Wednesday, February 19, 2014

Masjid Raya Al-Osmani Masjid tertua di Kota Medan


Masjid Raya Al-Osmani
Masjid Raya Al-Osmani adalah masjid tertua di Kota Medan. Masjid yang dikenal juga dengan nama Masjid Raya Labuhan ini terletak di Jalan K. L. Yos Sudarso KM. 19,5 Kecamatan Medan Labuhan, Kota Medan.
Berawal dari pencarian masjid tertua di Medan melalui internet, saya pun lantas memutuskan untuk mengunjungi masjid tertua tersebut. Beruntung, ada angkot yang langsung dari kost menuju lokasi masjid ini dan saya pun cukup membayar Rp. 4000 saja.
Begitu tiba di Masjid yang berada tepat di pinggir jalan menuju Pelabuhan Belawan ini, saya terkagum-kagum akan keindahan arsitekturnya karena bentuk masjid ini lain dari masjid yang biasanya. Tidak menyia-nyiakan kesempatan, saya langsung mengambil wudhu dan sholat di masjid tertua Kota Medan ini.
Di dekat pintu masuk, saya melihat sebuah prasasti pembangunan masjid ini. Masjid Raya Al-Osmani dibangun pada  tahun 1854 oleh Raja Deli, Sultan Osman Perkasa Alam dengan menggunakan bahan kayu pilihan dan. Kemudian pada tahun 1872, masjid ini dibangun menjadi bangunan permanen oleh  putranya sebagai sultan kedelapan, yakni Sultan Mahmud Perkasa Alam. Pembangunan kedua ini dilakukan secara besar-besaran dengan mendatangkan arsitek Jerman. Selain diperluas, material bangunan juga didatangkan dari berbagai negara. Kubah masjid dibuat dari tembaga dan kuningan berbentuk segi delapan dengan berat mencapai 2,5 ton.
Prasasti pembangunan masjid
Masjid ini berwarna kuning keemasan yang merupakan warna khas Melayu dan warna hijau yang melambangkan keislaman. Arsitektur Masjid Raya Al-Osmani sangat mengagumkan, karena menggabungkan perpaduan bangunan Timur Tengah, India, Spanyol, Melayu, dan China. Ornamen China dapat kita lihat dari pintu-pintu masjid dan mimbar masjid, Arsitektur bergaya India terlihat pada kubah tembaga bersegi delapan. Pada kubah masjid bagian dalam terdapat lukisan dan kaligrafi yang sangat indah seperti kaligrafi yang ada di Masjid Raya Al-Mashun.
Pintu masjid berornamen China
Bagian dalam masjid
Kubah masjid dengan kaligrafi yang indah
Keunikan masjid ini adalah tidak adanya menara masjid seperti masjid-masjid kebanyakan dan ada satu keunikan lainnya yang cukup unik lho. Apakah itu?
Keunikannya adalah, menurut penjaga masjid ini adalah adanya dua alat penanda azan yaitu bedug dan kentongan. Bedug ini hanya digunakan pada hari-hari besar saja. Sedangkan kentongan digunakan pada hari-hari biasa. Sungguh unik sekali kan?
Bedug dan Kentongan yang unik
Alamat : Jalan K. L. Yos Sudarso KM. 19,5 Kecamatan Medan Labuhan, Kota Medan.
Transportasi : Dapat menggunakan angkot Medan-Belawan dengan biaya Rp.4000.

dalam komplek masjid juga terdapat rumah berarsitektur Melayu

Sunday, February 9, 2014

Masjid Raya Ahmadsyah Tanjung Balai Terbuat dari Pasir dan Tanah Liat

 
Masjid Raya Sultan Ahmadsyah adalah sebuah masjid yang berada di Kota Tanjung Balai dan merupakan peninggalan Kesultanan Asahan. uniknya, masjid ini dibangun tanpa semen tetapi menggunakan pasir dan tanah liat. 

 Setelah 4 jam di atas kereta api, akhirnya saya sampai juga di Kota Tanjung Balai. langkah kaki ini membawa saya menuju Masjid Raya Ahmadsyah yang merupakan masjid bersejarah di Kota ini.
Sejarah
Masjid Raya Sultan Ahmadsyah Tanjung Balai didirikan mulai pada tahun 1884 dan selesai dibangun pada tahun 1886. Penggagas berdirinya Masjid Raya Sultan Ahmadsyah adalah Sultan Ahmadsyah yang bergelar Marhum Maharaja Indrasakti yang memerintah Kesultanan Asahan mulai tahun 1854 hingga 1888.
Arsitektur dan Keunikannya
Ciri utama dari masjid ini adalah bangunan Melayu. Hal ini saya lihat dari bentuk bangunannya yang berbentuk persegi panjang seperti kebanyakan bangunan Melayu. Pada pinggir atapnya juga terdapat ciri khas bangunan Melayu yaitu ukiran pucuk rebung.
          Keunikan masjid ini adalah tidak terdapat pilar di bagian dalam masjid yang bermakna Allah tidak memerlukan penyangga untuk berdiri. Padahal bangunan dasar dari masjid ini hampir tidak memakai semen melainkan pasir dan tanah liat serta batu bata. sungguh membuat saya terpana akan keunikannya. 
Ruang dalam yang tanpa pilar
Teras masjid yang memiliki banyak pilar
          Keunikan lainnya yaitu kubah masjid tidak terletak di tengah bangunan melainkan di bagian depan masjid sehingga jika dilihat dari depan, masjid ini terkesan biasa namun menyembunyikan keunikannya.
          Di dalam masjid terdapat mimbar yang berornamen Cina. Mimbar ini didatangkan langsung oleh Sultan dari Cina. selain itu juga ada tangga putar untuk naik ke menara masjid yang terletak tepat di belakang mimbar.
Mimbar yang berornamen China
Menurut penjaga masjid yang saya temui, bangunan utama Masjid Raya Sultan Ahmadsyah belum pernah direnovasi. Namun bangunan pendukungnya banyak yang diganti maupun ditambah. Seperti tempat wudhu’ yang berbentuk qullah dan dapur masjid diganti dengan pendopo. Sedangkan gerbang dan menara utamanya dibangun kemudian sehingga masjid ini memiliki dua menara. Di depan masjid juga terdapat kuburan massal korban revolusi sosial maret 1946. Sedangkan di belakang masjid terdapat kuburan keluarga imam dan nazir masjid. Saat ini di pendopo masjid juga terdapat tiga buah meriam peninggalan Kesultanan Asahan.
Makam korban revolusi di depan Masjid Raya Ahmadsyah
Fungsi didirikannya Masjid Raya Sultan Ahmadsyah bukan hanya sebagai sebuah tempat ibadah, tetapi juga merupakan tempat strategis bagi pengembangan masyarakat, Selain sebagai tempat ritual, masjid juga sebagai pusat tumbuh dan perkembangnya kebudayaan Islam.  Di dalamnya dilakukan penyusunan strategi, perencanaan dan aksi di dalam kerangka penyebaran Islam di tengah kehidupan masyarakat. Selain sebagai kepentingan ritual ibadah keagamaan, juga memiliki kepentingan politis untuk melawan hegemoni penjajah.
Fungsi Masjid Raya Ahmadsyah saat ini adalah sebagai tempat ibadah masyarakat muslim Tanjung Balai. Selain itu, di Masjid Raya Ahmadsyah juga dilakukan pengajian-pengajian mingguan, pengajian bulan ramadhan, pengajian remaja masjid dan pengajian anak-anak. Masjid Raya Ahmadsyah juga berfungsi sebagai tempat latihan manasiq haji serta tempat sosial kemasyarakatan seperti pemotongan hewan kurban dan khitanan massal serta penyolatan jenazah .
Sayangnya kini tak banyak yang mengetahui sejarah besar yang dimiliki oleh masjid ini. bahkan termasuk masyarakat Tanjung Balai sendiri. Apalagi saksi-saksi hidup masjid ini semakin berkurang. Padahal masjid ini lebih dahulu ada dari pada Masjid Raya Al-Mahsun di Medan maupun Masjid Raya Sulaimaniyah di Serdang. Oleh karena itu sudah seharusnya remaja-remaja Tanjung Balai melestarikan sejarah negerinya agar tak hilang di tengah arus jaman.
Alamat : Kota Tanjung Balai, Sumatera Utara
Transportasi : dapat menggunakan kereta api dari medan dengan tiket Rp. 35000. kemudian dari stasiun dapat dilanjutkan dengan becak motor seharga Rp. 5000 
Objek Wisata Sekitarnya:
> Lapangan Pasir
> Tanjung Balai Food Court 
> Rumah Balai
> Vihara Tri Ratna
> Kelenteng Dewi Samudera
> Jembatan Tabayang
> Sungai Asahan