Thursday, November 5, 2015

Manortor Bersama Sigale-Gale



Sumatera Utara merupakan provinsi yang terdiri dari banyak etnis seperti Melayu, Toba, Pakpak, Karo, Simalungun, Mandailing, Angkola dan etnis-etnis lainnya. Setiap etnis suku tersebut memiliki kesenian dan budayanya masing-masing dan beberapanya saat ini terkenal sebagai salah satu atraksi wisata yang membuat wisatawan mancanegara terpesona. Salah satu kesenian hasil budaya tersebut adalah menari Tor-Tor bersama Patung Sigale-Gale dari budaya Batak Toba.
Menari Tor-Tor atau disebut juga manortor bersama patung Sigale-Gale adalah sebuah kegiatan tarian tor-tor, tarian khas Batak yang diiringi musik Gondang. Sigale-Gale sendiri adalah sebuah boneka kayu yang berdiri layaknya manusia dan memang berbentuk seperti manusia lengkap dengan panca indera dan mengenakan pakaian adat Batak. Boneka Sigale-gale ini bisa menari layaknya manusia, bahkan gerakannya pun hampir sama dengan gerakan tarian yang dilakukan oleh manusia karena dibantu oleh beberapa dalang yang berada di belakangnya. Oh ya... katanya boneka ini juga bisa menangis lho... hiii...
Boneka Sigale-Gale

Sejarah
Cerita dari boneka ini bermula dari seorang Raja di Uluan yang bernama Raja Rahat. Raja ini telah lama ditinggal oleh istrinya dan ia hanya memiliki seorang putra yang menjadi mahkota dari kerajaan itu. Putranya itu bernama Manggale. Dalam kepemimpinananya, Raja ini sangat bijaksana dan putanya juga sangat dihormati dan disegani oleh rakyatnya kerena ketangkasannya dalam berperang.
Tibalah pada suatu hari terdengar kabar bahwa di hutan Uluan yang jadi perbatasan Uluan telah berkumpul pasukan dari seberang negeri Uluan hendak menyerang dan menjarah harta kekayaan alam Uluan. Mendengar hal itu rakyat juga sang Raja tampak gelisah dan dia tetap berusaha keras memikirkan rencana untuk menghadapi ancaman ini, lalu ia mengumpulkan penasehat-penasehatnya, para tetua kampung, Datu-datu dan putranya Manggalae selaku panglima perang. Dari semua penatua ada seorang Datu yang dianggap sebagai penasehat tertua dan ucapan dari Datu ini sangat didengarkan oleh Raja, Datu itu bernama Datu Manggatas. Mendengar semua perkataan Raja, semua tampak takut dan bingung untuk memberkan keputusan yang tepat. Datu Manggatas itu pun menyarankan untuk berperang melawan dan mengutus Manggalae sebagai pemimpin dalam perperangan itu, dan semua pun setuju dengan pendapat Datu lalu genaplah keputusan sang Raja untuk berperang lalu ia pun mengutus putranya Manggalae untuk memimpin pasukan Uluan menghadapi musuh di pebatasan tersebut.
Setelah enam bulan berlalu, Manggalae dan pasukan nya masih berperang di dalam hutan. Raja dan rakyatnya menantikan kepulangan mereka, namun belum ada kabar karena tidak ada yang berani masukl kedalam hutan. Sampai suatu seketika sang Raja bermimpi, dalam mimpinya ia melihat seekor burung gagak yang sedang terbang diatas rumahnya dan tiba-tiba burung gagak itu terjatuh dan mati karena tertusuk anak panah. Sang Raja pun sering merenungi mnakna mimpi itu dan menafsirkan nya sebagai pertanda buruk. Kekhawatiran juga ketakutannya begitu menyiksanya, karena Manggalae adalah putra semata wayangnya. Tak tahan menahan rindunya, Raja pun jatuh sakit. Melihat keadaan sang Raja para tetua dan penasehat Raja berkumpul dan berunding dalam memikirkan cara penyembuhaannya. Lalu Datu Manggatas pun memberikan masukan untuk membuat patung menyerupai wajah Manggalae dimana Datu manggatas akan mengundang roh Manggalae untuk masuk kedalam patung tersebut agar patung tersebut dapat bergerak seperti manusia, dimana rasa rindu Raja dapat terobati apabila melihat patung itu. mendengar masukan dari Datu itu mereka pun membuat patung itu demi kesembuhan Raja.
Tepat pada bulan purnama, setelah semua persiapan selesai, semua rakyat pun berkumpul menantikan kehadiran Raja bersama Datu Manggatas untuk melihat patung itu, betapa terharunya semua rakyat yang berkumpul disitu karena melihat sang Raja yang menangis menatap patung itu. Lalu Datu Manggatas pun mengisyaratkan pada pargonci untuk memainkan gondang sabangunan, lalu diikuti dengan tiupan alat musik sordam. Menyusul tabuhan Gondang, sang datu mengambil tali tiga warna : merah, hitam dan putih. Lalu mengikatnya dikepala patung itu. Datu lalu mengenakan ulosnya, dan membaca mantra sambil mengelilingi patung tersebut sampai tujuh kali, dan tiba-tiba patung itu bergerak dan tidak hanya bergerak juga manortor bersama sang Datu. Kemudian Datu menjemput sang Raja untuk ikut manortor bersama patung Manggalae. Semua rakyat pun terharu dan ikut bergabung manortor bersama-sama. Mereka manortor hingga fajar terbit dan tibalah roh Manggalae tersebut harus kembali kealamnya sebelum ayam berkokok karena begitulah perjanjiannya.
Roh Simanggalae pun kembali kealamnya meninggalkan patung itu juga seluruh rakyat uluan yang hadir. Dan patung itu pun tidak dapat lagi bergerak. Raja Rahat lalu menyimpaan patung itu. Demikianlah sang Raja terhibur. sehingga sejak saat itu, apabila sang Raja rindu bertemu dengan putranya, ia akan mengadakan upacara pemanggilan roh dan akan manortor bersama ''anak'' nya itu sampai pagi. Patung itu pun dinamai Sigale-gale karena gerakannya yang lemah dan seolah tak bertenaga dan pacara ini selalu dilakukan hingga sang Raja meninggal dunia.
Menjadi Atraksi Wisata
Saat ini kegiatan manortor bersama bonek sigale-gale adalah sebuah kegiatan wisata yang mampu menarik minat banyak wisatawan lokal maupun mancanegara dan telah menjadi salah satu identitas dalam pariwisata Provinsi Sumatera Utara secara umum, dan Samosir secara khususnya.
Wisatawan ikut manortor
mahasiswa juga ikutan

Lokasi 
Atraksi wisata ini biasanya dapat ditemui di Pulau Samosir. Selain itu, manortor bersama patung Sigale-gale juga dapat ditemui di Huta Batak yang berada di Komplek Silalahi Center, Jalan Pagar Batu No. 88, Desa Silalahi, Kecamatan Balige, Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara.

Tuesday, November 3, 2015

Replika Rumah Adat Tongkonan di Balige



Rumah Tongkonan adalah sebuah rumah adat yang berasal dari Sulawesi Selatan atau yang lebih dikenal sebagai rumah adat masyarakat Toraja. Namun rumah adat Tongkonan yang akan saya ceritakan di sini bukanlah rumah adat yang ada di Tanah Toraja sana. Karena jujur saja guys, saya belum pernah menginjakkan kaki di Pulau Sulawesi. Nggak kuat ongkosnya. :D
Rumah adat Tongkonan yang saya bicarakan di sini adalah sebuah replika Rumah Adat Tongkonan.
Alamat 
Rumah Adat Tongkonan ini berada di dalam komplek T.B. Silalahi Center, yang beralamat di Jl. Pagar Batu No. 88, Desa Silalahi, Kecamatan Balige, Kabupaten Toba Samosir, Provinsi Sumatera Utara. Sekitar 5 jam perjalanan dari Kota Medan.
Arsitektur
Meskipun hanya sebuah bangunan replika, tetapi Bentuk bangunan Rumah Tongkonan ini sama seperti Rumah Tongkonan aslinya yang ada di Toraja. Atap rumahnya melengkung menyerupai bentuk perahu, terdiri atas susunan bambu yang pada era sekarang sudah menggunakan seng, di deretan depannya terdiri dari deretan tanduk kerbau, sedangkan bagian dalamnya dijadikan sebagai ruang tidur dan dapur.
Arsitekturnya seperti yang asli
Temasuk ukiran dan hiasannya
di depannya terdapat tanduk kerbau
 Konon kata tongkonan berasal dari tongkon, yang berarti duduk. Dahulu rumah adat tongkonan merupakan pusat pemerintahan, kekuasaan adat, dan perkembangan kehidupan sosial budaya masyarakat Toraja. Rumah adat Tongkonan tidak bisa dimiliki oleh perseorangan melainkan turun temurun oleh keluarga atau marga suku Tana Toraja.

Yah, walaupun belum pernah melihat bangunan asli rumah adat masyarakat Toraja yang ada di Sulawesi Selatan, saya cukup senang bisa mengunjungi replika Rumah Tongkonan yang ada di Balige ini karena bentuk bangunannya sangat mirip seperti aslinya.
Saya di depan replika Rumah Adat Tongkonan

Monday, November 2, 2015

Museum Batak di Balige



Museum Batak yang ada di Balige adalah sebuah museum yang menyimpan berbagai koleksi peninggalan sejarah dan kearifan budaya masyarakat Batak Toba. Museum ini didirikan oleh T. B. Silalahi, dan diresmikan pada tanggal 18 Januari 2011 oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono.

Lokasi
Museum Batak ini bertempat di dalam komplek T.B. Silalahi Center yang berada di Jl. Pagar Batu No. 88, Desa Silalahi, Kecamatan Balige, Kabupaten Toba Samosir, Provinsi Sumatera Utara. Sekitar 5 jam perjalanan dari Kota Medan.
Sebelum masuk ke bagian dalam museum, wisatawan dapat melihat pada bagian taman depan museum terdapat miniatur Danau Toba dan sebuah patung Raja Batak terbuat dari perunggu setinggi 7 meter sebagai Icon Museum. Di bagian depan juga terdapat diorama menggambarkan 6 etnis Batak berupa relief yang dibuat dari perunggu.
Patung raja Batak
Arsitektur Museum
Bangunan Museum Batak tidak seperti bangunan museum-museum lain yang ada di Sumatera Utara yang identik dengan gelap dan tradisional. Bangunan Museum Batak yang ada di Balige ini berkonsep bangunan modern. Sehingga telihat begitu hidup. Pencahayaan di dalam museum juga cukup terang karena jendela-jendela kacanya cukup lebar. Bahkan di satu bagian museum, atapnya terbuat dari kaca, sehingga cahaya bebas masuk ke dalam bangunan museum.
arsitekturnya modern
Kulit bangunan museum pun terbuat dari bahan modern yaitu Aluminium Komposit, tetapi diolah dengan nilai-nilai lokal dan tradisional yaitu aluminium komposit diberi motif gorga yang merupakan seni ukir khas Batak. Sistem struktur bangunan museum ini adalah rangka beton bertulang yang memenuhi standart yang ditetapkan, termasuk antisipasi resiko gempa.  Selain itu, bangunan Museum Batak ini dilengkapi dengan kamera CCTV yang disebar di setiap sudut bangunan serta dilengkapi dengan tangga darurat untuk evakuasi kebakaran. Sungguh museum modern yang keren.
Museumnya rapi dan bersih
 Koleksi Museum
Beranjak ke bagian  dalam museum, wisatawan akan menjumpai berbagai koleksi peninggalan sejarah dan kearifan budaya masyarakat Batak Toba yang tersusun rapi dan cantik. Koleksi tersebut berupa artefak, barang-barang bersejarah, senjata dan alat perang, peralatan kecantikan suku Batak, miniatur Danau Toba, miniatur rumah adat Batak, aksara Batak, berbagai patung, tongkat, mata uang, peralatan hidup masyarakat Batak dan berbagai koleksi bersejarah lainnya. Di salah satu ruangan juga terdapat diaroma yang menggambarkan perjuangan Sisingamangaraja XII dalam melawan Kolonial Belanda.
Berbagai senjata

Peralatan hidup

Kerajinan, kain ulos
Alat musik
Artefak

aksara batak

Patung-patung dari kayu

diaroma perjuangan Sisingamangaraja

Sunday, November 1, 2015

Museum T.B. Silalahi




Museum T.B. Silalahi Center adalah museum pribadi atau museum jejak langkah dari T. B. Silalahi yang berisi tentang sejarah dan biografi T.B. Silalahi. T.B. Silalahi membangun museum ini sebagai wadah untuk memotivasi generasi muda untuk terus meraih cita-cita dengan melihat pengalaman TB. Silalahi mulai dari kecil sebagai anak pengembala kerbau sampai menjadi seorang Jenderal.
Patung T.B. Silalahi
Lokasi
Museum T.B. Silalahi berada di dalam komplek T.B. Silalahi Center yang beralamat di Jl. Pagar Batu No. 88, Desa Silalahi, Kecamatan Balige, Kabupaten Toba Samosir, Provinsi Sumatera Utara. Sekitar 5 jam perjalanan dari Kota Medan.
Koleksi Museum
Koleksi museum ini berupa koleksi pribadi T. B. Silalahi yang berupa pakaian dinas, bintang jasa, tanda kehormatan, kendaraan pribadi dan dinas, jenis senjata yang pernah digunakan oleh T. B. Silalahi, dan kenang-kenangan dari penjuru dunia yang diberikan kepada Bapak T. B. Silalahi. 
Di dalam ruangan ini juga terdapat panel-panel yang menceritakan sejarah hidup perjalanan T. B. Silalahi serta perjalanan karirnya. Selain itu di ruangan ini juga terdapat benda-benda pribadi beliau seperti seragam dan pangkat-pangkat ketika di kemiliteran, beberapa ijazah, pakaian ketika menteri, bangku sekolah waktu di SR, mobil dinas yang dulu digunakan ketika menjabat sebagai Menpan pada Kabinet Pembangunan VI, dan lain sebagainya.
Kendaraaan
Berbagai macam senjata
Bintang jasa
Panel ruang kerja T.B. Silalahi
Koleksi buku
Ada tank juga di halaman museum

Friday, October 30, 2015

Makam Sisingamangaraja XII di Balige

Sisingamangaraja XII adalah seorang pahlawan nasional yang pernah berjuang melawan Kolonial Belanda. Untuk mengenang jasa beliau dan memahami perjuangan beliau, para penikmat sejarah dapat mengunjungi makamnya yang terletak di Balige.
Lokasi
Makam Sisingamangaraja XII berada di dalam Komplek Taman Makam Pahlawan Sisingamangaraja, di jalan Soposurung, Kecamatan Balige, Kabupaten Toba Samosir. Sesungguhnya sejak awal Sisingamangaraja XII bukan dimakamkan di Balige, melainkan di Kota Tarutung. Presiden Soekarno lah yang memiliki inisiatif memindahkan makamnya ke Balige. Karena Balige adalah tempat pertama kali meletusnya perang antara pasukan Sisingamangaraja XII dengan pasukan Belanda. Dan menurut Soekarno, makam di Tarutung adalah makam yang dibuatkan pihak Belanda untuk Sisingamangaraja XII sebagai tawanan dan tidak layak bagi pahlawan besar seperti Sisingamangaraja. Oleh karena itu, makam Sisingamangaraja XII pun dipindahkan ke Balige.
 

Landscape Komplek Makam
Komplek Makam Sisingamangaraja XII cukup asri dan teduh karena di sini terdapat banyak pohon-pohon rindang yang menaungi komplek makam ini. Sebelum memasuki areal makam, pengunjung akan melewati sebuah gapura kecil atau pondok kecil dengan atap berbentuk atap rumah adat Batak. Setelah itu barulah kita menjumpai makam Sisingamangaraja XII. Di dalam komplek makam juga terdapat perpustakaan sekaligus museum Sisingamangaraja yang berisi berbagai biografi Sisingamangaraja XII. Gedung perputakaan ini dibangun dengan arsitektur khas Batak Toba dan diberi ukiran gorga.
Pondok kecil
Makam putra dan putri Sisingamangaraja
 
Perpustakaan

Sisingamangaraja XII
Sisingamangaraja XII adalah seorang seorang raja di negeri Toba, Sumatera Utara. Beliau juga merupakan pahlawan nasional yang berjuang melawan pemerintah kolonial Belanda. pada masa awal pemerintahannya, kegiatan pengembangan agama Kristen sedang berlangsung di Tapanuli. Belanda ikut masuk dengan berlindung di balik kegiatan tersebut. Namun lambat laun Belanda mulai menunjukkan iktikad tidak baik dan bermaksud ingin menguasai wilayah kekuasaan Sisingamangaraja XII. Ketegangan pun terjadi di kedua belah pihak.
Pada tanggal 19 Februari 1878, Sisingamangaraja XII bersama rakyat Tapanuli mulai melancarkan serangan terhadap pos pasukan Belanda di Bahal Batu, dekat Tarutung. Dalam pertempuran tersebut pasukan Sisingamangaraja kalah dan terpaksa mundur. Namun, perlawanan pasukan Sisingamangaraja masih tetap tinggi dan Belanda semakin gencar mengejar Sisingamangaraja XII sampai membakar desa-desa hingga pertempuran meluas ke beberapa daerah.
Pada tanggal 17 Juni 1907, setelah 30 tahun bertempur, pasukan Sisingamangaraja di kepung pihak Belanda. dalam pertempuran tersebut, Sisingamangaraja XII tewas bersama dua putra dan satu putrinya, serta beberapa panglimanya.