Showing posts with label Unik. Show all posts
Showing posts with label Unik. Show all posts

Friday, November 27, 2020

Jembatan Hatonduhan, Jembatan ekstrim di Simalungun

Jembatan Hatonduhan di Simalungun
Motor melintasi Jembatan Hatonduhan

Nb:      -Perjalanan ini dilakukan sebelum dimulainya musim hujan

-Jangan main ke air terjun atau sungai sangat musim hujan, bahaya!!!

Di ceritaku yang sebelumnya, yaitu tentang Air Terjun Katasa, ternyata banyak teman-teman yang penasaran ama jembatan yang berada di atas air terjun tersebut. Sama sih, aku juga penasaran ama jembatan tersebut. Apalagi sesekali terlihat sepeda motor yang melintas melalui jembatan tersebut.

Baca juga: Air Terjun Katasa di Simalungun

Setelah nanya-nanya ama bapak penjaga Air Terjun Katasa, kata beliau jembatan tersebut bernama Jembatan Hatonduhan dan beliau juga nunjukin arah buat ke jembatan tersebut.

Alamat Jembatan Hatonduhan

Jembatan Hatonduhan ini berada di Nagori Bayu Bagasa, kecamatan Hatonduhan, kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Jembatannya berada tepat di atas Air Terjun Katasa. Dari Air Terjun Katasa, kami hanya perlu mengambil persimpangan yang berbeda dengan arah kembali dan jaraknya dari air terjun tak sampai 5 menit perjalanan.

Keunikan Jembatan Hatonduhan

Setibanya di ujung Jembatan Hatonduhan, aku pun memarkirkan sepeda motor di bawah pohon sawit, agar tak menghalangi kendaraan yang melintas.

Melihat jembatan ini dari ujungnya ada udah bikin perasaan jadi ngeri-ngeri sedap. Soalnya jembatan ini memiliki panjang hampir 100 meter dengan ketinggian mencapai 80 meter dan lebarnya tak sampai 1 meter serta tak memiliki satupun pagar pembatas. Nggak ada pagar pembatasnya cuy.

Padahal di bawah jembatan ini terdapat banyak bebatuan dan air terjun dengan air yang mengalir deras. Gilak... gilak...  

Jembatan Hatonduhan di Simalungun
Ketinggiannya mencapai 80 meter
Jembatan Hatonduhan di Simalungun
Lebarnya hanya sekitar 1 meter doang
Jembatan Hatonduhan di Simalungun
Menyeberang secara bergantian

Menurut bapak penjaga Air Terjun Katasa, jembatan ini dulunya bekas rel kereta api muntik yang digunakan sejak masa kolonial Belanda. Namun setelah keretanya tak lagi beroperasi, bekas rel ini dicor beton oleh masyarakat sebagai jembatan penghubung antar desa.

Jembatan ini pun menjadi satu-satunya akses masyarakat yang ingin menyeberang. Karena kalo nggak lewat jembatan ini, mereka harus mengambil jalan memutar melalui kecamatan Tanah Jawa. Kalo dari sana, bisa sampe 1 jam baru nyampe.

Yang bikin lebih ngeri adalah banyak masyarakat yang melalui jembatan ini pake sepeda motor. Bahkan banyak yang sambil membawa keranjang yang berisi hasil pertanian seperti sawit, jengkol, sayuran dan hasil pertanian lainnya. Sebelum melintasi jembatan, pengendara motor harus membunyikan klakson dulu. Agar tak saling berpapasan di atas jembatan.

Jujur aja, aku yang jalan kaki aja ngerasa ngeri pas udah sampe di pertengahan jembatannya. Sedangkan masyarakat di sini nyante aja ngelewati jembatan tanpa pagar pembatas ini pake motor dan bawa beban banyak. Nekad banget deh mereka.

Menurutku sih, jembatan ini adalah salah satu jembatan terekstrim yang bisa dilalui sepeda motor yang pernah kutemui. Selama ini aku udah sering lewat jembatan ekstrim, apalagi di kampungku malah ada tiga jembatan ekstrim. Tapi jembatannya nggak sampe sekecil dan setinggi ini serta nggak dilalui sepeda motor.

Pemandangan dari atas Jembatan Hatonduhan

Meskipun ekstrim tapi pemandangan dari atas jembatan ini cukup oke juga. Soalnya dari atas jembatan ini kami bisa ngelihat pemandangan Air Terjun Katasa dari ketinggian dan aliran Sungai Balah dan dan Sungai Turunan serta pemandangan hutan hijau yang mengelilingi kawasan Air Terjun Katasa. Mantap juga pemandangannya. 

Jembatan Hatonduhan di Simalungun
Pemandangan dari atas jembatan
Jembatan Hatonduhan di Simalungun
Air Terjun Katasa
Jembatan Hatonduhan di Simalungun
Backpacker imut di ujung jembatan

Thursday, April 9, 2020

Pelangi Di Air Terjun Sipiso-Piso

Jangan ada satupun sampah yang tertinggal ya.” Ucapku ketika kami sedang membereskan alat-alat perkemahan kami pagi itu di Puncak Gunung Sipiso-Piso.
Yupz... Setelah paginya menyaksikan indahnya sunrise dari puncak gunung ini dengan latar Danau Toba, kami akan segera turun karena mini bus yang kami pesan akan segera datang menjemput kami. Anak-anak ini juga ngajak untuk sarapan dulu di area wisata Air Terjun Sipiso-Piso.
Air Terjun Sipiso-Piso
 Tak butuh waktu lama untuk turun dari gunung ini karena jalur pendakiannya yang mudah. Hanya sekitar 30 menit saja dan kami semua sudah sampe di kaki Gunung Sipiso-Piso. Dari sana kami lanjutkan jalan kaki ke arah Air Terjun Sipiso-Piso yang berjarak sekitar 1,5 km.

Setelah sedikit bernegosiasi dan minta diskon tiket masuk ke Air Terjun Sipiso-Sipo yang akhirnya dikasi potongan Rp. 1000 perorang, kami pun segera mencari warung makanan yang udah buka di pagi hari itu.

Menu yang kami pesan cukup sederhana, kebanyakan hanya mie ataupun nasi goreng. Tapi karena perut yang lapar, cuaca yang dingin, dan badan yang sedikit lelah membuat rasanya enak juga. Nyam..nyam...

Selesai dengan urusan perut, kami kemudian sedikit berwisata di Air Terjun Sipiso-Piso ini.

Lokasi Air Terjun Sipiso-Piso

Air Terjun Sipiso-Piso beralamat di Desa Tongging, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Air terjun ini letaknya tak jauh dari Gunung Sipiso-Piso, Danau Toba dan Taman Bunga Sopo Juma.

Lanskap Air Terjun Sipiso-Piso

Air Terjun Sipiso-Piso dikenal sebagai salah satu ikon wisata populer di Sumatera Utara bersama Danau Toba. Air terjun ini punya ketinggian hingga 120 meter dan di sekelilingnya ada tebing batu yang begitu terjal menjulang tinggi. Debit airnya yang deras membuat air terjun ini terlihat makin keren.

Nama air terjun ini juga diambil dari kata Pisau alias Piso dalam bahasa setempat yang diartikan bahwa aliran air terjunnya terasa tajam seperti pisau.
Debit airnya besar dan tajam seperti pisau
Untuk turun ke dasar air terjunnya sudah tersedia tangga ke bawah. Namun untuk turun harus melewati sekitar seribu anak tangga. Bikin gempor juga lah. Berhubung badan yang lelah dan waktu yang sedikit, kami hanya menikmati keindahan alam Air Terjun Sipiso-Piso ini dari atas saja.

Pemandangan air terjun dari atas juga cukup indah kok karena juga bisa melihat Danau Toba di satu sisi dan air terjun di sisi satunya. Apalagi saat itu ada momen yang tak terduga, yaitu munculnya pelangi dari aliran air terjun. Pelangi ini muncul ketika cahaya matahari datang dari arah depan air terjun dan terbiaskan oleh percikan aliran air terjun.
Danau Toba di satu sisi

Air Terjun Sipiso-Piso di sisi yang lain

Ada pelangi.. di air terjun

Momen yang langka nih
Sesekali pelanginya juga hilang ketika angin bertiup kencang dan muncul kembali saat aliran air terjunnya normal kembali. Padahal tanpa pelangi aja, air terjun ini udah cantik banget, ditambah dengan munculnya pelangi ini kecantikan Air Terjun Sipiso-Piso terasa makin mempesona. Mantap cuy.
Anggota pendakian

Sang backpacker unyu di Air Terjun Sipiso-Piso

Sunday, April 5, 2020

Kolam Tao Delapan Putri, Goa Perak dan Goa Emas

Hai sahabat backpacker...

Setelah sebelumnya aku dan Dina menikmati cakepnya alam di Danau Linting. Kami kemudian berjalan untuk mengelilingi danau kecil tersebut. Saat itulah mata ini tak sengaja melihat plang yang menarik mata dan bertuliskan Goa Perak dan Goa Emas. Segera saja aku mengikuti arah plang tersebut.

Tak begitu jauh berjalan, paling hanya sekitar 20 meter doang, kami berdua pun tiba di depan gerbang dengan banner yang bertuliskan “Selamat datang di Goa Tao Delapan Putri.” Di sana udah menunggu seorang bapak-bapak yang menjadi juru kunci sekaligus pemandu untuk masuk ke dalam goa.
Selamat datang
Kolam Tao Delapan Putri

Sebelum memasuki goa, si bapak menceritakan sedikit sejarah dari Goa Tao Delapan Putri ini. Kata beliau, awalnya di sini hanyalah kebun sawit biasa. Suatu malam pemilik tanah bermimpi diminta sepasang kakek dan nenek untuk menggali delapan kolam kecil untuk tempat mandi delapan Putri Tao. Setelah beliau menggali kolam tersebut, di kolam tersebut terisi air hangat. Dipercaya, air dari kolam ini memiliki efek penyembuhan. Bahkan katanya ada satu kolam yang bernama Air Putri Kasih dan jika cuci muka disitu, bakal dapat jodoh. Kereennn.... Jadi buat para jomblo yang kesulitan dapatin hati cewek, boleh dicoba nih.
Nama-nama kolamnya

Ada delapan kolam

Air Putri Laut
Tak lama setelah kolam tersebut selesai, katanya beberapa bagian tanah di situ runtuh dan terbukalah pintu goa. Menurut mimpi si pemilik tanah, goa tersebut menjadi tempat tinggal si kakek dan si nenek. Si Kakek di Goa Perak dan si Nenek di Goa Emas.

Hmm.. pisah ranjang nih kayaknya.

Setelah menjelaskan sedikit tentang Kolam Tao Delapan Putri, si bapak juga ngasi tau hal-hal yang harus ditaati saat ada di kawasan ini. Seperti tidak boleh berkata kasar, mengumpat dan memaki. Lalu tidak boleh membuang sampah sembarangan dan melakukan vandalisme dan jika ingin menggunakan air kolam harus seijin juru kunci serta jika ingin masuk ke dalam goa harus bersama pemandu. Btw untuk masuk ke dalam goa, perorangnya dipungut biaya Rp. 5000 aja.

Goa Perak

Setelah penjelasan tersebut si bapak pun mengajak kami untuk masuk ke dalam goa. Tapi Dina bilang dia tinggal di luar aja, serem katanya. Wajar sih, pintu masuknya kecil banget, lebih mirip lobang malahan. Beruntung saat kami mau masuk, datang dua pengunjung lain yang ingin ikutan masuk juga ke dalam goa. Jadi kami berempat pun segera memasuki Goa Perak ini.
Pintu masuk Goa Perak
Cukup sulit untuk masuk, karena harus jalan jongkok, tapi di dalam terdapat satu ruangan yang cukup tinggi dan pas untuk berdiri. Ketika cahaya senter disorotkan bapak pemandu, terlihat stalagtit-stalagtit yang menghiasi langit-langit goa. Dan sesuai dengan namanya, di dinding dan stalagtit tersebut nampak jelas butiran-butiran perak yang menempel dan bercahaya ketika disorot cahaya senter.
Ruangan di dalam Goa Perak

Perak-peraknya terlihat jelas

Bapak pemandu dan dua pengunjung lainnya
Meskipun terkagum-kagum melihat isi goa ini, kami nggak berlama-lama di dalam. Soalnya di dalam goa ini panas dan pengap banget. Udah kayak di dalam sauna aja. Sebentar saja di dalam, baju udah basah dengan keringat. Tak lama kami pun bergegas keluar dari Goa Perak dan menuju Goa Emas.

Goa Emas

Goa emas ini letaknya tepat di sebelah Goa Perak dan jaraknya paling cuma 7 meter doang. Pintu goanya lebih kecil lagi dari Goa Perak sehingga untuk masuk ke dalam kami hampir merangkak.
Pintu masuk Goa Emas
Setelah masuk ke dalam, barulah ada ruangan kecil yang cukup untuk 5 orang doang. Kembali si bapak pemandu menyorotkan lampu senternya. Dan kali ini aku kembali terpesona karena di dinding dan stalagtitnya terdapat butiran-butiran emas yang jelas banget terlihat dan berkilauan disorot cahaya senter.
Stalagtit di Goa Emas

Emasnya kelihatan jelas
Emasnya ada banyak cuy. Duh.. kalo Mr. Krab datang ke sini, bisa jadi dollar matanya. Tapi sejauh ini nggak ada pengunjung dan masyarakat sekitar yang berani untuk mengambil emas maupun peraknya sih. Soalnya kedua goa ini ada aura-aura mistisnya dan ada banyak sesajen di sekitar goa dan kolam.

Selain mistis, kedua goa ini juga sangat unik karena cuma terpisah beberapa meter aja tapi isinya beda, yang satu isinya perak yang satu malah berisi emas. Oh iya, jika di Goa Perak hawanya panas, di Goa Emas ini malah hawanya dingin, kayak pake AC. Unik banget lah.

Puas menikmati keunikan dan keindahan isi goa ini, kami pun segera keluar. Karena aku pun ingin melanjutkan petualangan dan kasian juga jika Dina menunggu terlalu lama di luar.

Yok Din.
Backpacker ganteng dan unyu di depan Goa Emas
Abaikan kaki yang kotor sehabis masuk goa

Monday, February 17, 2020

Nggak Sengaja Nemu Masjid Keraton Soko Tunggal Yogyakarta

Masjid Keraton Soko Tunggal
Hai sahabat backpacker...

Apa kabar kalian? Semoga sehat selalu ya, aamiin...

Nggak kerasa ternyata lebih juga satu bulan aku kagak aktif ngeblog, ada yang kangen kagak ya? 😂

Soalnya kemarin tuh, aku emang ada beberapa kegiatan yang menyita waktu banget dan sekarang deh baru bisa nulis lagi. Jadi, sekarang aku bakal lanjutin kisah petualanganku di Bumi Yogyakarta yang penuh cerita dan bikin kangen ini. Let's go.

Setelah sebelumnya aku berhasil menemukan Masjid Bawah Tanah di Sumur Gumuling dan selesai untuk berfoto-foto di bangunan bersejarah yang instagrammable tersebut, aku kemudian memutuskan untuk keluar dan melanjutkan penjelajahan di Bumi Jogja ini dan mengunjungi objek wisata lainnya.

Setelah melalui lorong-lorong panjang dan berliku, akhirnya aku tiba juga di pintu keluar Sumur Gumuling. Dari sana aku lanjut berjalan ke kawasan parkir Taman Sari sambil berfikir destinasi selanjutnya.

Saat berfikir tersebut, mata ini malah nggak sengaja melihat bangunan masjid dengan plang yang bertuliskan “Masjid Keraton Soko Tunggal Yogyakarta.” Dari artikel-artikel yang pernah ku baca di internet, Masjid Soko Tunggal ini adalah salah satu masjid unik dan bersejarah di Yogyakarta. Beuhh... Mantap banget lha, lagi nyantai di parkiran malah nemu bangunan unik dan bersejarah. Dengan segera aku ngeluarin kamera dan melihat-lihat masjid unik dan bersejarah ini.
Plang Masjid Keraton Soko Tunggal

Lokasi Masjid Soko Tunggal

Masjid Keraton Soko Tunggal ini beralamat di Jalan Taman I, Kelurahan Patehan, Kecamatan Keraton, Kota Yogyakarta. Posisinya pas banget di pintu masuk ke tempat wisata Taman Sari. Jadi nggak sulit buat ngunjungin masjid ini.

Sejarah Masjid Soko Tunggal

Berdasarkan batu prasasti yang terukir di dinding masjid ini, Masjid Keraton Soko Tunggal selesai dibangun pada hari Jumat Pon, tanggal 21 Rajab 1392 H atau 1 September 1972 M dan diresmikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX pada hari Rabu Pon tanggal 28 Februari 1973 M.
Batu Prasasti pembangunan masjid
Arsitektur Masjid Soko Tunggal

Pembangunan Masjid Keraton Soko Tunggal diarsiteki oleh R. Ngabehi Mintobudoyo yang merupakan arsitek Keraton Yogyakarta terakhir. Desain masjid ini berbentuk tajug dengan keunikannya yaitu hanya memiliki satu tiang yang terletak di tengah-tengah masjid. Soalnya pada umumnya bangunan-bangunan khas Jawa memiliki minimal empat tiang, namun masjid ini cuma memiliki satu tiang doang.
Satu tiang di tengah masjid
Selain keunikan satu tiang tersebut, masjid ini juga punya banyak makna simbolis pada desain artsitekturmya. Seperti tiangnya yang cuma satu dan ditopang 4 tiang saka bentung. Hal ini melambangkan Pancasila dengan tiang utama merupakan sila pertama.

Selain itu, masih banyak lagi keuikan-keunikan lainnya yang dapat dilihat dari desain arsitektur masjid ini. Sayangnya saat itu masjid ini lagi dibersihkan karena sebentar lagi waktu Sholat Jum'at udah dekat, jadi aku lumayan segan untuk memotret lebih jauh.
Bagian teras masjid

Masjid Soko Tunggal

Papan penunjuk arah

Bagian atap masjid

Apalagi aku juga udah mutusin buat Sholat Jum'at di Masjid Gedhe Kauman. Jadi setelah merasa cukup, aku pun melanjutkan perjalanan menuju Masjid Gedhe. Let's go...
Aku di depan Masjid Keraton Soko Tunggal

Sunday, January 5, 2020

Menemukan Masjid Bawah Tanah di Sumur Gumuling

Hai sahabat backpacker...

Seperti di ceritaku yang sebelumnya di Taman Sari, aku menemukan fakta kalo Taman Sari ini masih memiliki satu bagian lain yang tersembunyi, yaitu Sumur Gumuling alias masjid yang ada di bawah tanah.
Sumur Gumuling
Hal tersebut tentu terdengar sangat menarik dan unik buatku. Oleh karena itu, setelah aku puas melihat-lihat di Taman Sari ini, aku pun segera menuju Sumur Gumuling. Tapi masalahnya adalah tidak ada satupun penunjuk arah menuju tempat tersebut.

“Permisi buk, mohon maaf, kalo mau ke Sumur Gumulung ke arah mana ya buk?” Tanyaku sesopan mungkin pada ibuk-ibuk yang sedang santai di depan rumahnya.

“Sini ibuk antar aja. Rp. 15.000 aja kok.” Jawab si ibuk semangat.

Alamak.... Tiket masuk ke Taman Sari dan Sumur Gumuling aja cuma Rp. 5000, masak nunjukin jalannya lebih mahal sih. Kata-kata itu cuma bisa kuucapin dalam hati.

Tentu aku paham juga sih, kalo ini menjadi salah satu pendapatan yang bisa dimanfaatin penduduk sekitar sebagai orang-orang yang tinggal di sekitar objek wisata. Tapi maaf buk, aku orangnya lebih suka menjelajah dan berpetualang. Jadi, dari pada minta anterin, rasanya lebih menarik jika mencari sendiri dengan cara menjelajah.

Padahal mah pelit. Wkwkwkwkwk....

Dengan mengandalkan insting dan naluri, aku berjalan menelurusi perkampungan di sekitar Taman Sari. Binggo!! Tak lama kemudian, aku beneran nemuin pintu masuk ke Sumur Gumuling. Mantap.
Perkampungan di sekitar Taman Sari

Pintu masuk ke Sumur Gumuling
Alamat Sumur Gumuling

Sumur Gumulimg ini terletak di Patehan, Kecamatan Keraton, Yogyakarta. Lokasinya nggak begitu jauh dari Taman Sari. Kalo jalan kaki, nggak sampe 5 menitan.
Plang Situs Sumur Gumuling
Sejarah Sumur Gumuling

Sumur Gumuling ini dibangun bersamaan dengan Taman Sari karena emang udah sepaket. Tepatnya dibangun pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono I pada tahun 1758 hingga tahun 1765. Untuk sejarah lengkapnya, bisa kawan-kawan liat di ceritaku yang sebelumnya.

Arsitektur Sumur Gumuling

Setelah menunjukkan tiket yang ku beli saat masuk ke Taman Sari, petugas pun mempersilahkan aku untuk memasuki Sumur Gumuling. Dari pintu masuk aku menelusuri lorong-lorong panjang untuk mencapai pusat dari Sumur Gumuling. Konon, dulunya untuk mencapai tempat ini harus melalui terowongan bawah air. Wuihhh... Nggak kebayang gimana kerennya bangunan ini pada saat itu.
Lorong-lorong di Sumur Gumuling
Lorong yang berliku dengan dinding yang tebal juga dipercaya agar bangunan ini bisa menjadi benteng pertahanan apabila musuh menyerang.

Setelah beberapa saat melalui lorong-lorong yang berliku, akhirnya aku sampe juga di sebuah area melingkar berlantai dua dengan rongga pada atap kubahnya. Kedua lantai tersebut dihubungkan dengan empat anak tangga menuju pelataran kecil dan satu tangga menuju lantai dua. Tangga tersebut melambangkan rukun iman, dengan satu tangga ke atas yang melambangkan rukun yang kelima, yaitu naik haji jika mampu.
Tangga di Pusat Sumur Gumuling

Moto orang yang nggak dikenal
Sumur Gumuling ini dulunya difungsikan sebagai masjid bawah tanah. Pada salah satu sisi dindingnya terdapat ceruk yang menjadi tempat untuk imam memimpin sholat. Lantai satunya untuk jamaah perempuan dan lantai duanya untuk jemaah laki-laki. Desain Sumur Gumuling ini juga memungkinkan masjid ini tidak butuh pengeras suara karena desainnya membuat suara imam bisa terdengar ke penjuru Sumur Gumuling. Keren banget cuy! 
Curuk tempat imam

Setelah puas menikmati indahnya Sumur Gumuling ini dan gagal buat foto-foto di tangganya dan malah moto orang yang nggak dikenal, aku akhirnya memutuskan untuk keluar dari Sumur Gumuling dan menuju destinasi selanjutnya. Lets go.... 
Pintu keluar Sumur Gumuling


Cuma bisa selfie di Sumur Gumuling

Wednesday, December 25, 2019

Candi Borobudur

Selamat pagi sahabat backpacker...
Candi Borobudur
Saat ini waktu menunjukkan pukul 05.30 WIB dan aku bareng adikku telah selesai bersiap-siap untuk memulai petualangan kami hari ini. Setelah di hari sebelumnya kami berdua menjelajahi berbagai objek wisata yang ada di Tanah Jogja, maka hari ini kami putuskan untuk melakukan petualangan ke Tanah Magelang.

Let's go...

Brrmmm.. brmmm...

Sepeda motor sewaan yang kami sewa pun melaju melalui jalan raya yang menghubungkan Yogyakarta dengan Magelang. Beberapa kali kami melewati kota-kota kecil seperti Sleman, Salam, Muntilan dan sebelum memasuki Kota Mungkid, kami membelokkan sepeda motor ke Jalan Raya Borobudur. Brmm... Brmmm...

Tak begitu lama menyusuri Jalan Raya Borobudur yang dihiasi pemandangan pegunungan, kami pun tiba di parkiran Candi Borobudur. Ternyata Taman Wisata Candi Borobudur ini tidak menyediakan tempat parkir sepeda motor, sehingga motor harus diparkir di parkiran yang disediakan penduduk sekitar. Tapi syukur lah parkirannya aman.

Motor sewaan cuy.

Selesai dengan urusan parkir, kami pun segera masuk ke dalam kawasan Taman Wisata Candi Borobudur dan membeli tiket masuk yang seharga Rp. 40.000 perorang. Cukup mahal emang, tapi wajar sih, nih candi merupakan objek wisata kelas dunia cuy.
Beli tiket

Gerbang masuknya
Lokasi Candi Borobudur

Candi Borobudur terletak di Jalan Badrawati, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Kebanyakan sih orang-orang mikir kalo Candi Borobudur ini letaknya di Jogja karena dari Jogja emang deket dan lebih mudah dijangkau. Tapi Candi Borobudur ini letaknya di Magelang, Jawa Tengah.

Sejarah Candi Borobudur

Diperkirakan Candi Borobudur ini dibangun pada masa kejayaan Dinasti Syailendra pada tahun 780-840 Masehi. Candi ini sempat ditinggalkan setelah pusat pemerintahan dipindah ke Jawa Timur. Candi ini baru ditemukan kembali oleh Pasukan Inggris pada tahun 1814 di bawah pimpinan Sir Thomas Stanford Raffles dan area candi berhasil dibersihkan seluruhnya pada tahun 1835.

Setelah berjalan dari pintu masuk, akhirnya aku bisa melihat langsung wujud dari Candi Borobudur ini. Sungguh, ini adalah salah satu momen yang sangat berharga bagiku. Karena sebagai orang yang menyukai sejarah, melihat salah satu peninggalan sejarah terbesar di Indonesia ini secara langsung membuat hatiku bergetar gembira.
Candi Borobudur

Salah satu situs warisan dunia
Dari pelataran, kami kemudian mendaki anak tangganya yang banyak banget. Candi Borobudur ini letaknya emang di atas bukit. Lumayan ngos-ngosan juga sih baru nyampe di halaman candi.

Dasar tubuh kurang olahraga

Setelah itu baru deh kami mendaki lagi tangga-tangganya agar sampe ke puncak Candi Borobudur. Lumayan lama juga baru nyampe, soalnya selain mengagumi arsitektur dan hiasan yang terdapat di tubuh candi ini dan gapuranya, kami juga beberapa kali berhenti karena orang-orang di depan kami lagi selfie.

Antri cuy.
Naik tangga untuk ke puncaknya
Akhirnya nyampe juga kami di puncak Candi Borobudur. Pemandangan dari puncaknya ini cakep banget. Di sekeliling candi Borobudur terdapat perbukitan. Bahkan beberapa gunung berapi yang ada di sekitar Candi Borobudur juga terlihat. Katanya sih pemandangan sunrise dan sunset dari tempat ini juga indah banget. Sayang aku belum sempat nyaksiin sendiri. Mungkin nanti.

Di puncaknya sendiri terdapat satu stupa utama yang berukuran raksasa dan di sekelilingnya terdapat stupa-stupa berukuran kecil berjumlah 72 buah yang di dalamnya terdapat arca Budha tengah duduk bersila dalam posisi teratai sempurna dengan sikap tangan memutar roda dharma.
Arca Budha di Borobudur

Stupa-stupa di Puncak Candi Borobudur

Di sekelilingnya terdapat perbukitan
Seru juga di atas sini, selain bisa ngeliat pemandangan, bisa juga sambil ngeliatin orang-orang yang dimarahi petugas karena manjat-manjat stupa. Padahal mah tanpa manjat aja, hasil fotonya udah keren maksimal kok.
Foto keren maksimal
Puas rasanya menikmati indahnya Puncak Candi Borobudur, aku dan adikku kemudian turun ke bawah untuk menjelajahi relief yang terukir di dinding candi. Terdapat lebih 1460 relief yang terukir di tubuh Candi Borobudur. Relief-relief ini menampilkan banyak gambar seperti manusia, aneka tumbuhan dan hewan, bentuk bangunan tradisional, peralatan hidup, senjata hingga alat transportasi.

Namun ada dua relief utama yang ingin kucari. Yang pertama adalah relief yang terukir di uang Rp. 10.000 emisi 1975. Relief tersebut menggambarkan perjalanan pulang Ratu Maya untuk melahirkan Sang Budha.

Cukup susah juga nyarinya. Setelah muter-muter beberapa kali dan beberapa tingkat, baru deh ketemu tuh relief.

Sedangkan relief satunya lagi adalah relief kapal tadisional yang dinamain Kapal Borobudur. Relief ini menggambarkan kapal kayu bercadik khas Nusantara yang menunjukkan kebudayaan bahari purbakala Indonesia.
Relief dan uang Rp. 10.000

Relief kapal tradisional
Setelah nemuin kedua relief tersebut, kami pun memutuskan untuk turun, karena masih ada tempat-tempat menarik lainnya yang ingin kami kunjungi.

Lets go 

Brmm... Brmm... 
Backpacker yang unyu di Candi Borobudur