Thursday, May 1, 2014

Museum Simalungun di Pematang Siantar



Museum Simalungun

               Museum Simalungun adalah sebuah museum unik berbentuk rumah adat Simalungun dan beralamat di Jalan Sudirman, Pematang Siantar. Museum yang dibangun pada tanggal 10 April 1939 di Pematang Siantar oleh Raja-raja Simalungun ini menyimpan benda-benda cagar budaya Suku Simalungun yang bernilai sejarah dan budaya agar tidak lenyap ditelan jaman. 
           Arsitektur Museum
           Museum Simalungun berbentuk Rumah Adat Simalungun yang memiliki ciri khas khusus pada bangunan, yaitu konstruksi bagian bawah atau kaki bangunan berupa susunan kayu glondongan yang masih bulat-bulat, dengan cara silang menyilang dari sudut ke sudut. Ciri khas lainnya adalah bentuk atap di mana pada anjungan diberi limasan berbentuk kepala kerbau lengkap dengan tanduknya. Di samping itu pada bagian-bagian rumah lainnya diberi hiasan berupa lukisan-lukisan yang berwarna-warni yaitu merah, putih dan hitam.
           Koleksi Museum
           Saat saya dan teman-teman dari kampus berkunjung ke museum ini, pengunjungnya cuma kami, padahal koleksi museum ini cukup banyak dan beragam.


 
Museum Simalungun
  Museum Simalungun memiliki koleksi berjumlah 860 buah, yaitu :
  1. Koleksi Etnografika yaitu: Peralatan Rumah Tangga; Peralatan Pertanian; Peralatan Menangkap Ikan; Peralatan meramu dan berburu; Peralatan pandai emas dan pandai besi; Peralatan music dan tari; Peralatan pengrajin tenun; bahan-bahannya terbuat dari kayu, rotan, bambu, porselin, tanah liat, tanduk tulang-tulang, besi tembaga, kuningan dan bahan-bahan lainnya. 
  2. Koleksi Keramikologie terdiri dari berbagai jenis porselin buatan China, Holland dan Spanyol.
  3. Koleksi Numismatika terdiri dari berbagai mata uang seperti mata Uang Indonesia, Belanda, Jepang dan lain-lain. 
  4. Koleksi Naskah Kuno (Old Manuscript) terbuat dari kulit kayu Alim dan bamboo ayan. Naskah kuno menyimpan berbagai aspek ilmu pengetahuan seperti astrologi dan astronomi serta ramuan obat tradisional
  5. Koleksi Arkeologi yang terdiri dari aneka arca yang terbuat dari batu, perunggu dan kuningan
  6. Koleksi Hand Craff yakni koleksi karya seni berupa arca dan ornament yang bahannya terbuat dari kayu dan bambu.
  
Koleksi museum
          Cukup disayangkan memang, museum ini tidak mampu bersaing dengan objek wisata lainnya. Padahal kota Pematang Siantar sebagai tempat museum ini berada, merupakan salah satu kota transit menuju Danau Toba dan museum ini adalah pengingat bagi jadi diri Suku Simalungun.
AlamatJalan Sudirman, Pematang Siantar
Tiket Masuk : gratis

Museum Deli Serdang di Lubuk Pakam

Museum Deli Serdang

Museum Deli Serdang terletak di sekitar kompleks perkantoran pemerintah Deli Serdang, Kelurahan Desa Jati Sari, Kecamatan Lubuk Pakam, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara,
Tidak sulit untuk mencarinya, karena di pinggir jalan sekitar kompleks perkantoran pemerintah tersebut terdapat pamflet informasi yang menunjukkan arah sebuah museum Deli Serdang.
Museum Deli Serdang biasanya hanya ramai dikunjungi oleh anak-anak sekolah apabila ada peringatan hari-hari nasional setelah mereka mengikuti upacara di lapangan Deli Serdang yang terletak tidak jauh dari museum tersebut.
Sebagian Koleksi Museum Deli Serdang
 Padahal museum yang berstatus sebagai Unit Pelaksana Teknis Seni dan Budaya ini memiliki koleksi yang cukup beragam, mulai dari pakaian adat Melayu, Karo, Simalungun, Toba, Jawa dan Nias, peralatan musik dari berbagai suku yang ada di Sumatera Utara serta peralatan hidup suku-suku tersebut. Selain itu, di museum ini juga menyimpan koleksi foto-foto tua kerajaan Deli serdang, lukisan dari pertempuran Medan Area dan koleksi mata uang kuno dan beragam benda koleksi lainnya. 
Sepeda Tua
Di Dalam museum ini juga terdapat berbagai peninggalan yang berhubungan dengan kesenian Tari Serampang Dua Belas dan penciptanya.
Prasasti peresmian museum

Alamat :  kompleks perkantoran pemerintah Deli Serdang, Kelurahan Desa Jati Sari, Kecamatan Lubuk Pakam
Tiket Masuk : Gratis

Friday, March 21, 2014

Istana Niat Lima Laras Peninggalan Sejarah Batu Bara



Istana Lima Laras

Tidak hanya Istana Maimun, Sumatera Utara juga memiliki Istana Kerajaan yang telah berusia di atas 100 Tahun yaitu Istana Niat Lima Laras. Istana Lima Laras terletak di desa laras, Kecamatan Tanjung Tiram, Kabupaten Batubara, Sumatera Utara. Istana yang berada di atas tanah seluas 102 x 98 meter ini dibangun oleh Datuk Matyoeda, Raja Kerajaan Lima Laras XII pada tahun 1907 dan selesai 1912.
Perjalanan menuju Istana Niat Lima Laras saya lakukan bersama sahabat saya, Bayu. Kami mengendarai sepeda motor. Karena angkutan hanya sampai di Kota Batubara saja. Saya pikir mudah menemukan istana ini. Ternyata cukup sulit karena lokasinya di pinggir kota.
Semula istana ini bernama Istana Niat, karena rencana pembangunannya berdasarkan niat Matyoeda untuk mendirikan sebuah istana untuk kerajaan itu apabila perdagangannya berhasil dan tidak diganggu oleh Belanda.


Pembangunan Istana ini dikerjakan oleh tenaga ahli yang didatangkan dari China. Hampir keseluruhan bangunan istana berarsitektur Melayu, terutama pada model atap dan kisi-kisinya. Tetapi ada juga beberapa bagian istana yang berornamen China. Tepat didepan istana Lima Laras, kita akan melihat dua buah meriam. Namun yang uniknya, meriam ini bukan digunakan untuk menembak musuh, melainkan untuk mengumpulkan rakyat apabila ada pengumuman dari raja.
Meriam di depan Istana
Istana Lima Laras
Sayangnya perhatian pemerintah masih kurang terhadap istana ini. Karena keadaan istana cukup kurang terawat sehingga tidak begitu mengundang minat wisatawan untuk mengunjunginya.
Alamat : Desa laras, Kecamatan Tanjung Tiram, Kabupaten Batubara
Wisata di sekitarnya:
> Pantai Bunga
> Pantai Bogak  

Sunday, March 16, 2014

Berwisata di Kota Tanjung Balai



Pendopo dengan atap berbentuk kulit kerang

Kota Tanjung Balai yang dijuluki Kota Kerang ini adalah sebuah kota di Sumatera Utara yang berjarak tempuh 4 jam dari Kota Medan. Kota kecil yang berada di tepi sungai Asahan dan Sungai Silau ini menyimpan jejak sejarah Kesultanan Melayu Asahan.
Beberapa saat yang lalu saya bertraveling untuk berkeliling kota ini. Meski kecil dan tidak memiliki wisata alam, tetapi kota ini masih memiliki objek wisata yang menarik untuk dikunjungi yaitu wisata sejarah, religi, dan kuliner.
Objek pertama yang saya kunjungi adalah Replika Istana Kesultanan Asahan. Replika istana ini terletak agak di pinggir Kota Tanjung Balai. Dulunya istana yang asli berada di belakang Lapangan Pasir, tetapi istana tersebut telah dirubuhkan dan berganti bangunan swasta.  Replika istana ini pun kondisinya kurang terawat sehingga cukup memprihatinkan melihat bangunan pengingat sejarah terbengkalai begitu saja.
Replika Istana Asahan
Setelah mengunjungi Replika Istana Asahan, saya beranjak ke Replika Rumah Balai yang terletak di Ujung Tanjung Kota Tanjung Balai. Tempat ini merupakan awal dari sejarah Kota Tanjung Balai. Balai yang ada di Tanjung dan jadilah Tanjung Balai. Dari tempat ini saya dapat melihat Sungai Asahan dan Sungai Silau yang menyatu tepat di belakang Rumah Balai ini. Panoramanya cukup menarik karena terkadang beberapa kapal juga terihat melintas di Sungai Asahan. 
Bangunan Balai di Ujung Tanjung
Di Belakang Balai merupakan pertemuan Sungai Asahan dan Sungai Silau

Dari rumah balai ini saya juga melihat Jembatan Tabayang yang merupakan jembatan terpanjang di Sumatera Utara, panjang jembatan itu mencapai 600 meter. Jembatan Tabayang atau Jembatan Sei Kepayang ini menghubungkan kota Tanjung Balai dengan Kecamatan Sei Kepayang. Jembatan ini umumnya ramai pada sore hari dan malam minggu karena jembatan ini merupakan spot untuk melihat keindahan Sungai Asahan menjelang senja. Jika sore hari, di atas jembatan ini biasanya juga terdapat penjual makanan ringan seperti kacang rebus, jagung rebus, es nira dan jajanan lainnya.
Jembatan Sei Kepayang
Pemandangan senja Sungai Asahan dari atas jembatan
Berhubung waktu magrib telah tiba, saya beranjak dari Jembatan Tabayang dan memutuskan untuk sholat di Masjid Raya Ahmadsyah. Masjid ini merupakan peninggalan Kesultanan Asahan dan berusia lebih dari 100 tahun. Uniknya, Masjid Raya Ahmadsyah dibangun tanpa semen, tetapi menggunakan pasir dan tanah liat.
Masjid Raya Ahmadsyah yang bersejarah dan unik
Selesai Sholat, saatnya mengisi perut. Food Court yang berada disebelah Lapangan Pasir adalah pusat jajanan rakyat Tanjung Balai. Di tempat ini kita bisa dengan mudah menemukan kuliner khas Tanjung Balai, yaitu kerang rebus yang disajikan dengan saus bumbu kacang. Selain kerang rebus, di tempat ini juga tersedia berbagai makanan lainnya seperti pisang kepit, jagung bakar, kelapa muda dan makanan lainnya.
Tanjung Balai Food Court tempat aneka kuliner Tanjung Balai

Tranportasi : Dari Medan dapat menggunakan Kereta Api dengan tiket Rp. 35.000 atau Bus KUPJ, KUPJ Tour, Sartika dengan ongkos Rp. 30.000. untuk berkeliling kota, bisa menggunakan becak motor atau berjalan kaki jika kuat.

Sunday, March 9, 2014

Mencari Kerang di Pem. Sei Baru, Asahan



Mencari Kerang DI Beting

Liburan sambil mengikuti kegiatan penduduk lokal adalah sebuah wisata yang sangat mengasyikkan dan berkesan. Di Desa Pematang Sei Baru, Kecamatan Tanjung Balai, Kabupaten Asahan, saya ikut bersama penduduk lokal mencari kerang di beting dengan membayar Rp. 2000 saja. Murah banget kan?
Sebelum berangkat ke beting,  persiapkan segala peralatan yang diperlukan dulu guys. Mulai dari pakaian yang tertutup, topi dan tabir surya karena cuaca laut cukup panas. Ntar malah gosong seperti ikan asin jika pake bikini. Hihihi...
Air di Beting sudah mulai surut
Terumbu yang ada kerangnya
 Kemudian siapkan juga kaus tangan dan kaus kaki agar tidak terluka. Kan kasian tangannya yang mulus itu lecet-lecet terkena benda-benda laut. Serta jangan lupa bawa ember sebagai tempat kerang. 
Kerang yang saya dapat
Air di Beting Surut
Cukup dengan membayar Rp. 2000 saja, kita bisa ikut perahu nelayan lokal ke beting dan bisa langsung mencari kerang yang berada dalam terumbunya. Tetapi ingat, ambil kerang yang cukup besar saja agar keberadaan kerang di beting ini tetap terjaga. Liburan asyik tapi lingkungan tetap terjaga. Iya kan guys?
Alamat : Desa Pematang Sei Baru Dsn. XII Kec. Tanjung Balai, Kab. Asahan
Transportasi : Dari Tanjung Balai naik Ojek dan ke beting naik perahu nelayan