Tuesday, April 14, 2020

Ada Kenangan Mantan di Taman Bunga Sapo Juma

Brrmmm..... Brmmm.....

Bang Fajar kembali mengendalikan mobil dari balik setir kemudi setelah sebelumnya kami menikmati hangatnya Pemandian Air Panas Sidebuk-Debuk dan sekalian sarapan di sana. Sekarang kami pun melanjutkan acara jalan-jalan satu hari di Tanah Karo dan berencana untuk mengunjungi Taman Bunga Sapo Juma.

Sebenarnya Aku, Selly dan Putri pengen ke Kebun Madu Efi yang juga merupakan taman bunga. Tapi karena lokasinya beda jalur dengan destinasi kami yang selanjutnya, jadi kami ke Taman Bunga Sapo Juma aja.
Taman Bunga Sapo Juma
Lokasi Taman Bunga Sapo Juma dan Tiket Masuknya

Taman Bunga ini berada di Desa Tongging, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Lokasinya berada dalam satu kawasan dengan Air Terjun Sipiso-Piso. Tepatnya berada di dekat lokasi puncak dari Air Terjun Sipiso-Piso.

Untuk menuju tempat ini bisa masuk dari kawasan wisata Air Terjun Sipiso-Piso dan belok ke kiri sebelum lokasi parkir air terjunnya. Dari sana palingan 5 menit doang dan sampe deh di Taman Bunga Sapo Juma.

Harga tiket masuknya sendiri cuma Rp. 10.000 aja perorang tanpa dipungut biaya parkir. Namun saat mau masuk kawasan Sipiso-Piso, perorangnya juga harus membayar biaya retribusi sebesar Rp. 5000 yang bisa digunakan untuk masuk ke Air Terjun Sipiso-Piso, Desa Tongging dan Taman Bunga ini.

Lanskap Taman Bunga Sapo Juma

Taman Bunga Sapo Juma ini sebenarnya milik pribadi. Awalnya bunga-bunga yang ada di taman ini ditanami oleh pemilik villa di kawasan ini. Tapi karena tamu villa sangat menyukai pemandangan bunga yang cakep ini, akhirnya taman bunganya pun dibuka untuk umum.

Bunga-bunganya berwarna-warni dan ditata dengan sangat baik. Di tengah-tengah kebun bunganya juga ada jalur setapak yang bisa dipake pengunjung untuk berfoto di tengah-tengah hamparan bunga tanpa harus menginjak dan merusak kebun bunga.
Jalur setapak buat foto-foto
Tanah di kebun bunga ini juga membentuk lembah dan bukit kecil. Di tengah bukitnya pun ada satu gazebo kecil berwarna putih. Gazebonya cakep juga dan menyatu dengan alam taman bunga.
Gazebo putih
Selain itu, pemandangan dari taman bunga ini juga cukup indah. Karena selain bunga berwarna-warni dan hamparan rumput yang hijau, juga terlihat Gunung Sipiso-Piso dan Danau Toba sebagai latarnya. Cakep lah pokoknya.
Bunga-bunga yang cantik

Rumput hijau nan luas

Berlatarkan Gunung Sipiso-Piso

Danau Toba pun terlihat
Sayangnya aku nggak begitu menikmati wisata di sini. Bukan karena pemandangannya, tapi lebih ke perasaan pribadi sih. Soalnya ini adalah kunjungan kedua ku ke tempat ini. Sebelumnya aku memang pernah ngunjungi Taman Bunga Sapo Juma bersama pacar yang udah jadi mantan. Sebenarnya perjalanannya seru, tapi beberapa hari doang setelah perjalanan itu dia malah ketangkap basah sedang selingkuh.

Asem kali.

Syukurnya sih aku bisa move on dengan cepat, karena ogah banget mikirin tuh cewek. Tapi tetap aja nggak enak rasanya ngunjungi tempat yang sama seperti ini. Selain itu, kawanku, si Bayu dan Putri yang cuma temen kata Bayu malah asyik foto-foto berdua di tengah taman bunga dengan berbagai gaya.
Ada kenangan mantan
Ah... Atau aku sebenarnya hanya kesal ama kata “Cuma temen" itu ya?

Atau gabungan keduanya?

Ntah lah.

Hmm... Cuma temen, kata Bayu.

Note: Perjalanan ini dilakukan sebelum covid-19 mewabah, tetap di rumah ya sahabat
Sang backpacker di kebun bunga

Monday, April 13, 2020

Terlalu hangat di Pemandian Air Panas Sidebuk-Debuk

Cuy, buatin itenary satu hari wisata di Berastagi dan sekitarnya dong!” Begitulah kira-kira chat dari Bayu, sahabat dekatku beberapa waktu yang lalu sebelum wabah ini menguasai dunia. Setelah mendengarkan detail rencana perjalanannya, aku pun membuatkan sebuah itenary lengkap dengan beberapa objek wisata yang ada di Berastagi dan sekitarnya.

Cuy, ikut yuk, kurang satu nih.” Tambahnya lagi.

Emang siapa aja yang ikut cuy?” Tanyaku.

Cuma adikku dan kawan kita aja cuy.

Boleh-boleh, aku ikut kalo gitu.” Jawabku.

Siip... Biar ada penunjuk jalan dan pemandu gratis.

Asem.. memang kampret kali kawan satu nih.

Setelah magrib, aku segera ke rumah Bayu karena kami berangkat dari sana. Rencanaku sih kami berangkat jam 10 dan paling telat jam 11 malam, tapi akhirnya molor dan jam 1 baru berangkat.

Jam karet.

Kata Bayu yang ikut hanya adiknya dan kawan kita aja. Emang bener sih, yang ikut cuma adiknya, Selly dan Dewi yang bareng cowoknya serta Bang Fajar yang nyetir. Tapi temen yang dimaksud Bayu ini ternyata Putri, adik kelas kami saat SMA. Cuma temen aja yang ikut katanya. Tapi mereka duduknya sebelahan, dan kepala si Putri nyander di bahunya Bayu di hampir sepanjang perjalanan.

Iya, cuma temen kita aja yang ikut, gitu katanya.

Cuma temen....

Udah ah.. kembali ke cerita.

Karena berangkatnya telat, akhirnya momen sunrise di tepian Danau Toba harus dicoret dan kami langsung menuju destinasi selanjutnya yaitu Pemandian Air Panas Sidebuk-Debuk.

Lokasi Pemandian Air Panas Sidebuk-Debuk

Pemandian Air Panas Sidebuk-Debuk ini berada di Desa Semangat Gunung, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Pemandian ini letaknya tepat di kaki Gunung Sibayak, salah satu gunung berapi di Tanah Karo. Kalo dari Kota Medan, simpang ke pemandian ini letaknya sebelum Kota Berastagi.
Gunung Sibayak dari Pemandian Air Panas Sidebuk-Debuk
Berendam Sejenak

Salah satu pemandian air panas yang paling terkenal di tempat ini adalah Pemandian Air Panas Pariban, karena menjadi salah satu pemandian yang terbesar dan punya fasilitas lengkap sampe hiburannya pun ada seperti waterpark. Tapi karena saat itu hari libur, jadi pemandian ini penuh sesak dengan pengunjung.

Oleh karena itu, kami mencari pemandian yang lain. Di desa ini pun ada belasan pemandian lain dengan fasilitas utama yang hampir sama aja dan tiket masuknya juga sama yaitu Rp. 10.000 perorang dan kami memilih Pemandian Anugerah sebagai tempat main air panas.
Selamat datang di pemandian
Petunjuk arah toilet. :D

Kondisi Pemandian Anugerah

Seluncuran juga ada
Tapi lagi-lagi karena penuh, kami berendamnya di kolam umum, bukan kolam vip atau kolam keluarga. Nggak apa-apa deh, kolamnya juga luas. Air di pemandian ini bersumber dari mata air panas di Gunung Sibayak yang dialirkan melalui pipa-pipa. Air panasnya juga mengandung belerang sehingga katanya baik untuk kesehatan kulit.

Badan yang dingin karena berada di kaki gunung langsung terasa hangat saat mencelupkan diri ke dalam kolam air panas ini. Pegal-pegal di badan karena di jalan sepanjang malam juga terasa hilang.

Selain itu, karena posisinya yang ada di kaki gunung sehingga aku juga bisa berendam sambil menikmati pemandangan Puncak Gunung Sibayak dari sini. Hangat, tenang dan damai.

Mantap cuy.

Sayangnya karena ini kolam umum, jadi ada beberapa hal yang merusak pemandangan indah itu dan salah satunya adalah pasangan yang lagi berendam di depanku. Sebenarnya nggak bisa disebut pasangan juga sih, karena sama-sama cewek walaupun cewek yang berperan sebagai cowok itu lebih ganteng dari cowok-cowok biasa.

Yang anjirnya, mereka itu peluk-peluknya, bahkan sesekali tangan si pemeran cowok singgah ke dada si cewek. Aih... Mana yang jadi ceweknya cakep banget lagi.

Aku pernah beberapa kali melihat cewek yang punya orientasi seperti ini dan anehnya yang berperan sebagai cewek selalu cantik pake banget. Tapi kok bisa sih cewek secantik itu malah sukanya ama cewek juga. Apa dia trauma disakiti cowok? Tapi cowok tolol mana sih yang tega nyakitin cewek secantik itu. Entahlah, nggak paham lagi aku cuy.

Yang pasti mereka masih saling bermesraan, saling memegang dada satu sama lain.

Aaahhh... Sesekali terdengar si cewek mendesah lirih.

Asem lah, nih blog perjalanan wisata kok jadi bahas ginian pulak.

Dah ah.. kita lanjutkan tentang destinasi berikutnya aja, di sini sudah terlalu hangat.

Daaaa..... 

To be continued...

Note: Perjalanan ini dilakukan sebelum covid-19 mewabah, tetap di rumah ya sahabat backpacker.
Bayu, Selly, Dewi, Pacar Dewi dan Putri.



Thursday, April 9, 2020

Pelangi Di Air Terjun Sipiso-Piso

Jangan ada satupun sampah yang tertinggal ya.” Ucapku ketika kami sedang membereskan alat-alat perkemahan kami pagi itu di Puncak Gunung Sipiso-Piso.
Yupz... Setelah paginya menyaksikan indahnya sunrise dari puncak gunung ini dengan latar Danau Toba, kami akan segera turun karena mini bus yang kami pesan akan segera datang menjemput kami. Anak-anak ini juga ngajak untuk sarapan dulu di area wisata Air Terjun Sipiso-Piso.
Air Terjun Sipiso-Piso
 Tak butuh waktu lama untuk turun dari gunung ini karena jalur pendakiannya yang mudah. Hanya sekitar 30 menit saja dan kami semua sudah sampe di kaki Gunung Sipiso-Piso. Dari sana kami lanjutkan jalan kaki ke arah Air Terjun Sipiso-Piso yang berjarak sekitar 1,5 km.

Setelah sedikit bernegosiasi dan minta diskon tiket masuk ke Air Terjun Sipiso-Sipo yang akhirnya dikasi potongan Rp. 1000 perorang, kami pun segera mencari warung makanan yang udah buka di pagi hari itu.

Menu yang kami pesan cukup sederhana, kebanyakan hanya mie ataupun nasi goreng. Tapi karena perut yang lapar, cuaca yang dingin, dan badan yang sedikit lelah membuat rasanya enak juga. Nyam..nyam...

Selesai dengan urusan perut, kami kemudian sedikit berwisata di Air Terjun Sipiso-Piso ini.

Lokasi Air Terjun Sipiso-Piso

Air Terjun Sipiso-Piso beralamat di Desa Tongging, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Air terjun ini letaknya tak jauh dari Gunung Sipiso-Piso, Danau Toba dan Taman Bunga Sopo Juma.

Lanskap Air Terjun Sipiso-Piso

Air Terjun Sipiso-Piso dikenal sebagai salah satu ikon wisata populer di Sumatera Utara bersama Danau Toba. Air terjun ini punya ketinggian hingga 120 meter dan di sekelilingnya ada tebing batu yang begitu terjal menjulang tinggi. Debit airnya yang deras membuat air terjun ini terlihat makin keren.

Nama air terjun ini juga diambil dari kata Pisau alias Piso dalam bahasa setempat yang diartikan bahwa aliran air terjunnya terasa tajam seperti pisau.
Debit airnya besar dan tajam seperti pisau
Untuk turun ke dasar air terjunnya sudah tersedia tangga ke bawah. Namun untuk turun harus melewati sekitar seribu anak tangga. Bikin gempor juga lah. Berhubung badan yang lelah dan waktu yang sedikit, kami hanya menikmati keindahan alam Air Terjun Sipiso-Piso ini dari atas saja.

Pemandangan air terjun dari atas juga cukup indah kok karena juga bisa melihat Danau Toba di satu sisi dan air terjun di sisi satunya. Apalagi saat itu ada momen yang tak terduga, yaitu munculnya pelangi dari aliran air terjun. Pelangi ini muncul ketika cahaya matahari datang dari arah depan air terjun dan terbiaskan oleh percikan aliran air terjun.
Danau Toba di satu sisi

Air Terjun Sipiso-Piso di sisi yang lain

Ada pelangi.. di air terjun

Momen yang langka nih
Sesekali pelanginya juga hilang ketika angin bertiup kencang dan muncul kembali saat aliran air terjunnya normal kembali. Padahal tanpa pelangi aja, air terjun ini udah cantik banget, ditambah dengan munculnya pelangi ini kecantikan Air Terjun Sipiso-Piso terasa makin mempesona. Mantap cuy.
Anggota pendakian

Sang backpacker unyu di Air Terjun Sipiso-Piso

Tuesday, April 7, 2020

Pendakian ke Gunung Sipiso-Piso

Di suatu malam yang tenang saat dunia masih aman dari pandemi, dan aku sedang menikmati makan malamku saat itu. Masuklah sebuah chat ke gawai favoritku dari seorang mahasiswa UINSU yang juga merupakan teman kuliah adikku. Chat itu berisi ajakan untuk memandu mereka mendaki Gunung Sipiso-Piso alias Bukit Gundul yang ada di Kabupaten Karo, Sumatera Utara.
Siluet pagi di Puncak Gunung Sipiso-Piso
Gunung Sipiso-Piso
Berhubung aku juga lagi nggak sibuk-sibuk banget, jadi kuterima ajakan mereka dan segera mempersiapkan segala keperluan. Oh ya, mereka juga minta pendakiannya berkonsep piknik, jadi naik gunung ini hanya untuk rekreasi santai semata. Baiklah...

Ketika hari H nya tiba, kami pun segera berangkat menuju Gunung Sipiso-Piso dengan menggunakan bus yang kami sewa untuk mengantarkan kami sampe ke kaki gunung dan esok paginya kami akan dijemput kembali.

Lokasi Gunung Sipiso-Piso

Gunung Sipiso-Piso ini terletak di Kecamatan Merek, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Kalo dari Medan palingan cuma 3 jam doang untuk menuju kaki gunungnya. Oh ya, gunung ini letaknya juga nggak jauh dari Danau Toba, dari puncaknya juga bisa melihat pemandangan Danau Toba, cakep cuy.

Gunung ini terbentuk dari batuan lava andesite akibat aliran magma di bawah permukaan bumi. Gunungnya memiliki ketinggian hingga 1900 mdpl. Gunung ini juga dikenal dengan mama Bukit Gundul karena pepohonan cuma tumbuh di sepanjang jalur pendakian dan bagian puncaknya doang. Sedangkan bagian tubuh gunung ini cuma ditumbuhi rerumputan doang.
Plang informasi Gunung Sipiso-Piso
Setelah berdoa bersama, kami pun memulai trekking pendakian menuju puncak gunung ini. Enaknya gunung ini punya jalur pendakian yang sudah diaspal, walaupun aspalnya udah rusak, tapi memudahkan untuk melakukan pendakian.

Sunset di Gunung Sipiso-Piso

Sekitar 1 jam lebih kemudian kami sampe juga di puncak Gunung Sipiso-Piso ini. Bersamaan dengan itu, matahari terbenam pun menyapa kami, cahayanya yang jingga pucat mengintip malu-malu dari balik awan dan pegunungan Bukit Barisan di ufuk barat. Sayangnya karena aku harus mendirikan tenda, aku tak bisa menikmati saat-saat matahari terbenam tersebut.
Cahaya matahari senja mengintip di balik awan

Biasa cahaya senja di Danau Toba
Tak lama, kegelapan pun mulai menyelimuti puncak Gunung Sipiso-Piso ini. Bermodalkan cahaya api unggun yang tertiup angin, kami menikmati makan malam yang sederhana, sederhana tapi lauknya ayam bakar. 不

Karena mereka pengennya sambil piknik, jadi sebelum pendakian mereka udah nyiapin semua kebutuhan logistik sampe cemilan pun ada banyak. Mantap uy.

Tapi karena suhu udara yang makin turun dan angin yang bertiup cukup kencang, membuat kami tak berlama-lama di luar tenda. Jam 9 malam kami sudah masuk ke tenda masing-masing dan berharap terlelap agar paginya bisa menikmati sunrise yang indah.

Zzz....

Woy bangun Woy, sunrise woy. Mataharinya cantik kali, bulat banget.” Tiba-tiba di luar udah heboh aja. Kulihat layar hape, masih jam 4 pagi.

Mana ada jam 4 sunrise.” Ucapku sambil melongokkan kepala dari pintu tenda.

Itu bang, mataharinya bulat banget.” Jawab Elsa, salah satu anggota pendakian ini sambil menunjuk ke arah barat.

Ha?? Itu bulan, bukan matahari, ya ampun.. tidur lagi kalian.” Perintahku saat menyadari kenyataan.

Bisa-bisanya mereka nyangka bulan purnama itu matahari, sampe pake selfie pulak itu. Ya ampun.... Mengigau kok sampe separah itu dan sampe satu tenda pula.

Nggak paham lagi aku cuy.

Tidur aja lah lagi.

Zzz....

Sunrise dari Puncak Gunung Sipiso-Piso

Jam 5.30 aku pun bangun kembali dan mulai membangunkan mereka yang masih tertidur agar segera beribadah dan bisa melihat sunrise yang asli. Bukan bulan purnama. -_-

Tak lama di ufuk timur terlihat semburat cahaya kemerahan, tanda sang penguasa siang itu telah bangun. Perlahan cahaya kemerahan itu semakin meluas memenuhi langit di sisi timur. Semakin lama cahayanya semakin terang hingga permukaan Danau Toba yang tenang dan pinggirannya yang berkelok-kelok bisa terlihat. Bahkan Pulau Samosir di seberang sana pun terlihat. Indah banget cuy.
Semburat kemerahan di ufuk timur
Pagi di atas Danau Toba
Setengah jam kemudian, sang raja itu pun akhirnya terlihat. Cahayanya yang hangat menyinari segenap permukaan. Segera aku mengabadikan moment tersebut. Sungguh, ini salah satu pemandangan terindah yang pernah kulihat.
Sang matahari menampakkan diri
Cahaya matahari yang hangat terlihat membias di permukaan air Danau Toba yang tenang. Di sekeliling Danau Toba nampak pula perbukitan hijau yang berkelok-kelok. Perpaduan warna yang ada menghasilkan gradasi warna yang begitu indah. Sungguh indah sekali.
Luar biasa indahnya

Danau Toba dari atas Gunung Sipiso-Piso

Alam Indonesia juara banget

Menikmati cahaya matahari pagi
Satu lagi yang menarik dari puncak gunung ini adalah lekuk-lekuk daratan di pinggir Danau Toba terlihat persis sama dengan gambar Danau Toba yang ada di Uang Rupiah 1000 emisi 1992. Yupz.. gambar Danau Toba di uang tersebut memang diambil dari tempat ini. Keren banget cuy. Sumpah, keren banget.
Kelok-kelok dataran di pinggir Danau Toba

Uang Rp. 1000 dan Danau Toba

Sang backpacker menanti pagi

Monday, April 6, 2020

Masih Bareng Dina di Air Terjun Tanjung Raja dan Jembatan Lau Luhung

“Ayok Din!” Ajakku pada Dina yang menunggu di luar goa setelah aku selesai menjelajahi bagian dalam Goa Emas dan Goa Perak yang ada di kawasan Danau Linting. Rencananya aku dan Dina bakal melanjutkan perjalanan ke air terjun yang ada di sekitar Danau Linting ini. Di sekitar Danau Linting memang ada banyak air terjun yang cakep-cakep. Udah gitu biar sekalian menghibur hati Dina yang baru aja putus cinta.

Pegangan ya Din.”

Brmmm.... Brmmm...

Ku pacu sepeda motorku membelah jalanan yang beraspal tipis dan berkelok-kelok. Di pinggir jalan terlihat rumah-rumah penduduk khas pedesaan dan perkebunan seperti kebun sawit, rambung dan coklat. Sesekali kami juga melewati jalanan yang cukup sunyi. Hingga sampailah kami di satu jembatan beton panjang dan punya pemandangan sekitar yang cukup cantik. Ku pinggirkan sepeda motorku karena Dina bilang dia ingin berfoto sebentar di jembatan tersebut.
Jembatan Lau Luhung
Jembatan Lau Luhung

Jembatan beton ini bernama Jembatan Lau Luhung dan menghubungkan antara Desa Tanjung Raja dengan Desa Durian Tinggung. Bahkan jembatan ini juga menghubungkan Kabupaten Deli Serdang dengan Kabupaten Simalungun. Jembatan ini dibangun pada tahun 2009 untuk menggantikan jembatan gantung yang ada di sebelahnya. Dengan panjang mencapai 160 meter dan ketinggian mencapai 150 meter di atas aliran sungai, jembatan ini punya pemandangan yang cukup indah.

Di bawah jembatan terlihat jurang yang dalam dan aliran sungai kecil. Di sekelilingnya juga ada hutan hijau dengan pepohonan yang cukup rapat. Sedangkan di kejauhan terlihat puncak pegunungan. Tepat di sebelah jembatan juga terlihat sisa jembatan gantung. Jembatan gantung ini dibangun tahun 1979 dan dulunya adalah satu-satunya akses jalan yang bisa digunakan penduduk sebelum jembatan beton ini dibangun. Sekarang kondisi jembatan gantungnya cukup mengerikan karena banyak bilah papannya yang sudah hilang.
Jembatan gantung dan hutan hijau di sekitarnya

Ada sungai kecil di bawah

Please, jangan lompat ya Din
Setelah Dina selesai berfoto-foto di jembatan ini, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju air terjun. Tak lama kemudian kami pun tiba di Air Terjun Tanjung Raja.

Air Terjun Tanjung Raja

Lokasi Air Terjun Tanjung Raja

Air Terjun Tanjung Raja terletak di Desa Tanjung Raja, Kecamatan Sinembah Tanjung Muda Hulu, Kabupaten Deli Serdang. Lokasinya tepat di pinggir Jembatan Lau Lutih sehingga masyarakat sekitar juga menyebut air terjun ini dengan nama Air Terjun Lau Lutih.

Posisinya yang ada di pinggir jalan membuat pengunjung nggak harus trakking lagi ke dalam hutan kayak air terjunlainnya. Tapi cukup turun aja ke bawah jembatan dan dah sampe di air terjunnya.
Jembatan Lau Lutih
Lanskap Air Terjun Tanjung Raja

Air Terjun Tanjung Raja ini punya pemandangan yang masih sangat alami dengan hutan hijau sebagai latarnya. Air terjunnya sendiri tak seberapa tinggi, paling cuma 3 sampe 4 meter doang. Tapi bentuknya melebar sehingga aliran airnya terlihat seperti tirai. Selain pepohonan hijau, di sekitar air terjun juga terdapat beberapa batu besar sebagai penghias alaminya.
Air Terjun Tanjung Raja

Ari terjunnya cakep
Airnya pun bersih, dingin dan menyegarkan dan alirannya tak begitu deras. Sedangkan di bawahnya tidak ada kolam air terjun, melainkan bebatuan datar. Ini membuat banyak pengunjung yang nggak sabar menceburkan dirinya dan menikmati segarnya aliran Air Terjun Tanjung Raja.
Air terjunnya seperti tirai

Bagian atas air terjun
Dina yang menikmati indahnya air terjun
Di pinggir aliran air terjunnya, ada bentukan alami berbentuk tangga, dengan menapakinya, aku dan Dina bisa mencapai puncak air terjun. Di puncak sini aliran airnya lebih tenang namun bebatuannya jauh lebih licin. Jadi mau nggak mau aku harus memegang tangan Dina biar dia nggak kepleset. Inget ya, ini bukan modus, cuma khawatir aja dia kepleset.

Elleh... Modus. 不

Kagak modus loh! Tapi tangannya lembut juga sih. 不不不

Tuh kan, Modus.

Setelah puas menikmati indahnya alam Air Terjun Tanjung Raja, kami kemudian membuka nasi bungkus yang kami beli saat di jalan tadi dan menikmatinya di pinggir air terjun. Mantap uy rasanya makan di pinggir air terjun dengan latar hutan yang masih alami dan ditemani seorang cewek.

Modus.
Sang backpacker di air terjun