Showing posts with label Kabupaten Samosir. Show all posts
Showing posts with label Kabupaten Samosir. Show all posts

Monday, March 15, 2021

Menara Pandang Tele, Melihat Danau Toba dari Ketinggian

Menara Pandang Tele
Danau Toba dari Menara Pandang Tele

Brmmm... brmmm... aku kembali memacu sepeda motorku. Setelah sebelumnya aku berhenti sejenak di Jembatan Tano Ponggol, sebuah jembatan bersejarah di Pulau Samosir. Sekarang aku memutuskan untuk keluar dari Pulau Samosir dan mengarah kembali Kota Medan. Untuk perjalanan pulang ini, aku mau mencoba perjalanan via darat melalui Jalan Tele-Pangururan.

Baca juga: Jembatan Tano Ponggol, Jembatan Penghubung Samosir dengan Sumatera

Jalan Tele-Pangururan

Jalan Tele-Pangururan  adalah sebuah jalan yang menghubungkan antara Pulau Samosir dengan daratan utama Pulau Sumatera. Jalannya indah banget, karena di satu sisi terlihat perbukitan hijau dan Gunung Pusuk Buhit, sebuah gunung sakral bagi Suku Batak. Konon katanya, gunung ini menjadi asal-usul Suku Batak. Bahkan di sepanjang jalur menuju puncak gunungnya ada banyak tempat-tempat yang berhubungan langsung dengan sejarah Suku Batak.

Sedangkan di sisi satunya menganga jurang yang cukup lebar, di sisi jurangnya juga sesekali terlihat indahnya pemandangan Danau Toba. Cakep uy! Selain itu, di sepanjang jalan Tele-Pangururan ini juga sesekali terlihat bebatuan yang katanya sisa dari letusan Gunung Toba jutaan tahun silam. Sebuah letusan dahsyat yang katanya hingga mengubah iklim bumi pada saat itu.

Oh ya, Jalan Tele-Pangururan ini juga punya kontur yang mendaki dan berkelok-kelok. Selain itu, anginnya juga cukup kencang. Jadi menurutku untuk melalui jalan ini, apalagi kalo pake sepeda motor harus ekstra hati-hati. Soalnya kalo meleng dikit, bisa ucapin selamat tinggal pada dunia.

Menara Pandang Tele

Sekitar 30 menit kemudian aku pun tiba di Menara Pandang Tele. Menara Pandang Tele adalah adalah sebuah menara pandang yang di terletak di pinggir Jalan Tele-Pangururan. Menara ini menawarkan pemandangan indah Danau Toba dan perbukitan di sekelilingnya dari ketinggian. 

Menara Pandang Tele
Menara Pandang Tele

Alamat Menara Pandang Tele

Menara Pandang Tele beralamat di Jalan Tele-Pangururan, Kecamatan Harian, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara. Menara ini berjarak sekitar 30 menit dari Kota Pangururan, ibukota Kabupaten Samosir.

Tiket Masuk ke Menara Pandang Tele

Harga tiket masuk ke Menara Pandang Tele cuma Rp. 5000 doang peorang dan ditambah biaya parkir motor Rp. 2000. Jadi aku hanya membayar Rp. 7000 aja untuk menikmati pesona dari menara ini.

Pemandangan dari Menara Pandang Tele

Setelah membayar tiket masuk, aku pun segera menjelajahi bagian-bagian dari menara pandang ini. Menara yang diresmikan pada 22 April 1988 ini terdiri atas empat lantai dengan setiap lantainya terdapat balkon berpagar. Sedangkan lantai teratasnya berupa ruangan berdinding kaca 360° sehingga bisa melihat pemandangan dengan lebih luas. Di dalam ruangannya juga ada kursi-kursi untuk pengunjung yang ingin duduk santai menikmati pemandangan. Sayangnya, kacanya cukup kotor dan berdebu, jadi aku memilih menikmati pemandangannya dari balkonnya aja. 

Menara Pandang Tele
Prasasti peresmian Menara Pandang Tele
Menara Pandang Tele
Lantai 4 Menara Pandang Tele

Pemandangan yang terlihat dari atas menara ini cakep banget cuy. Soalnya bisa melihat Danau Toba dari ketinggian. Airnya yang kebiruan terlihat indah banget. apalagi di sekelilingnya terdapat bukit-bukit hijau cantik. Di sela-sela bukit itu juga nampak aliran air terjun, makin cantik pemandangannya.

Selain pemadangan Danau Toba dari ketinggian, di sekitar menara juga ada taman bunga mininya, cakep juga buat foto-foto. Lalu ada juga beberapa warung yang nyediain makanan ringan dan minuman. Jadi bisa sebagai tempat istirahat juga. 

Menara Pandang Tele
Danau Toba dan perbukitan hijau
Menara Pandang Tele
Pemandangan perbukitan dari atas menara
Menara Pandang Tele
Air Terjun di sela-sela perbukitan

Untuk kekurangannya, menara ini nggak punya teropong pandang sih, nggak seperti menara-menara pandang lainnya. Lalu nggak ada toiletnya juga sehingga kalo ingin ke kamar mandi harus memakai kamar mandi di warung-warung tersebut. Selain itu, kebersihan menaranya juga cukup kurang. Semoga nanti bisa lebih diperbaiki lagi. Aamiin...

Setelah puas menikmati indahnya Danau Toba dari ketinggian, aku pun kembali melanjutkan perjalanan menuju Medan via jalur darat ini. Oh ya, setelah ini aku juga bakal singgah di satu air terjun yang ada tepat di pinggir jalan raya. Stay tune...

To be continued....

Menara Pandang Tele
Papan informasi Kaldera Toba
Menara Pandang Tele
Ada taman mininya juga
Menara Pandang Tele
Backpacker ganteng dan unyu di Menara Pandang Tele

Monday, March 8, 2021

Jembatan Tano Ponggol, Jembatan Penghubung Samosir dengan Sumatera

Jembatan Tano Ponggol
Jembatan Tano Ponggol

Hai sahabat backpacker, gimana kabarnya? Semoga sehat selalu ya. Aamiin.... dah lama juga nih kagak update, soalnya beberapa waktu belakangan ini agak sedikit sibuk buat beradaptasi ama lingkungan yang baru dan sibuk juga buat persiapan ujian anak kelas 3 nya. Selain itu, hp yang biasa kujadiin sebagai hotspot juga dinyatakan tewas, setelah berjuang bersama selama 4 tahunan. Jadi gitu deh, baru sekarang bisa update lagi.

Back to story!

Setelah sebelumnya aku menikmati indahnya satu danau unik di Pulau Samosir yang bernama Danau Sidihoni alias si Danau di Atas Danau, -nama aliasnya keren uy- aku kembali melanjutkan petualanganku di Bumi Samosir. Tujuanku kali ini adalah Jembatan Tano Ponggol, sebuah jembatan yang menjadi satu-satunya jembatan penghubung Pulau Samosir dengan daratan Pulau Sumatera.

Baca juga: Danau Sidihoni, Danau di Atas Danau di Pulau Samosir

Jadi dengan adanya jembatan ini, kita bisa ngunjungi Pulau Samosir via darat selain pake kapal ferry dari pelabuhan Parapat, Tigaras, Muara maupun Balige.

Alamat Jembatan Tano Ponggol

Jembatan ini beralamat di jalan utama Pulau Samosir, Pangururan, Kabupaten Samosir. Jadi dari Danau Sidihoni, aku kembali lagi ke arah Kota Pangururan, ibukota Kabupaten Samosir. Dari sana aku kemudian berbelok ke kiri, ke arah Jalan Lintas Tele. Jembatannya terletak tak jauh dari Kota Pangururan.

Sejarah Tano Ponggol

Berdasarkan sejarahnya, ternyata pada zaman dahulu kala, Pulau Samosir dengan Pulau Sumatera nggak terpisah sepenuhnya. Kedua pulau ini menyatu di wilayah yang bernama Tanah Genting dengan panjang sekitar 1,5 kilometer. Jadi dulunya masyarakat sekitar harus menyeret perahunya untuk mencapai sisi danau yang satu lagi.

Nah, pada tahun 1905 Belanda kemudian membangun terusan alias kanal sungai di Tanah Genting ini agar perahu mereka bisa lewat tanpa harus menyeret perahu. Di atas kanalnya juga dibangun satu jembatan kayu sebagai penghubung Pulau Sumatera dan Pulau Samosir yang dilengkapi juga dengan pos pengamanan sehingga memutus jalur pejuang di dalam pulau Samosir dengan pejuang yang ada di luar.

Btw, saat itu Belanda emang lagi berperang ama Sisingamangaraja XII 

Jembatan Tano Ponggol
Kanal Tano Ponggol
Jembatan Tano Ponggol
Banyak coretan cuy

Rencana Masa Depan Tano Ponggol

Saat ini Jembatan Tano Ponggol udah menjadi satu jembatan beton berwarna kuning. Di kanan kirinya terlihat terusan yang menghubungkan kedua sisi danau.

Sekarang ini juga ada pembangunan kanal dan jembatan Tano Ponggol. Rencananya kanalnya akan diperlebar sehingga bisa dilalui dengan kapal. Jembatannya pun akan dibangun dengan lebih baru dan lebih megah. Saat saya berkunjung kemarin, di sisi kanal udah ada beberapa alat berat yang mulai bekerja. Semoga rencana pembangunannya bisa segera selesai agar menjadi wisata baru yang menarik di Pulau Samosir. Aamiin... 

Jembatan Tano Ponggol
Ada bukit di depan jembatannya
Jembatan Tano Ponggol
Ada si ganteng yang unyu di Jembatan Tano Ponggol

Wednesday, February 10, 2021

Danau Sidihoni, Danau di Atas Danau di Pulau Samosir

Danau Sidihoni SamosirDanau Sidihoni

Hai sahabat backpacker, gimana nih kabarnya? Semoga sehat selalu ya, aamiin....

Nggak kerasa udah lama juga nih aku nggak update. Soalnya beberapa waktu belakangan ini aku emang lumayan sibuk. Maklum lah, lagi proses adaptasi di tempat yang baru. Selain itu juga banyak tugas hingga berkas-berkas dokumen yang harus diurus. Apalagi berkasnya harus diurus di kantor dinas pemerintahan. Karena KTP ku yang berbeda provinsi membuat prosesnya menjadi lebih rumit lagi. :(

Tapi yah mari lupakan itu sejenak, kali ini aku mau ngelanjutin kisah petualanganku saat di Pulau Samosir beberapa waktu yang lalu. Setelah sebelumnya aku mengunjungi Museum Huta Bolon Simanindo, aku kemudian melanjutkan perjalanan ke Danau Sidihoni, sebuah danau yang ada di atas danau. 

Danau Sidihoni Samosir
Danau di Atas Danau

Baca juga: Museum Huta Bolon Simanindo

Alamat Danau Sidihoni

Danau Sidihoni beralamat di Kecamatan Ronggur Nihuta, Kabupaten Samosir. Tapi cara terdekat ke danau ini adalah dari Pangururan, ibukota Kabupaten Samosir.

Jadi dari Pangururan ambil jalan ke kiri, ke arah Ronggur Nihuta. Jalannya cukup menanjak dan ada kerusakan di beberapa bagian, tapi masih asyik buat dilalui kendaraan bermotor. Apalagi di sisi jalannya juga bisa terlihat pemandangan Danau Toba dan bukit-bukit hijau di sekelilingnya. Dari Pangururan, danau ini cuma berjarak sekitar 25 menit perjalanan doang.

Tiket Masuk ke Danau Sidihoni

Untuk masuk ke Danau Sidihoni ini gratis loh cuy. Gratis. Bahkan parkir motornya juga gratis cuy. Mantap abis!!!

Pesona Alam Danau Sidohoni

Danau Sidihoni adalah satu danau yang cukup unik di Pulau Samosir, soalnya danau ini juga disebut dengan nama Danau di Atas Danau karena secara geografis, posisi danau ini berada di dalam Pulau Samosir yang berada di tengah-tengah Danau Toba.

Danau ini juga punya pemandangan yang cukup cantik. Danaunya punya luas hingga 5 hektar dengan bentuk danau seperti mangkok. Maksudnya danaunya cekung dan sekitarnya terdapat banyak bukit-bukit dan lapangan berumput hijau yang mengelilingi danau ini. Pemandangannya bikin mata jadi segar cuy. 

Danau Sidihoni Samosir
Danaunya cakep juga
Danau Sidihoni Samosir
Bukit hijau di sekitar danau

Air danaunya juga masih bersih dan jernih, bahkan airnya dimanfaatin ama penduduk sekitar untuk kegiatan sehari-hari seperti mandi dan mencuci. Bahkan saat aku berkunjung ke danau ini, di satu sudut masih ada sekelompok anak gadis yang lagi mencuci pakaian. Cihuyy....

Selain itu, di sekitar danau ini juga banyaak kerbau-kerbau yang sedang merumput. Keberadaan kerbau-kerbau ini juga menambah asri pemandangan dari Danau Sidihoni. Mantap!!! 

Danau Sidihoni Samosir
Sekitarnya masih asri
Danau Sidihoni Samosir
Ada banyak kerbau

Puas menikmati keindahan dan keunikan Danau Sidihoni yang dijuluki sebagai danau di atas danau ini, aku pun segera beranjak untuk menuju tempat selanjutnya yaitu Jembatan Tana Ponggol, sebuah jembatan yang menghubungkan Pulau Samosir dengan daratan Pulau Sumatera. 

Danau Sidihoni Samosir
Siganteng yang unyu di Danau Sidihoni

To be continued...

Sunday, January 17, 2021

Museum Huta Bolon Simanindo di Pulau Samosir

Museum Huta Bolon Simanindo
Museum Huta Bolon Simanindo

Hai sahabat backpacker, setelah sebelumnya aku udah ngunjungi objek wisata Batu Kursi Raja Siallagan di Huta Siallagan, Desa Ambarita, Samosir, aku pun kembali melanjutkan petualanganku di Pulau Samosir ini. Tujuanku selanjutnya adalah Museum Huta Bolon Simanindo yang terletak tidak jauh dari Huta Siallagan.

Baca juga: Batu Kursi Raja Siallagan, Wisata Seram Pulau Samosir

Alamat Museum Huta Bolon Simanindo

Museum Huta Bolon Simanindo beralamat di Jalan Pelabuhan Simanindo, Desa Simanindo, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara. Museum ini berjarak sekitar 16 km dari Huta Siallagan. Oh ya, museum ini juga deket banget ama Pelabuhan Simanindo, jadi bisa sebagai salah satu alternatif wisata kalo ke Pulau Samosir melalui Pelabuhan Simanindo. 

Museum Huta Bolon Simanindo
Jalan ke Pelabuhan Simanindo

Tiket Masuk Museum Huta Bolon Simanindo

Tiket masuk ke Museum Huta Bolon Simanindo adalah Rp. 10.000 perorang. Menurutku ini adalah tiket wisata termahal di Pulau Samosir. Karena kebanyakan objek wisata di Pulau Samosir tiket masuknya kisaran Rp. 2000 sampe Rp. 5000 doang dan banyak juga yang seikhlasnya bahkan yang gratis. Jadi tiket masuk ke museum ini tergolong mahal sih menurutku untuk ukuran Pulau Samosir. 

Museum Huta Bolon Simanindo
Tempat tiket dan informasi

Jadwal Buka Museum Huta Bolon Simanindo

Museum ini buka setiap hari sejak pukul sembilan pagi hingga pukul lima sore.

Koleksi Museum Huta Bolon Simanindo

Setelah membayar tiket masuknya, aku pun segera masuk ke dalam museum ini untuk melihat-lihat koleksi yang ada di dalam museumnya. Seperti museum Batak pada umumnya, museum Huta Bolon Simanindo juga punya bentuk bangunan berupa rumah adat Batak Toba. Hanya saja dindingnya dibuat dari bilah-bilah papan sehingga cahaya matahari bisa masuk lebih banyak ke bagian dalam museumnya. Mungkin bangunannya lebih mirip sopo, tempat pengumpunan hasil panen dan ulos milik Batak Toba. 

Museum Huta Bolon Simanindo
Bangunan Museum Huta Bolon Simanindo

Museum Huta Bolon Simanindo ini adalah rumah adat warisan dari Raja Sidaruk dan sejak tahun 1969 udah dijadikan sebagai museum yang bebas dikunjungi wisatawan.

Di bagian dalam museum terdapat berbagai macam barang koleksi dari peninggalan leluhur orang Batak seperti parlahaan, pustaka laklak, tunggal panaluan, solu bolon. Kemudian juga ada berbagai macam alat-alat rumah tangga hingga peralatan berburu, bertani dan alat-alat untuk upacara adat yang kebanyakan nggak kuketahui apa fungsinya. 😂 

Museum Huta Bolon Simanindo
Bagian dalam museum
Museum Huta Bolon Simanindo
Berbagai koleksi Museum Huta Bolon Simanindo
Museum Huta Bolon Simanindo
Koleksi ulos Batak
Museum Huta Bolon Simanindo
Tongkat Batak
Museum Huta Bolon Simanindo
Tempayan dan nggak tau yang itu apaan

Setelah puas melihat berbagai barang koleksi yang ada di dalam Museum Huta Bolon Simanindo, aku pun keluar dari museum tersebut. Namun sebelum menuju tempat parkir, mataku malah melihat sebuah gerbang batu yang menarik.

Aku lantas masuk ke dalam gerbang tersebut dan ternyata di dalamnya terdapat perkampungan Batak dengan beberapa rumah adat. Sepertinya rumah adat ini udah berusia cukup tua. Di depan rumah adatnya juga ada boneka sigale-gale. Sayangnya saat itu rumah-rumah adatnya sedang direnovasi, jadi aku cuma melihat sekilas aja. 

Museum Huta Bolon Simanindo
Gerbang batu yang bikin penasaran
Museum Huta Bolon Simanindo
Rumah adat di sebelah museum

Setelah itu, akupun kembali ke parkiran karena hari sudah beranjak siang dan aku masih ingin mengunjungi danau unik di Pulau Samosir yang dinamain Danau Sidihoni, Danau Di Atas Danau. Brrmmm... brrmmm... 

Museum Huta Bolon Simanindo
Backpacker ganteng dan unyu di Museum Huta Bolon Simanindo

To be continued...

Friday, January 8, 2021

Batu Kursi Raja Siallagan, Wisata Seram di Pulau Samosir

Huta Siallagan
Huta Siallagan

Hai sahabat backpacker, setelah sebelumnya aku ke Bukit Beta untuk melihat matahari terbit, aku pun segera kembali ke penginapan untuk bersih-bersih dan bersiap untuk melanjutkan petualangan di Bumi Samosir.

Baca Juga: Menanti Sunrise di Bukit Beta Samosir

Setelah mandi dengan air hangat namun tetap terasa dingin, Brrrr... Samosir di pagi hari dingin banget cuy. Aku kemudian cek out dan memulai petualangan di Pulau Samosir. Tujuanku pagi ini adalah Batu Kursi Raja Siallagan, salah satu destinasi sejarah di Pulau Samosir.

Alamat Batu Kursi Raja Siallagan

Batu Kursi Raja Siallagan beralamat di Huta Siallagan, Desa Ambarita, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara. Objek wisata sejarah ini letaknya tak jauh dari Desa Tuktuk Siandong, sentra penginapan yang ada di Pulau Samosir.

Batu Kursi Raja Siallagan

Batu Kursi Raja Siallagan ini berada di Huta Siallagan. Huta Siallagan adalah sebuah huta alias kampung yang dulunya ditinggali oleh Raja Siallagan dan para rakyatnya. Huta ini memiliki dinding batu setinggi 1,5 hingga 2 meter sebagai pagarnya. Pagar batu ini dulunya berfungsi untuk melindungi huta dari serangan binatang buas maupun serangan dari huta lain karena dulunya di Pulau Samosir sering terjadi peperangan antar huta. 

Huta Siallagan
Pagar batu

Begitu memasuki gapuranya yang dijaga dua patung dan bertuliskan Huta Siallagan, langsung terlihat deretan rumah adat Batak Toba. Konon rumah-rumah ini udah berusia ratusan tahun dan masih terawat hingga sekarang. Rumah-rumahnya juga memiliki fungsi yang beragam, ada yang menjadi tempat tinggal raja dan keluarganya hingga ada juga yang menjadi tempat pemasungan penjahat. 

Huta Siallagan
Rumah Adat Batak Toba

Yang paling menarik adalah adanya kursi dan meja yang dipahat dari batu. Kursi dan meja inilah yang dinamain sebagai Batu Kursi Raja Siallagan alias Batu Persidangan. Batu Kursi Raja Siallagan ini dulunya menjadi tempat raja dan petinggi adat untuk mengadili para pelaku kejahatan atau pelanggar hukum adat.

Jika kejahatannya tergolong kejahatan kecil, maka hukumannya hanya berupa sanksi pemasungan. Tapi kalo kejahatannya tergolong kejahatan berat, maka sang pelaku akan dijatuhi hukuman pancung alias potong kepala. Glekk..

Sebelum hukuman pancung dilaksanakan, penjahat tersebut akan di bawa ke batu persidangan yang ada di bagian belakang. Di sini ia akan dibaringkan, kemudian dihilangkan ilmu hitamnya. Untuk membuktikan ilmu hitamnya telah hilang, maka telapak kakinya akan diiris dan diberi air asam.

Setelah itu, barulah hukuman pancung dilaksanakan. Oh ya, pemancungan ini dilakukan dalam sekali tebasan. Jika dalam sekali tebas, penjahatnya nggak mati atau kepalanya nggak putus, maka sang algojo yang akan menggantikan tempatnya. Glekk.

Bagian seramnya belum selesai. Setelah kepala sang penjahat terpenggal, maka dadanya akan dibelah, jantung dan hatinya dikeluarin dan diletakkan di atas piring. Setelah itu jantung dan hati tersebut akan dimakan raja dan petinggi adat lalu dibagikan juga kepada rakyatnya agar kesaktian si penjahat berpindah ke raja. Serem cuy.. serem. 

Huta Siallagan
Batu Kursi Raja Siallagan
Huta Siallagan
Tempat pemasungan
Huta Siallagan
Tempat pemancungan

Fasilitas di Wisata Batu Kursi Raja Siallagan

Selain batu persidangan dengan sejarah seram tersebut, di Huta Siallagan ini juga ada beberapa objek wisata menarik lainnya seperti melihat rumah adat Batak Toba yang berusia ratusan tahun, lalu juga ada patung sigale-gale, hingga sentra oleh-oleh yang berada di bagian belakang huta.

Huta Siallagan
Patung Sigale-Gale
Huta Siallagan
Souvenir Shop

Tiket Masuk ke Batu Kursi Raja Siallagan

Tiket masuknya murah meriah, karena perorangnya hanya perlu membayar Rp. 2000 doang. Yupz.. Rp. 2000 perorangnya. Murah banget.

Setelah puas melihat-lihat Huta Siallagan, aku pun kembali melanjutkan petualanganku di Pulau Samosir dan tujuanku selanjutnya adalah Museum Huta Bolon Simanindo

Huta Siallagan
Backpacker ganteng dan unyu di Huta Siallagan

To be continued...

Wednesday, January 6, 2021

Menanti Sunrise di Bukit Beta Samosir

Bukit Beta Samosir
Bukit Beta Samosir

Hai sahabat backpacker, selamat pagi 😊

Gimana nih kabarnya? Semoga di sehat selalu ya dan di tahun ini kita bisa menjalani kehidupan yang lebih baik lagi. Aamiin...

Kali ini aku mau ngelanjutin kisah petualanganku di Bumi Samosir yang kulakuin beberapa waktu yang lalu. Setelah sebelumnya aku memutuskan untuk menginap di Bagus Bay Homestay, pagi harinya aku pun berencana untuk melihat matahari terbit di Pulau Samosir. Untuk melihat matahari terbit tersebut, katanya spot terbaik adalah Bukit Beta, sebuah bukit kecil yang ada di dekat jalan masuk menuju Desa Tuk-Tuk.

Alamat Bukit Beta

Bukit Beta beralamat di Jalan Tuktuk, Desa Tuktuk Siadong, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara. Lokasinya ada di sisi kiri jalan dan tak jauh dari arah gerbang masuk desa.

Pemandangan Bukit Beta

Bukit Beta merupakan sebuah bukit kecil dan cukup landai. Bukitnya dihiasi padang rumput hijau yang cukup luas. Di bagian belakang bukit terdapat tebing-tebing batu yang menjulang tinggi. Jika musim hujan, di sela-sela bebatuannya juga terlihat aliran air terjun kecil.

Bukit ini juga menghadap ke arah timur, ke arah Danau Toba. Sehingga dari atas bukit ini aku bisa melihat luasnya Danau Toba hingga ke seberang sana, ke daratan Pulau Sumatera yang terlihat berbukit-bukit juga. Di sebelahnya juga terlihat berbagai penginapan yang berdiri di atas Desa Tuktuk yang daratannya membentuk tanjung ke arah Danau Toba. 

Bukit Beta Samosir
Danau Toba dari Bukit Beta
Bukit Beta Samosir
Tebing di belakang bukit
Bukit Beta Samosir
Bunga rumput di Bukit Beta

Matahari Terbit di Bukit Beta

Karena menghadap ke timur, Bukit Beta menjadi salah satu spot berburu sunrise yang cukup populer di Pulau Samosir. Karena itu, sebelum matahari terbit, aku pun udah tiba di atas Bukit Beta. Sayangnya pagi itu cuaca di Pulau Samosir tak begitu bersahabat. Cuaca yang terlihat mendung dengan awan kelabu memenuhi langit di sisi timur. Jadi sunrise indah yang kubayangin kagak terlihat.

Sayang banget sih, tapi kalo udah masalah alam, kita emang kagak bisa berbuat apa-apa. Paling tidak aku masih bisa melihat indahnya Danau Toba dari atas Bukit Beta ini. Aku pun bergegas kembali ke penginapan untuk bersih-bersih dan bersiap melanjutkan petualangan di Bumi Samosir. 

Bukit Beta Samosir
Tuktuk dari Bukit Beta

To be continued...

Monday, December 28, 2020

Penginapan Bagus Bay Hotel di Tuktuk Samosir

Bagus Bay Homestay Samosir
Bagus Bay Homestay di Tuktuk Samosir

Hai sahabat backpacker

Setelah sebelumnya aku menyaksikan matahari terbenam di Bumi Samosir, tepatnya di Pantai Pasir Putih Parbaba. Aku kemudian menuju Tuktuk untuk menyewa sebuah penginapan agar esoknya bisa melanjutkan kembali petualangan di Pulau Samosir ini.

Baca juga: Melihat Sunset dari Pantai Pasir Putih Parbaba Samosir

Tuktuk Siadong

Tuktuk Siadong adalah salah satu desa yang ada di Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara. Desa ini juga dikenal sebagai pusat penginapan wisatawan di Pulau Samosir. Di desa kecil yang ada di pinggir Danau Toba ini punya beragam penginapan mulai dari yang murah hingga yang mewah.

Dari sekian banyak penginapan, aku sendiri memilih penginapan Bagus Bay Homestay. Bukan karena fasilitasnya sih tapi karena harganya termasuk yang paling murah di antara penginapan lain yang ada di TukTuk.

Maklum, backpacker dompet tipis. 😂

Bagus Bay Homestay

Alamat Bagus Bay Homestay

Bagus Bay Homestay beralamat di Jalan Lingkar Tuktuk, Desa Tuktuk Siadong, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara. Desa ini berada di antara Desa Tomok dan Desa Ambarita serta tak jauh dari Pelabuhan Tomok. Oh ya, beberapa penginapan di sini juga punya pelabuhan kapal sendiri hingga tamu hotel bisa meminta untuk diantarkan langsung ke pelabuhan hotelnya dari Parapat.

Kamar Bagus Bay Homestay

Bagus Bay Homestay menyediakan banyak pilihan kamar dengan fasilitas yang beragam dan harga yang berbeda-beda tergantung fasilitas kamarnya. Yang termahal adalah pondok berbentuk Rumah Adat Batak Toba, lalu ada kamar dengan kamar mandi di dalam hingga yang termurah dengan kamar mandi di luar. Aku sendiri memilih kamar termurah dengan kamar mandi di luar, permalamnya aku membayar seharga Rp. 70.000. cukup murah cuy. 

Bagus Bay Homestay Samosir
Kamar di Bagus Bay Homestay

Fasilitas Bagus Bay Homestay

Meski kamar termurah, tapi fasilitas kamarnya cukup lengkap juga yaitu ada tempat tidur besar, meja, kursi dan lemari kecil, televisi, hingga colokan listrik. Namun kamar mandinya ada di luar dan berbagi dengan tamu lainnya. Selain itu kamarnya juga tidak menyediakan AC, tapi AC juga nggak guna sih di sini, Pulau Samosir saat malam itu dingin banget cuy.

Sedangkan di luar kamar, Bagus bay Homestay ini juga memiliki fasilitas lain seperti restoran dan bar, pertunjukan musik Batak saat malam-malam  liburan hingga gazebo dan kursi-kursi untuk bersantai di pinggir Danau Toba. Selain itu, penginapan ini juga memiliki pelabuhan sendiri yang bisa membawa wisatawan langsung ke Parapat.

Untuk ukuran hotel dengan harga murah, hotel ini cukup nyaman jugalah. Terutama nyaman buat isi dompetku. Berhubung badan pun cukup lelah setelah seharian berpetualang, aku pun segera mandi dan bersih-bersih. Tak lama kemudian aku pun terlelap agar esok tetap semangat berpetualang di Bumi Samosir. 

Bagus Bay Homestay Samosir
Area restoran dan musik
Bagus Bay Homestay Samosir
Tempat santai di tepi Danau Toba

To be continued...