Saturday, May 9, 2020

Perjalanan Menuju Bengkulu Dengan Bus Putra Simas

Note:
- Perjalanan ini dilakukan sebelum covid-19 mewabah
- Tetap di rumah ya teman-teman

Selamat! Anda lulus tahap administrasi berkas 

Anda diwajibkan mengikuti ujian SKD,

Begitulah kira-kira pengumuman yang terpampang pada akun SSCN ku yang berarti aku harus mengikuti ujian SKD jika ingin diangkat menjadi seorang PNS. Tahun ini adalah tahun keduaku mencoba keberuntungan mengikuti cpns, setelah di tahun lalu aku hanya mendapat ranking 5 di hasil SKD. Tahun ini aku mencoba mengambil di Kemenag, Bengkulu.

Jauh banget.

Memang jauh, tapi itu karena yang sesuai jurusanku, Guru Sejarah, memang lagi nggak banyak yang buka di Sumatera Utara. Jadi aku mencoba keberuntungan di Tanah Bengkulu. Aneh juga sih, soalnya masih banyak sekolah yang kekurangan guru, tapi lowongan cpns gurunya dikit banget.

Untuk menuju Bengkulu, aku memutuskan menggunakan moda transportasi bus aja. Karena tiket bus sekali jalan cuma Rp. 350.000 sedangkan kalo naik pesawat saat itu lebih Rp. 1.500.000 dari Medan. Mahal banget cuy. Ini juga menjadi perjalanan pertamaku menggunakan bus jarak jauh.
Bus Putra Simas
PT Putra Simas

Yupz... Bus yang menjadi pilihanku adalah Bus Putra Simas alias Bus Putra Simalungun Atas, karena bus ini adalah pemain tunggal di rute ini. Jadi nggak ada pilihan bus lainnya. Dulu ada sih bus ALS, tapi sekarang rutenya udah ditutup. Berhubung aku saat ini tinggal di Asahan, jadi aku naik dan memesan tiket dari loket cabang Kisaran.
Bagian dalam bus
AC Bocor

Tapi asemnya, ternyata bangku yang udah kupesan malah udah diduduki orang sejak dari pool Medan, bahkan dia punya nomor kursi yang sama. Akhirnya daripada ribut, aku memilih buat mengalah.

Yang asemnya lagi, bangku yang tersisa ini malah basah karena acnya bocor. Akhirnya sepanjang malam aku tak bisa tidur nyenyak karena sesekali terbangun kena tetesan air ac yang dingin.  Bangke lah.

Perjalanan terus berlanjut, bus terus melaju membelah Jalan Lintas Timur Sumatera, melewati beberapa kota di pulau Sumatera ini. Pemandangan di sepanjang perjalanan tak begitu istimewa karena didominasi perkebunan kelapa sawit. Menjelang shubuh, kami tiba di terminal Pekanbaru. Bus tak berhenti lama di sana dan kembali melanjutkan perjalanan menuju Kota Taluk, di Kabupaten Kuantan.

Kota ini menurutku keren juga, karena begitu memasuki kotanya aku udah bertemu tugu bundaran berukuran raksasa, bernama Bundaran Carano. Di depannya pun ada masjid besar bernama Masjid Agung Kuantan Singigi. Selain itu di kota ini juga ada satu taman yang berada di tepian sungai Batang Kuantan yang mengalir di sisi kota. Sepertinya kota ini cukup menarik untuk disinggahi, tapi mungkin nanti, suatu hari nanti.

Tak lama setelah meninggalkan kota Taluk, bus memasuki wilayah Provinsi Sumatera Barat dan terus melaju hingga tiba di Terminal Kiliran Jao, di Kabupaten Sijunjung. Di terminal ini turun dua orang penumpang dan akhirnya aku dapat tempat duduk yang nyaman dan jauh dari tetesan air AC. Alhamdulillah... 
Dapat tempat duduk yang nyaman, horeee

Tapi baru juga duduk beberapa menit tiba-tiba,

Busnya berasap, busnya berasap.” Teriak beberapa penumpang yang duduk di barisan belakang.

Buru-buru para penumpang diturunkan dan sopir memeriksa bus. Ternyata jaket kernet jatuh ke dalam mesin kompresor di belakang. Asemlah. Setelab berjalan pelan, akhirnya bus berhenti di sebuah rumah makan dan diperbaiki di sana.

Hampir tiga jam kemudian barulah bus berjalan kembali dan hari sudah semakin sore. Aku pun menghubungi pihak penginapan dan mengabarkan kalo aku mungkin saja telat cek in karena masalah tadi. Kata pihak penginapannya sih nggak apa-apa. Namun aku tetap aja merasa was-was dan kepikiran juga. Apakah tidak masalah telat cek in dan jika tiba terlalu malam, naik apa dari pool ke penginapan tersebut.

Pukul 5 sore bus baru tiba di Muara Bungo, Jambi. Di sini jalanannya didominasi jalanan lurus dan tidak ada pemandangan yang menarik karena kebanyakan hanya lahan kosong di sisi jalan. 
Sepi di Lintas Tengah Sumatera
Muara Bungo
Tak lama kemudian matahari, sang penguasa siang itu tenggelam di ufuk barat. Tak ada lagi pemandangan yang bisa kulihat dari balik jendela bus, karena di luar sana hanya ada kegelapan. Cuma sesekali terlihat cahaya lampu dari rumah penduduk. Aku kemudian memilih untuk tidur dan berharap untuk segera tiba di Kota Bengkulu yang masih ratusan kilometer lagi.
Matahari terbenam di Lintas Tengah Sumatera
Pukul 3 pagi. Yupz... Pukul 3 cuy. Dan bus baru tiba di pool Kota Bengkulu. Bingung juga sih naik apaan buat menuju penginapan dan apakah penginapannya masih buka. Setelah tawar menawar dengan bapak ojek yang mangkal di pool bus, aku kemudian menuju penginapan. Kota Bengkulu saat itu masih sunyi dan sepi, karena itu aku selalu siap-siap buat lompat kalo si bapak melenceng dari GPS. Wkwkwkwkwk...

Dan khirnya aku tiba di depan penginapan, alhamdulillah bapak ojeknya baik. Namun pintu penginapannya tertutup dan lampunya gelap.

Permisi.” Ucapku sambil berharap penginapan ini masih buka dan aku bisa segera cek in.
Sang backpacker naik bus

28 comments:

  1. pantes suka sejarah, memang ternyata sesuai dengan jurusan kuliahnya ya..

    wah dari riau lewatnya sijunjung, berarti nggak lewat kota padang nih busnya..

    -traveler paruh waktu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener sekali Mas, karena itu suka banget ama sejarah. 😁

      Iya Mas, kagak lewat dari Padang, karena rutenya dari Taluk Kuantan ke Sijunjung.

      Delete
  2. Repotnya jika tak ada pilihan bus lain
    Ada nya pemain tunggal
    Ditempat saya juga ada, busnya ya hanya itu saja pemainnya
    Jika ketemu AC bocor, ngenes juga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mas, jadi nggak ada pilihan lain, kalo mau naik bus lain, ya harus ganti bus di Pekanbaru atau di Lubuk Linggau.

      Ngenes kali pun Mas gara-gara AC bocor, semalaman kedinginan.

      Delete
  3. Wah ketahuan nih.

    Si Kakak memang penyuka sejarah.

    Jadi sekarang lagi di Bengkulu ya Kak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ahahaha... Emang suka banget ama sejarah.

      Udah pulang kok dari Bengkulu, kan ini ceritanya sebelum covid-19 kemarin.

      Delete
  4. Kejadian nomor kursi yang sama memang kadang terjadi di bus patas, bro. Biasanya salah satunya "cuma" agen, bukan kantor tiket operator bus. Nggak nanya sama awak bus sebaiknya gimana? Apalagi masalah AC bocor itu. Untuk ukuran orang Sumatera Utara, kamu kayaknya nrimo banget ya wkwkwk.

    Duh, itu kernet sembarangan banget sampe jaketnya bisa jatoh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mas, padahal saat mesan tiket, udah nelpon ke pihak kantor tiketnya loh, agar diambilkan nomor kursi yang enak.

      Eh... Saat busnya tiba, kursinya udah diduduki orang.

      Ya males aja kalo harus ribut Mas, karena mikirnya ntar juga bakal dapat kursi yang enak juga.

      Udah gitu, mau pindah kemana lagi, kursinya penuh, busnya juga cuma ada itu.

      Nah... Itu, bisa-bisanya jaket ditarok sembarangan, emang kurang kerjaan tuh kernet.

      Delete
  5. Ikut kesel juga baca penumpang yang tidak tertib duduk di bangku yang tidak sesuai nomor bangku pemesanan.
    Orang Indonesia memang masih banyak yang kurang disiplin.

    Selamat ya sudah berhasil lulus administrasi berkas.
    Semoga diterima jadi PNS.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenarnya pihak operator bus yang bermasalah Mas, karena saat aku mesan tiket, pihak operator udah milihkan kursi lewat telpon.

      Tapi kursi itu malah dijual lagi ama mereka.

      Aamiin... Terima kasih buat doanya ya Mas. 😊

      Delete
  6. ALS kayaknya fokus di Jawa ke Sumatra saja sekarang ya? Bengkulu ini bagus, tapi lokasinya menurutku agak sulit dijangkau orang dari Jawa. Jadi benar-benar harus kesana, tidak bisa dilewati layaknya palembang kalau dari jawa mau ke Medan naik bus

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mas, sekarang rute ALS memang rute di kota lintasnya aja.

      Nah itu dia Mas, Bengkulu ini punya banyak tempat menarik sebenarnya, tapi akses buat menuju tempat ini yang nggak mudah, soalnya harus emang khusus ke Bengkulu, bukan sekedar singgah.

      Delete
  7. Owah jurusan Sejarah ya kak, kereen tuh. Jadi inget Jas Merah hehe

    PNS emang diburu banyak orang sih kak, tapi bukaan pas CPNS kadang dikit banget. Perlu strategi untuk memilih yang tepat. Ya macam kk nih, rela ke Bengkulu walaupun tinggalnya di Sumatera Utara ya. Perjuangan itu ya kak😅

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ahaha.. jangan sekali-sekali melupakan sejarah. 🤣

      Bener banget tuh, padahal kalo dipikir-pikir masih banyak sekolah yang kekurangab guru, tapi lowongan yang tersedia malah sedikit. Akhirnya nyari yang jauh-jauh deh.

      Delete
  8. Itu jaket kernetnya dijemur di kap mesin, Mas Rudi? Bus besar lintas provinsi kayaknya memang sering banget buka kap mesin pas jalan... Tapi baru kali ini dapat cerita kalau bus berasap karena kemasukan jaket. Tapi seru banget kayaknya. Absurd. Hahahaha.

    Pagi-pagi atau malem-malem diboncengin di kota yang pertama kali didatangi memang bikin deg-degan, sih. Sekali waktu saya pernah panik banget, pulang naik gunung, terus temen ada yang dianter sama orang ke kantor polisi buat cari tumpangan... Eh, ternyata gpp. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ahahaha... Memang absurd banget Mas, bisa-bisanya jaket masuk ke dalam mesin, nggak tau ditarok dimana sih tuh jaket, tapi bisa aja masuk ke dalam dan bikin masalah.

      Bener banget tuh Mas, bikin deg-degan, saya aja nggak lepas mandangin GPS, jadi kalo si bapak bawanya melenceng, mau loncat aja. 🤣

      Wah.. ternyata nggak apa-apa ya ke kantor polisi, tapi bisa juga sih kalo udah kemalaman gitu, kayaknya lebih aman

      Delete
  9. Wah, untung masih bisa diperbaiki ya Mas busnya. Saya pernah dapat bus yang gak bisa diperbaiki lagi ditengah perjalanan. Terpaksa nunggu unit yang lain dari pool terdekat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waduh, bakalan lama tuh kalo harus nunggu bus pengganti. Yang ini syukur aja bisa diperbaiki, walau sampe 3 jam juga sih.

      Delete
  10. Busnya berasap dong, hahaha.. dibacaan sih lucu bg gatau dah kalo kejadiannya gimana. Ternyata guru sejarah toh, saya demen guru sejarah yang kerjaannya cerita aja. Yang diperlukan murid-muridnya juga sejarah melalui cerita. Melalui buku terlalu membosankan, nggak ada drama-dramanya. Teringat sosok guru sejarah yang killer Pak Nawi tetapi baik hati 🤣

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo kejadian aslinya ya panik Mas, mikirin bakal telat sampe tujuan.

      Iya Mas, saya jurusan Guru Sejarah, guru yang suka ceritain tentang sejarah pada murid-muridnya. 🤣

      Delete
  11. Ya murah banget dong naik bus cuma 350K ya..enak deh dapat duduk dekat jendela. Bisa sambil menikmati pemandangan trus kalo ngantuk bisa nempelin kepala di kacanya. Aku paling jauh naik bus dari Jakarta ke Malang duluuuuu 😁😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Duduk deket jendelanya setelah setengah jalan sih Mbak,

      Ahahaa.. iya Mbak, kalo ngantuk bisa tarok kepala di jendela, bangun-bangun kepalanya benjol. 🤣

      Wah... Jakarta Malang jauh juga tuh Mbak.

      Delete
  12. Alamakk jauhnya dari sumatara utara ke bengkulu naik bus. Saya gak kuat kalo lama-lama duduk. Niak pesawat diatas 3 jam aja gak betah. Bawannya pengen jalan-jalan mulu biar gerak, wkwkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Naik pesawat mahal Mas, lebih murah ke Jakarta malahan.
      Jadi ya ditahanin aja lah naik bus 2 hari 2 malam.

      Delete
  13. Oalaaah skr aku ngerti kenapa cerita2 sejarahmu di blog selalu lengkap dan detil :).

    Ya ampun naik bus lumayan lama juga ya mas ;D. Aku belum pernah naik bus lintas Sumatra gini. Soalnya ga yakin Ama bus nya :(. Aku gampang pusing dan mabok kalo naik bus gitu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha.. iya Mbak, emang dari jurusan sejarah dan emang sukanya ama sejarah.

      Ahahaha... Bus-bus di lintas sumatera keren kok, apalagi jalurnya, dijamin bikin mabok. 🤣

      Delete
  14. Jadi masih di bengkulu mas?

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung, silahkan berkomentar dengan sopan :)