| Kelok Sembilan, jalan layang terindah di Sumatera Barat |
Brmmmm… brmmm…
Selamat pagi, kawan-kawan.
Pagi ini aku kembali melanjutkan
perjalanan touring bareng si Beamoy, meninggalkan Sumatera Barat perlahan-lahan
menuju Asahan. Setelah sehari sebelumnya puas bermain mata dengan tebing-tebing
tinggi dan air terjun di Lembah Harau, kali ini arah setang kuputar ke timur,
menuju Provinsi Riau.
Pagi itu cuaca sedang malas bangun.
Kabut tipis masih menggantung rendah, seolah enggan memberi jalan pada
matahari. Aku pun berkendara santai, menikmati setiap meter Jalan Lintas
Payakumbuh–Riau yang diapit bukit-bukit batu menjulang. Tebing-tebing itu
berdiri kokoh di pinggir lembah, puncaknya tertutup kabut putih yang membuat
suasana terasa tenang, dingin, dan entah kenapa… magis.
![]() |
| Kabut yang menyelimuti tebing-tebing batu |
Beberapa menit kemudian, aku tiba di
salah satu mahakarya arsitektur paling ikonik di Bumi Minangkabau: Jalan
Layang Kelok Sembilan.
Dari bawah saja, aku sudah dibuat
kecil. Pilar-pilar beton raksasa berdiri tegak menyangga jalan layang yang
melengkung anggun di atas lembah. Rasanya seperti melihat naga beton sedang
tidur di tengah hutan hijau.
Aku pun berbelok ke kanan, masuk ke
jalur layang. Kalau ke kiri, katanya sih itu jalan lama—jalur nostalgia yang
tetap setia melingkar mengikuti kontur alam. Tapi hari itu, aku memilih naik.
Jalanan langsung berkelok. Halus.
Lebar. Tak terasa aku sudah berada di atas. Aku menepi, mematikan mesin, dan
berdiri bersama beberapa orang lain yang juga tak kuasa menahan diri untuk
berhenti.
| Si Beamoy berhenti di Kelok Sembilan |
Di bawah sana terlihat sungai kecil
mengalir di antara bebatuan. Jalan lama meliuk-liuk seperti pita abu-abu yang
terjatuh di tengah lembah. Perbukitan hijau mengelilingi semuanya, sementara
kabut putih masih berani bermain-main, datang dan pergi tanpa pamit.
| Sungai kecil yang mengalir di tengah lembah |
Aku menunggu.
Beberapa menit berlalu, kabut mulai menyingkir. Pelan, tapi pasti. Seolah tirai alam dibuka perlahan. Pemandangan dari atas berubah total. Bukit-bukit kini terlihat jelas, hijau pekat dan berlapis-lapis. Aliran sungai tampak lebih hidup. Jalan layang merah itu kontras, tegas, dan—jujur saja—makin cakep.
| Kelok Sembilan yang berkabut |
| Kelok Sembilan saat tak berkabut |
Dua kondisi, dua rasa.
Saat berkabut, Kelok Sembilan terasa
misterius.
Saat cerah, ia terasa megah.
Puas menatap dan menyimpan semuanya di
kepala (dan kamera), aku kembali menyalakan Beamoy. Helm kuperbaiki, sarung
tangan kukencangkan.
Perjalanan masih panjang.
Tujuan berikutnya menunggu.
Brmmm… brmmm…
Info Singkat Kelok Sembilan
·
Lokasi: Kabupaten Lima Puluh
Kota, Sumatera Barat
·
Fungsi: Menghubungkan
Payakumbuh – Provinsi Riau
·
Daya Tarik: Jalan layang
berkelok di tengah lembah dan perbukitan
·
Waktu Terbaik Berkunjung: Pagi hari (kabut +
cahaya lembut)
·
Tips: Menepi dengan aman, hati-hati angin
dan kendaraan besar
![]() |
| Backpacker ganteng dan unyu di Kelok Sembilan |





