Showing posts with label Danau. Show all posts
Showing posts with label Danau. Show all posts

Thursday, October 29, 2020

Danau Teratai Tinggi Raja di Asahan

Danau Teratai Tinggi Raja, Kisaran, Asahan
Danau Teratai

Hai Sahabat Backpacker...

Selamat menikmati libur panjang. Libur panjang gini enaknya sih jalan-jalan ke tempat wisata. Tapi karena pandemi, jadi nggak bisa traveling ke tempat-tempat yang jauh. Selain nggak aman, objek wisata yang ada juga banyak yang masih ditutup untuk umum. Sehingga kadang sia-sia jadinya traveling yang-jauh. So... aku pun memilih traveling ke tempat yang dekat-dekat aja dari rumah.

Tujuan travelingku kali ini adalah Danau Teratai. Sebenarnya aku ke sini karena diajakin Marni, adik sepupuku. Dia protes karena nggak pernah diajakin jalan—jalan. Apalagi barusan aku jalan-jalan ke Danau Toba bareng Bayu dan teman-temannya dan yang kuajak Hafiza, adik angkatku.

Baca juga: Danau Toba dari Pantai Garoga di Tigaras, Simalungun

Alamat Danau Teratai

Danau Teratai beralamat di Terusan Tengah, kecamatan Tinggi Raja, kabupaten Asahan, Sumatera Utara.

Cara menuju Danau Teratai

Danau Teratai bisa dikunjungi dari kota Kisaran, ibukota kabupaten Asahan. Dari pusat kota Kisaran danau ini bisa ditempuh sekitar 30 menit dengan jarak sekitar 17 km. Cara ke danau ini dari kota Kisaran bisa melalui Jalan Besar Sei Renggas menuju Mandouge, Di persimpangan Sei Silau berbelok ke kiri, ke arah Tinggi Raja. Dari sana lurus saja ikuti jalan besar hingga sampai ke Danau Teratai.

Tiket Masuk ke Danau Teratai

Tiket Masuk ke Danau Teratai ini gratis cuy. GRATIS. Biaya parkir kendaraan pun gratis juga. Jadi danau ini merupakan wisata murah meriah.

Pemandangan Alam Danau Teratai

Setelah memarkirkan sepeda motor di bawah pohon rindang, aku segera mengambil tempat duduk untuk menikmati keindahan danau kecil ini. Danau teratai tidaklah begitu luas, luasnya paling sekitar 40 ha. Namun yang unik dari danau ini adalah danaunya terbagi menjadi dua dan di tengahnya terdapat jalan yang menghubungkan desa-desa di kecamatan Tinggi Raja. 

Danau Teratai Tinggi Raja, Kisaran, Asahan
Tulisan Danau Teratai
Danau Teratai Tinggi Raja, Kisaran, Asahan
Jalan yang membelah danau

Bagian yang terluas adalah danau di sebelah kiri. Di ujung danaunya terlihat seperti rawa-rawa dan berbatasan dengan perkebunan sawit. Di permukaan danau yang berair jernih ini tumbuh beberapa bunga teratai. Di seberang danau juga terlihat beberapa pondok kecil yang terlihat cantik dari sisi seberang.

Sedangkan bagian danau yang di sebelah kanan, danaunya lebih dalam. Di sini terdapat wahana bermain air, berupa sepeda bebek air. Di tengah danaunya juga terdapat beberapa pohon yang menjulang tinggi dari dalam air sehingga menambah kesan unik pada danau ini. 

Danau Teratai Tinggi Raja, Kisaran, Asahan
Sepeda bebek air

Meski Danau Teratai ini tidak begitu besar, namun tempat ini cukup asyik juga buat bersantai. Di pinggiran danaunya telah dipagarin sehingga aman buat anak-anak. Di sekeliling danaunya juga udah disediakan bangku-bangku beton. Di sekitarnya juga tumbuh pepohonan yang rindang. Sedangkan dari arah danau bertiup angin sepoy-sepoy yang membuat suasananya semakin adem dan nyaman.  

Danau Teratai Tinggi Raja, Kisaran, Asahan
Danaunya nyaman juga
Danau Teratai Tinggi Raja, Kisaran, Asahan
Pagar di sekeliling danau

Oh ya, saat ini di Danau Teratai juga sedang dibangun beberapa spot foto kekinian. Diharapkan pembangun ini membuat Danau Teratai semakin ramai dikunjungi wisatawan dan memberi dampak ekonomi buat masyarakat di sekitarnya. 

Danau Teratai Tinggi Raja, Kisaran, Asahan
Aku di Danau Teratai

Tuesday, October 27, 2020

Danau Toba dari Pantai Garoga di Tigaras, Simalungun

Danau Toba dari Pantai Garoga
Pantai Garoga di Tigaras

Hai sahabat backpacker...

Di sini aku mau ngelanjutin kisah petualanganku bareng Bayu, teman-temannya dan adik angkatku saat kami pergi ke kabupaten Simalungun. Sebelumnya kami telah singgah di perkebunan teh Sidamanik. Ketika mereka semua berfoto-foto di antara hamparan perkebunan teh, aku ditugasin untuk jaga sepeda motor yang terparkir di pinggir jalan, Asem banget.

Baca juga: Wisata ke Kebun Teh Sidamanik

Namun sudah hampir satu jam mereka tak kunjung juga usai foto-fotonya. Padahal yang difotoin mukanya tetap sama dan latar fotonya juga itu-itu doang, tapi mereka tak juga berhenti. Aku yang menunggu di luar jadi gregetan juga.

“Oyy... udah siang nih, katanya mau makan di pinggir Danau Toba, jadi kagak?” kataku pada mereka.

Setelah mendengar itu, baru deh mereka keluar dari perkebunan teh tersebut.

“Ayoklah, udah laper ini.” Jawab Bayu.

Mendengar itu, aku hanya bisa pasang wajah datar. -_-“

“Ke Danau Toba kita Bang? Mantaplah, aku pengen berenang.” Kata Hafiza, adik angkatku.

“Emangnya Fiza bisa berenang?” tanyaku.

“Kagak.” Jawabnya singkat.

Lagi-lagi aku hanya bisa memasang wajah datar.  -_-“

Rencananya kami memang mau sekalian ke Danau Toba, makan siang di sana dan bermain-main air. Dari sekian banyak destinasi menarik di Danau Toba, kami memilih untuk mengunjungi kawasan Tigaras.

Tigaras

Tigaras adalah salah satu nagori alias desa yang ada di kecamatan Dolok Pardamean, kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Tigaras ini berada tepat di pinggir Danau Toba sehingga memiliki banyak destinasi wisata yang berkaitan dengan Danau Toba seperti Pantai Garoga, Pantai Paris, Pantai Kenangan, Batu Hoda, Bukit Indah Simarjarunjung dan Pelabuhan Tigaras yang melayani rute dari Tigaras ke Pulau Samosir.

Dari perkebunan teh Sidamanik, kami hanya perlu melanjutkan perjalanan ke arah kota Pematang Purba, ibukota kabupaten Simalungun. Setelah sampai di perempatan Simarjarunjung, kami berbelok ke kiri. Dari sana jalanannya didominasi kelokan dan turunan. Meski jalannya cukup curam, tapi pemandangannya cakep banget. Karena di sisi kiri jalan terhampar pemandangan Danau Toba yang begitu luas. Sedangkan di seberang sana terlihat Pulau Samosir dan perbukitan hijau di atasnya. Sekitar 10 menit kemudian kami tiba di Tigaras. 

Danau Toba dari Pantai Garoga
Danau Toba dari sisi jalan

Pantai Garoga

Dari sekian banyak tempat wisata yang ada di Tigaras, kami memilih untuk mengunjungi Pantai Garoga. Meski namanya pantai, tapi ini bukan pantai yang ada di tepi laut, melainkan pantai yang ada di tepi Danau Toba. Jadi air nya tawar, bukan asin.

Di Sumatera Utara emang ada kecenderungan untuk menamakan “pantai” pada tempat-tempat yang memiliki dataran berpasir dan air yang luas, seperti pinggiran danau maupun pinggiran sungai.

Alamat Pantai Garoga

Pantai Garoga beralamat di Desa Tigaras, Kecamatan Dolok Pardamean, Kabupaten Simalungun. Pantainya terletak tak jauh dari kawasan Hotel Garoga, Masjid Agung Tigaras maupun Pelabuhan Tigaras.

Sebenarnya ada drama nyasar juga sih saat menuju pantai ini. Jadi dari Simpang Simarjarunjung Bayu yang ada di depan sedangkan aku di bagian belakang. Bayu bilang kalo dia udah pernah ke Tigaras, jadi tau pantainya. Namun saat itu aku merasa aneh, karena jalanannya sudah kembali menanjak, pusat keramaian Tigaras juga sudah tertinggal di belakang. Akhirnya dengan bersusah payah mendahului mereka di jalur sempit, aku bisa menghentikan laju motor mereka. Dan benar aja, Bayu nyasar. Padahal plang pantainya tadi terlihat jelas di pinggir jalan. -_-“

Fasilitas di Pantai Garoga

Setelah putar balik dan menemukan jalan yang benar, kami pun memarkirkan kendaraan di kawasan parkir Pantai Garoga. Biaya parkirnya hanya Rp. 5000 permotor dan sudah termasuk biaya masuk ke dalam kawasan pantai.

Fasilitas yang tersedia di pantai ini cukup lengkap juga seperti pondok seharga Rp. 30.000. Tapi karena kami mengambil dua pondok jadi didiskon menjadi Rp. 25.000 perpondok. Ada juga kamar mandi, penyewaan ban, atraksi air seperti banana boat dan speedboat, hingga warung yang menjual makanan dan celana renang. 

Danau Toba dari Pantai Garoga
Ada banana boat

Setelah meletakkan barang-barang di atas pondok, kami pun segera membuka bekal yang dibawa dari rumah. Dan acara makan siang di pinggir Danau Toba pun kami mulai dengan membaca doa. Uhhh.... nikmat banget rasanya makan siang dengan pemandangan Danau Toba. Angin yang bertiup dari arah danau juga membuat cuacanya menjadi adem.

Danau Toba dari Pantai Garoga

Setelah selesai mengisi perut, saatnya bermain air. Tak seperti pantai pada umumnya yang berpasir putih, Pantai Garoga ini memiliki tepian berupa bebatuan. Bebatuannya pun beragam ukuran, mulai dari yang sekecil upil sampe yang segede dosa. Bahkan saking besarnya, ada juga batu yang menyembul ke permukaan danau. Batu besar ini pun menjadi spot foto yang menarik, tapi harus hati-hati sih, karena batunya sedikit licin. 

Danau Toba dari Pantai Garoga
Pantainya berbatu
Danau Toba dari Pantai Garoga
Batu gede di Pantai Garoga

Airnya pun jernih banget, bahkan dasar bebatuannya terlihat jelas. Ikan-ikan kecil juga sesekali terlihat berenang dengan menggemaskan. Mau ditangkap tapi terlalu lincah.

Enaknya Pantai Garoga ini memiliki tepian yang tak begitu dalam, jadi cukup aman untuk berenang di pinggir-pinggirnya. Namun pada jarak 15 meter dari bibir pantai, dasarnya tiba-tiba menjadi dalam banget, seperti ada jurang. Jadi jika main air di sini, jangan sampe terlalu ke tengah danau. Berbahaya cuy. 

Danau Toba dari Pantai Garoga
Adik angkatku yang tak bisa berenang
Danau Toba dari Pantai Garoga
Bercengkrama di tepi Danau Toba

Tuesday, October 13, 2020

Wisata di Bengkulu: Lengkap dengan Transportasi, Penginapan dan Oleh-Oleh Khasnya

Hai sahabat backpacker

Seperti biasa, di akhir perjalananku ke suatu daerah maka aku akan menyajikan daftar tempat-tempat wisata yang bisa dikunjungi di daerah tersebut beserta akomodasinya.

Kali ini aku mau berbagi informasi mengenai tempat-tempat wisata yang ada di Kota Bengkulu. Daftar ini ku buat berdasarkan tempat-tempat yang memang telah kukunjungi. Jadi bisa dijamin kebenaran tempatnya. Daftar ini akan kutambah jika nanti aku berkunjung lagi ke Bengkulu.

Baiklah, inilah daftar objek wisata yang ada di Bengkulu:

1.    Pantai Panjang

Pantai Panjang bisa dibilang ikon wisatanya Kota Bengkulu. Jadi belum sah rasanya ke Bengkulu kalo belum ke pantai ini. Sesuai namanya, pantai ini memiliki bibir pantai yang panjang yang mencapai 7 km dengan pantai berupa pasir putih.

Pantai ini letaknya tak jauh dari pusat Kota Bengkulu, jadi cukup mudah untuk dikunjungi. Waktu terbaik mengunjungi pantai ini adalah ketika sore hari. Karena pantai ini tepat menghadap ke barat sehingga pemandangan sunsetnya juara. 

Selengkapnya bisa dibaca di sini: Pantai Panjang Bengkulu, Sunsetnya Juara

Pantai Panjang Bengkulu

2.    Pantai Tapak Paderi

Pantai Tapak Paderi adalah salah satu pantai lainnya yang ada di Kota Bengkulu. Pantai ini masih terhubung dengan Pantai Panjang. Pantai ini juga memiliki pantai berupa pasir putih yang halus. Asyiknya, di pantai ini terdapat banyak perahu-perahu nelayan yang sedang bersandar. Selain itu, karena pantainya membentuk teluk jadi di seberang lautannya terlihat daratan dengan pemandangan bukit-bukit dan gunung yang hijau. Cakep lah. 

Selengkapnya bisa dibaca di sini: Pantai Tapak Paderi, Pondok Sendal Jodoh dan Bunker Jepang

Pantai Tapak Paderi

3.    Pondok Sendal Jodoh

Pondok Sendal jodoh terletak di dalam kawasan Pantai Tapak Paderi. Di pondok ini terdapat dinding bambu yang ditempeli ratusan sendal bekas yang hanyut terbawa arus ombak. Tujuan pembuatan pondok ini adalah untuk mengingatkan pengunjung agar tidak membuang sampah sembarangan, apalagi ke lautan. 

Selengkapnya bisa dibaca di sini: Pantai Tapak Paderi, Pondok Sendal Jodoh dan Bunker Jepang 

Pondok Sendal Jodoh

4.    Danau Dendam Tak Sudah

Namanya emang serem sih, tapi pemandangan di danau ini cakep banget. Danaunya cukup luas dan pemukaan airnya tenang dan bersih. Di sekitar danau juga banyak pepohonan rindang yang membuat suasananya semakin adem. Di sini juga banyak penjual es kelapa muda. Jadi kita bisa menikmati segarnya es kelapa muda sembari melihat indahnya alam Danau Dendam Tak Sudah.

Selengkapnya bisa dibaca di sini: Danau Dendam Tak Sudah Bengkulu, Tempat Asyik Untuk Bersantai

Danau Dendam Tak Sudah

5.    Benteng Marlborough

Benteng Marlborough merupakan benteng peninggalan Inggris yang dibangun pada tahun 1713. Dulunya benteng ini menjadi benteng ppertahanan terkuat kedua milik Inggris di wilayah timur setelah Benteng St. George yang ada di Madras, India.

Saat ini, Benteng Marlborough menjadi salah satu destinasi wisata yang populer di Bengkulu. Selain bisa mengagumi arsitektur bentengnya yang megah, pengunjung juga bisa belajar sejarah perjuangan rakyat Bengkulu melawan penjajahan melalui koleksi bersejarah yang dipamerkan di dalam benteng ini.

Selengkapnya bisa dibaca di sini: Fort Marlborough, Benteng Inggris di Kota Bengkulu

Benteng Marlborough

6.    Bunker Jepang

Bunker Jepang adalah salah satu bangunan cagar budaya yang ada di Bengkulu. Bunker ini dibangun pada masa pendudukan Jepang di tahun 1942 hingga tahun 1945. Bangunan bunkernya masih berdiri kokoh, hanya saja kurang terawat. 

Selengkapnya bisa dibaca di sini: Pantai Tapak Paderi, Pondok Sendal Jodoh dan Bunker Jepang

Bunker Jepang

7.    Rumah Pengasingan Bung Karno

Rumah bersejarah ini merupakan rumah yang menjadi tempat tinggal Bung Karno ketika diasingkan Belanda ke Bengkulu pada tahun 1938 hingga tahun 1942. Rumah pengasingan ini masih terawat dengan baik dan di dalamnya terdapat banyak barang-barang koleksi yang berkaitan dengan Bung Karno. Btw, harga tiket masuknya cuma Rp. 3000 aja loh.

Selengkapnya bisa dibaca di sini: Rumah Pengasingan Bung Karno di Bengkulu

Rumah Pengasingan Bung Karno di Bengkulu

8.    Rumah Ibu Fatmawati

Terletak tak jauh dari Rumah Pengasingan Bung Karno, rumah bersejarah ini juga menyimpan berbagai barang bersejarah milik Ibu Fatmawati, termasuk mesin jahit yang dulu digunakan beliau untuk menjadi bendera Merah Putih yang dikibarkan pada peristiwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945.

Selengkapnya bisa dibaca di sini: Mengunjungi Rumah Ibu Fatmawati

Rumah Ibu Fatmawati

9.    Masjid Jamik Bengkulu

Masjid Jamik Bengkulu adalah salah satu masjid tertua di Kota Bengkulu dan dibangun sejak abad ke-18. Ketika Bung Karno diasingkan ke Bengkulu, beliau pula lah yang mendesain renovasi masjid ini dan hingga sekarang desain rancangan Bung Karno masih dipertahankan di masjid ini.

Selengkapnya bisa dibaca di sini: Masjid Jamik Bengkulu

Masjid Jamik Bengkulu

10. Museum Negeri Bengkulu

Terletak di Padang Harapan, Kecamatan Gading Cempaka, Kota Bengkulu, museum ini menyimpan berbagai barang koleksi dari sejarah dan budaya masyarakat Bengkulu. Tiket masuk ke museum ini juga sangat terjangkau karena peorangnya hanya perlu membayar Rp. 3000 aja.

Selengkapnya bisa dibaca di sini: Museum Negeri Bengkulu, Mengenal Sejarah dan Budaya Bengkulu

Museum Bengkulu

11. Tugu Simpang Lima Ratu Samban

Tugu ini terletak di Pusat Kota Bengkulu, tepat di persimpangan lima jalan. Nama simpangnya diambil dari tokoh pahlawan setempat, Ratu Samban, yang gigih berjuang melawan penjajahan. Sedangkan tugunya sendiri berupa patung Ibu Fatmawati yang sedang menjahit bendera Merah Putih.

Selengkapnya bisa dibaca di sini: Simpang Lima Ratu Samban

Simpang Lima Ratu Samban

12. Monumen Thomas Parr

Monumen ini dibangun pada tahun 1808 oleh pihak Inggris untuk memperingati peristiwa terbunuhnya Thomas Parr, seorang Residen Inggris yang berkedudukan di Bengkulu. Thomas Parr tewas di tangan rakyat Bengkulu yang marah karena kepemimpinannya yang kejam dan zalim.

Selengkapnya bisa dibaca di sini: Tugu Thomas Parr, View Tower dan Gedung Daerah Provinsi Bengkulu

Monumen Thomas Parr

13. Alun-Alun Kota Bengkulu dan View Tower

Alun-Alun Kota Bengkulu merupakan tempat nongkrong yang cukup ramai di sore hari. Di alun-alun ini terdapat banyak pedagang makanan, mulai dari makanan ringan hingga makanan berat. Selain itu, di sini juga banyak pedagang mainan anak-anak, sehingga cocok dikunjungi bareng keluarga.

Di tengah alun-alunnya berdiri sebuah menara bernama View Tower. Menara setinggi 43 meter ini rencananya difungsikan sebagai menara pemantau tsunami dan bisa diakses oleh publik. Namun sayangnya hingga sekarang View Tower tak pernah dioperasikan. 

Selengkapnya bisa dibaca di sini: Tugu Thomas Parr,View Tower dan Gedung Daerah Provinsi Bengkulu

View Tower

14. Gedung Daerah Provinsi Bengkulu

Gedung Daerah Provinsi Bengkulu adalah salah satu bangunan bersejarah di Kota Bengkulu. Dulunya gedung ini merupakan tempat tinggal bagi Residen Inggris yang memimpin Bengkulu. Saat ini, Gedung Daerah Provinsi Bengkulu dijadikan sebagai rumah dinas Gubernur Bengkulu dan masih terawat dengan baik. 

Selengkapnya bisa dibaca di sini: Tugu Thomas Parr, View Tower dan Gedung Daerah Provinsi Bengkulu

Gedung Daerah Provinsi Bengkulu

          Cara Menuju Bengkulu

Ada beberapa cara untuk mengunjungi Kota Bengkulu. Cara pertama dan paling mudah adalah dengan menggunakan pesawat terbang. Bengkulu memiliki satu bandara bernama Bandara Fatmawati Soekarno. Bandara ini melayani penerbangan domestik dan internasional.

Bandara Fatmawati Soekarno terletak di Jalan Raya Padang Kemiling, Kecamatan Slebar, Kota Bengkulu. Jarak bandara ke pusat kota sekitar 14 km dan bisa menggunakan bus Damri, taksi bandara serta angkutan travel untuk menuju pusat kota.

Selain pesawat, juga bisa menggunakan transportasi bus. Ada beberapa bus yang memiliki trayek langsung ke Kota Bengkulu seperti Bus Putra Simas, PO SAN, Putra Rafflesia dan bus lainnya. Selain trayek langsung, teman-teman juga bisa naik bus tujuan Kota Lubuk Linggau di Sumatera Selatan. Dari kota tersebut tinggal naik bus tujuan Kota Bengkulu.

Tentang Bus Putra Simas bisa dibaca di sini: Perjalanan Menuju Bengkulu dengan Bus Putra Simas

Bus Putra Simas 

Selain itu, Bengkulu juga memiliki pelabuhan, yaitu Pelabuhan Pulau Baai. Dulunya pelabuhan ini melayani rute ke Jakarta dan Padang. Tapi sekarang aku tak menemukan informasi selain tentang kapal dengan rute Bengkulu menuju Pulau Enggano, salah satu pulau terluar di Provinsi Bengkulu. Mungkinkah rutenya udah ditutup?

Transportasi di dalam Kota Bengkulu

Saat ini Kota Bengkulu telah dilengkapi dengan kendaraan umum dalam kota berupa bus Trans Rafflesia Bengkulu. Bus ini akan membawa penumpang melalui beberapa destinasi wisata seperti Pantai Panjang, Benteng Marlborough, Danau Dendam dan pusat kota. Selain Trans Bengkulu, teman-teman juga bisa mengandalkan angkot serta babang ojol.

           Penginapan di Bengkulu

Ada banyak penginapan yang tersedia di Kota Bengkulu dengan harga yang beragama di mulai dari kurang Rp, 100.000 permalam. Penginapan-penginapan ini umumnya terletak tak jauh dari pusat kota dan objek-objek wisata yang ada di Bengkulu. Saya sendiri kemarin menginap di Tropicana Guest House yang terletak tak jauh dari Pantai Panjang dan Rumah Pengasingan Bung Karno. Di sini permalamnya cuma Rp. 110.000 dan udah dapat sarapan pagi.

Selengkapnya bisa dibaca di sini: Menginap di Tropicana Guest Hotel Bengkulu

Tropicana Guest House

           Oleh-Oleh Khas Bengkulu

Ada banyak oleh-oleh khas Bengkulu yang bisa bawa sebagai buah tangan ketika pulang dari Bengkulu seperti Lempuk Durian, Manisan Terong, Perut Punai, Kue Tat, hingga Kopi Bengkulu,

Selain makanan, juga banyak pernak-pernik yang tersedia seperti Batik Besurek, baju kaos bergambar khas Bengkulu hingga kerajianan dari kulit kayu lantung seperti gantungan kunci dan miniatur bunga rafflesia.

Untuk membeli oleh-oleh ini bisa di banyak tempat seperti Pantai Panjang dan Benteng Marlborough. Tapi menurutku tempat terbaik untuk berburu oleh-oleh ada di Sentra Oleh-Oleh Khas Bengkulu yang terletak tak jauh dari Simpang Lima Ratu Samban. Di tempat ini terdapat beberapa toko yang menjual oleh-oleh khas Bengkulu dengan harga yang terjangkau dan barangnya pun lengkap.

Monday, October 5, 2020

Danau Dendam Tak Sudah Bengkulu, Tempat Asyik Untuk Bersantai

Danau Dendam Tak Sudah

Hai sahabat backpacker, hari ini adalah hari kedua ku di Bumi Rafflesia. Setelah kemarin aku udah menjelajahi beberapa objek wisata yang ada di Kota Bengkulu, dan pagi tadi aku juga udah menyelesaikan ujian yang harus ku ikuti. Maka sebelum pulang ke kampung halaman di esok hari, aku pun memutuskan untuk melakukan petualangan lagi di siang menjelang sore ini dan tujuanku adalah Danau Dendam Tak Sudah.

Unik bangetkan namanya?

Sejarah Nama Danau Dendam Tak Sudah

Nama danau ini memang terdengar unik dan cukup serem juga sih. Ada beberapa versi cerita tentang asal muasal penamaan danau ini. Yang pertama adalah cerita tentang seekor buaya yang kehilangan ekornya karena bertarung dengan buaya Lampung. Hal inilah yang membuat sang buaya memendam dendam tak berkesudahan terhadap buaya Lampung.

Cerita yang kedua yaitu tentang kisah cinta sejoli yang tak direstui oleh orang tua mereka sehingga mereka bunuh diri di danau ini dan menjadi lintah raksasa yang menyimpan dendam tak berkesudahan akibat kisah cinta yang tragis.

Dan yang terakhir adalah cerita tentang pemerintah kolonial yang dulunya ingin membangun DAM di danau ini. Namun pembangunan dam ini tak pernah selesai alias dan berkesudahan hingga disebut Dam tak sudah.

Memang ada banyak versi sih dan terserah mau mempercayai versi yang mana pun. Namun yang pasti danau ini jadi punya nama yang unik dan menarik sehingga membuatku tertarik untuk melihat danau ini secara langsung.

Alamat Danau Dendam Tak Sudah

Danau Dendam Tak Sudah terletak di Jalan Danau, Dusun Besar, Kecamatan Singaran Pati, Kota Bengkulu.

Jalan Danau, Kota Bengkulu

Cara menuju Danau Dendam Tak Sudah

Danau ini letaknya ada di tepian Kota Bengkulu. Untuk mencapainya bisa menggunakan ojol dengan harga sekitar Rp. 10.000 dari pusat kota. Kalo untuk angkutan umum, aku kurang tau sih. Tapi biasanya bus-bus antar kota antar provinsi melewati danau ini untuk keluar dari Kota Bengkulu. Aku sendiri pergi ke sana dengan mengandalkan babang ojol. Brmmmm... brmmm... maju bang.

View Danau Dendam Tak Sudah

Tak sampai 10 menit berkendara dari pusat kota, kami pun tiba di kawasan Danau Dendam Tak Sudah. Namun karena tidak ada spot khusus yang disediakan di danau ini, maka aku berhenti di salah satu warung yang menjajakan kelapa muda yang ada di pinggir danau. Warung-warung ini menyediakan bangku-bangku yang menghadap ke arah danau.

Bangku-Bangku di tepi Danau Dendam Tak Sudah

Setelah memesan kelapa muda agar nggak segan buat duduk-duduk di sana, aku pun segera mengambil posisi menghadap ke arah Danau Dendam Tak Sudah. Meski nama danau ini serem, namun pemandangan yang terlihat dari tepian danau ini cukup indah.

Danaunya luas dan perairannya tenang, bersih dan jernih. Sedangkan di seberang sana, di kejauhan terlihat deretan pegunungan yang seolah-olah memagari keindahan alam Danau Dendam Tak Sudah ini.

Pepohonan yang rindang di tepi danaunya, angin yang bertiup sepoi-sepoi dan segarnya es kelapa muda juga membuat aku merasa nyaman banget buat duduk nyantai di sini sambil menikmati indahnya pemandangan alam.

Es kelapa muda di Danau Dendam Tak Sudah

Pepohonannya rindang

Di kejauhan terlihat barisan pegunungan

Menurutku sih danau ini juga spot yang cantik untuk melihat matahari terbit karena posisinya yang menghadap ke sisi timur. Sayangnya aku nggak berani untuk datang ke sini pagi-pagi buta sendirian, tapi kalo rame-rame, seru juga kayaknya. Mungkin ada teman-teman yang tertarik?

Sang backpacker di Danau Dendam Tak Sudah

Wednesday, April 15, 2020

Danau Toba dari Paropo, Juara

Yok ke tempat selanjutnya kita, sebelum terlalu sore biar pulangnya nggak kemalaman.

Ajakku pada mereka yang masih asyik berfoto-foto di Taman Bunga Sapo Juma. Meski udah berfoto di semua sudut taman bunga tersebut, mereka belum juga berhenti. -_-

Brrmm.... Brmmmm....

Bang Fajar kembali mengendalikan mobil yang kami naiki. Tujuan kami selanjutnya adalah Paropo, sebuah desa kecil yang berada di tepian Danau Toba dan katanya punya pemandangan yang cukup indah. Untuk menuju desa ini, kami harus melewati jalur yang menurun curam dan berkelok-kelok hingga tiba di Desa Tongging. Setelah itu barulah menyusuri jalanan aspal yang berada di tepian Danau Toba.
Paropo
Memang sedikit ekstrim jalanannya, tapi pemandangannya juara, karena di sepanjang jalan kami bisa melihat indahnya Danau Toba di sisi kiri. Sedangkan di sisi kanan ada pemandangan perbukitan hijau yang menjulang tinggi. Cakep...

Lokasi Paropo

Paropo ini berada di Kecamatan Silalahisabungan dan udah masuk wilayah Kabupaten Dairi, Sumatera Utara. Untuk menuju ke tempat ini bisa masuk dari kawasan wisata Air Terjun Sipiso-Piso dan melalui Desa Tongging. Dari sana hanya sekitar 30 menit aja dan udah sampe di Paropo ini.

Lanskap Paropo

Begitu tiba di Paropo, aku langsung suka ama pemandangan tempat ini. Soalnya pemandangannya indah banget. Bahkan katanya Paropo ini Ranu Kumbolonya Sumatera Utara. Tapi untuk melihat momen itu sebaiknya di pagi hari, di saat matahari terbit. Karena kami tiba di tempat ini saat sore, jadi kurang terasa Ranu Kumbolo ala-alanya.

Meski begitu pemandangan di tempat ini masih tetap juara. Di depan terhampar pemandangan Danau Toba yang begitu luas, airnya yang jernih membuat aku bisa melihat ikan-ikan yang berenang di sela-sela bebatuan. Gemes sih liat tuh ikan, tapi tetap aja nggak bisa kutangkap dengan tangan.
Danau Toba dari Paropo, luas cuy
Di kejauhan juga terlihat Pulau Samosir, pulau vulkanik yang ada di tengah-tengah Danau Toba. Sedangkan di sekeliling terlihat perbukitan hijau yang memanjang mengelilingi Danau Toba. Perbukitan ini menjulang tinggi seolah-olah menjadi guardian bagi keindahan alam Danau Toba. Keren.... 
Bukit hijau yang menjulang tinggi



Satu hal yang menambah keindahan Paropo ini adalah adanya satu pulau kecil yang letaknya nggak jauh dari tepian danau. Untuk mencapai pulau kecil ini ada 3 opsi, yang pertama berenang sampe gempor lalu tenggelam. 🤣 Lalu yang kedua melalui jembatan kecil serta yang ketiga menggunakan getek alias rakit yang udah diikat tali.

Berhubung lokasi kami menyewa pondok kecil ini menyediakan getek, jadi cara terbaik buat ke pulau itu ya naik getek dan kata si Ibu yang punya pondok, naiknya gratis bolak balik sebagai bonus menyewa pondoknya. Mantap!

Pemandangan di pulau kecil ini juga cukup cantik. Di sekitaran pulau ada banyak batu-batu besar yang bertebaran. Dari sini juga bisa melihat Danau Toba dengan lebih luas lagi. Yang asyiknya lagi, di sini anginnya bertiup sepoi-sepoi. Jadi nyaman banget buat duduk santai menikmati pemandangan.
Pulau kecil di Paropo

Pemandangan dari pulaunya

Jembatan penghubung menuju pulau
Puas menikmati pemandangan dari pulau kecil ini, aku kembali ke pondok melalui jembatan.

Bang, fotoin kami dong!” Pinta Dewi dan pacarnya yang lagi duduk di ayunan.

Boleh.”

Cekrek... Cekrek...

Aku mengambil beberapa foto mereka. Setelah itu mereka pergi entah kemana. Aku kemudian duduk di kursi besi yang ada di depan ayunan tersebut, Sedangkan di atas rakit kulihat Bayu dan Putri berdua doang sedang menuju pulau.
Dewi dan pacarnya
Woy!! Jangan melamun aja Bang.” Ujar Selly mengagetkanku.

Ahahaha... Nggak melamun kok.” Balasku.

Selly kemudian duduk di sebelahku dan ikutan menatap senja yang perlahan turun di Danau Toba mengubah langit yang tadinya biru menjadi jinga pucat.

Ah.. sebentar lagi malam tiba di sini. 

Note: Perjalanan ini dilakukan sebelum Covid-19 mewabah, stay at home ya sahabat.
Selly, adiknya Bayu


Senja yang menyapa Paropo

Sang backpacker






Tuesday, April 7, 2020

Pendakian ke Gunung Sipiso-Piso

Di suatu malam yang tenang saat dunia masih aman dari pandemi, dan aku sedang menikmati makan malamku saat itu. Masuklah sebuah chat ke gawai favoritku dari seorang mahasiswa UINSU yang juga merupakan teman kuliah adikku. Chat itu berisi ajakan untuk memandu mereka mendaki Gunung Sipiso-Piso alias Bukit Gundul yang ada di Kabupaten Karo, Sumatera Utara.
Siluet pagi di Puncak Gunung Sipiso-Piso
Gunung Sipiso-Piso
Berhubung aku juga lagi nggak sibuk-sibuk banget, jadi kuterima ajakan mereka dan segera mempersiapkan segala keperluan. Oh ya, mereka juga minta pendakiannya berkonsep piknik, jadi naik gunung ini hanya untuk rekreasi santai semata. Baiklah...

Ketika hari H nya tiba, kami pun segera berangkat menuju Gunung Sipiso-Piso dengan menggunakan bus yang kami sewa untuk mengantarkan kami sampe ke kaki gunung dan esok paginya kami akan dijemput kembali.

Lokasi Gunung Sipiso-Piso

Gunung Sipiso-Piso ini terletak di Kecamatan Merek, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Kalo dari Medan palingan cuma 3 jam doang untuk menuju kaki gunungnya. Oh ya, gunung ini letaknya juga nggak jauh dari Danau Toba, dari puncaknya juga bisa melihat pemandangan Danau Toba, cakep cuy.

Gunung ini terbentuk dari batuan lava andesite akibat aliran magma di bawah permukaan bumi. Gunungnya memiliki ketinggian hingga 1900 mdpl. Gunung ini juga dikenal dengan mama Bukit Gundul karena pepohonan cuma tumbuh di sepanjang jalur pendakian dan bagian puncaknya doang. Sedangkan bagian tubuh gunung ini cuma ditumbuhi rerumputan doang.
Plang informasi Gunung Sipiso-Piso
Setelah berdoa bersama, kami pun memulai trekking pendakian menuju puncak gunung ini. Enaknya gunung ini punya jalur pendakian yang sudah diaspal, walaupun aspalnya udah rusak, tapi memudahkan untuk melakukan pendakian.

Sunset di Gunung Sipiso-Piso

Sekitar 1 jam lebih kemudian kami sampe juga di puncak Gunung Sipiso-Piso ini. Bersamaan dengan itu, matahari terbenam pun menyapa kami, cahayanya yang jingga pucat mengintip malu-malu dari balik awan dan pegunungan Bukit Barisan di ufuk barat. Sayangnya karena aku harus mendirikan tenda, aku tak bisa menikmati saat-saat matahari terbenam tersebut.
Cahaya matahari senja mengintip di balik awan

Biasa cahaya senja di Danau Toba
Tak lama, kegelapan pun mulai menyelimuti puncak Gunung Sipiso-Piso ini. Bermodalkan cahaya api unggun yang tertiup angin, kami menikmati makan malam yang sederhana, sederhana tapi lauknya ayam bakar. 🤣

Karena mereka pengennya sambil piknik, jadi sebelum pendakian mereka udah nyiapin semua kebutuhan logistik sampe cemilan pun ada banyak. Mantap uy.

Tapi karena suhu udara yang makin turun dan angin yang bertiup cukup kencang, membuat kami tak berlama-lama di luar tenda. Jam 9 malam kami sudah masuk ke tenda masing-masing dan berharap terlelap agar paginya bisa menikmati sunrise yang indah.

Zzz....

Woy bangun Woy, sunrise woy. Mataharinya cantik kali, bulat banget.” Tiba-tiba di luar udah heboh aja. Kulihat layar hape, masih jam 4 pagi.

Mana ada jam 4 sunrise.” Ucapku sambil melongokkan kepala dari pintu tenda.

Itu bang, mataharinya bulat banget.” Jawab Elsa, salah satu anggota pendakian ini sambil menunjuk ke arah barat.

Ha?? Itu bulan, bukan matahari, ya ampun.. tidur lagi kalian.” Perintahku saat menyadari kenyataan.

Bisa-bisanya mereka nyangka bulan purnama itu matahari, sampe pake selfie pulak itu. Ya ampun.... Mengigau kok sampe separah itu dan sampe satu tenda pula.

Nggak paham lagi aku cuy.

Tidur aja lah lagi.

Zzz....

Sunrise dari Puncak Gunung Sipiso-Piso

Jam 5.30 aku pun bangun kembali dan mulai membangunkan mereka yang masih tertidur agar segera beribadah dan bisa melihat sunrise yang asli. Bukan bulan purnama. -_-

Tak lama di ufuk timur terlihat semburat cahaya kemerahan, tanda sang penguasa siang itu telah bangun. Perlahan cahaya kemerahan itu semakin meluas memenuhi langit di sisi timur. Semakin lama cahayanya semakin terang hingga permukaan Danau Toba yang tenang dan pinggirannya yang berkelok-kelok bisa terlihat. Bahkan Pulau Samosir di seberang sana pun terlihat. Indah banget cuy.
Semburat kemerahan di ufuk timur
Pagi di atas Danau Toba
Setengah jam kemudian, sang raja itu pun akhirnya terlihat. Cahayanya yang hangat menyinari segenap permukaan. Segera aku mengabadikan moment tersebut. Sungguh, ini salah satu pemandangan terindah yang pernah kulihat.
Sang matahari menampakkan diri
Cahaya matahari yang hangat terlihat membias di permukaan air Danau Toba yang tenang. Di sekeliling Danau Toba nampak pula perbukitan hijau yang berkelok-kelok. Perpaduan warna yang ada menghasilkan gradasi warna yang begitu indah. Sungguh indah sekali.
Luar biasa indahnya

Danau Toba dari atas Gunung Sipiso-Piso

Alam Indonesia juara banget

Menikmati cahaya matahari pagi
Satu lagi yang menarik dari puncak gunung ini adalah lekuk-lekuk daratan di pinggir Danau Toba terlihat persis sama dengan gambar Danau Toba yang ada di Uang Rupiah 1000 emisi 1992. Yupz.. gambar Danau Toba di uang tersebut memang diambil dari tempat ini. Keren banget cuy. Sumpah, keren banget.
Kelok-kelok dataran di pinggir Danau Toba

Uang Rp. 1000 dan Danau Toba

Sang backpacker menanti pagi