku memutuskan menggunakan moda transportasi bus aja. Karena tiket bus sekali jalan cuma Rp. 350.000 sedangkan kalo naik pesawat saat itu lebih Rp. 1.500.000 dari Medan. Mahal banget cuy. Ini juga menjadi perjalanan pertamaku menggunakan bus jarak jauh.
Bus Putra Simas
PT Putra Simas

Yupz... Bus yang menjadi pilihanku adalah Bus Putra Simas alias Bus Putra Simalungun Atas, karena bus ini adalah pemain tunggal di rute ini. Jadi nggak ada pilihan bus lainnya. Dulu ada sih bus ALS, tapi sekarang rutenya udah ditutup. Berhubung aku saat ini tinggal di Asahan, jadi aku naik dan memesan tiket dari loket cabang Kisaran.
Bagian dalam bus
AC Bocor

Tapi asemnya, ternyata bangku yang udah kupesan malah udah diduduki orang sejak dari pool Medan, bahkan dia punya nomor kursi yang sama. Akhirnya daripada ribut, aku memilih buat mengalah.

Yang asemnya lagi, bangku yang tersisa ini malah basah karena acnya bocor. Akhirnya sepanjang malam aku tak bisa tidur nyenyak karena sesekali terbangun kena tetesan air ac yang dingin.  Bangke lah.

Perjalanan terus berlanjut, bus terus melaju membelah Jalan Lintas Timur Sumatera, melewati beberapa kota di pulau Sumatera ini. Pemandangan di sepanjang perjalanan tak begitu istimewa karena didominasi perkebunan kelapa sawit. Menjelang shubuh, kami tiba di terminal Pekanbaru. Bus tak berhenti lama di sana dan kembali melanjutkan perjalanan menuju Kota Taluk, di Kabupaten Kuantan.

Kota ini menurutku keren juga, karena begitu memasuki kotanya aku udah bertemu tugu bundaran berukuran raksasa, bernama Bundaran Carano. Di depannya pun ada masjid besar bernama Masjid Agung Kuantan Singigi. Selain itu di kota ini juga ada satu taman yang berada di tepian sungai Batang Kuantan yang mengalir di sisi kota. Sepertinya kota ini cukup menarik untuk disinggahi, tapi mungkin nanti, suatu hari nanti.

Tak lama setelah meninggalkan kota Taluk, bus memasuki wilayah Provinsi Sumatera Barat dan terus melaju hingga tiba di Terminal Kiliran Jao, di Kabupaten Sijunjung. Di terminal ini turun dua orang penumpang dan akhirnya aku dapat tempat duduk yang nyaman dan jauh dari tetesan air AC. Alhamdulillah... 
Dapat tempat duduk yang nyaman, horeee

Tapi baru juga duduk beberapa menit tiba-tiba,

Busnya berasap, busnya berasap.” Teriak beberapa penumpang yang duduk di barisan belakang.

Buru-buru para penumpang diturunkan dan sopir memeriksa bus. Ternyata jaket kernet jatuh ke dalam mesin kompresor di belakang. Asemlah. Setelab berjalan pelan, akhirnya bus berhenti di sebuah rumah makan dan diperbaiki di sana.

Hampir tiga jam kemudian barulah bus berjalan kembali dan hari sudah semakin sore. Aku pun menghubungi pihak penginapan dan mengabarkan kalo aku mungkin saja telat cek in karena masalah tadi. Kata pihak penginapannya sih nggak apa-apa. Namun aku tetap aja merasa was-was dan kepikiran juga. Apakah tidak masalah telat cek in dan jika tiba terlalu malam, naik apa dari pool ke penginapan tersebut.

Pukul 5 sore bus baru tiba di Muara Bungo, Jambi. Di sini jalanannya didominasi jalanan lurus dan tidak ada pemandangan yang menarik karena kebanyakan hanya lahan kosong di sisi jalan. 
Sepi di Lintas Tengah Sumatera
Muara Bungo
Tak lama kemudian matahari, sang penguasa siang itu tenggelam di ufuk barat. Tak ada lagi pemandangan yang bisa kulihat dari balik jendela bus, karena di luar sana hanya ada kegelapan. Cuma sesekali terlihat cahaya lampu dari rumah penduduk. Aku kemudian memilih untuk tidur dan berharap untuk segera tiba di Kota Bengkulu yang masih ratusan kilometer lagi.
Matahari terbenam di Lintas Tengah Sumatera
Pukul 3 pagi. Yupz... Pukul 3 cuy. Dan bus baru tiba di pool Kota Bengkulu. Bingung juga sih naik apaan buat menuju penginapan dan apakah penginapannya masih buka. Setelah tawar menawar dengan bapak ojek yang mangkal di pool bus, aku kemudian menuju penginapan. Kota Bengkulu saat itu masih sunyi dan sepi, karena itu aku selalu siap-siap buat lompat kalo si bapak melenceng dari GPS. Wkwkwkwkwk...

Dan khirnya aku tiba di depan penginapan, alhamdulillah bapak ojeknya baik. Namun pintu penginapannya tertutup dan lampunya gelap.

Permisi.” Ucapku sambil berharap penginapan ini masih buka dan aku bisa segera cek in.
Sang backpacker naik bus