Selasa, 16 November 2021

Wisata Kota Palembang, Museum Balaputera Dewa

Museum Balaputera Dewa Palembang
Museum Balaputera Dewa Palembang

Hai kawan-kawan, gimana kabar kalian? Semoga sehat selalu dan untuk seterusnya juga begitu. Kalo pun ada yang sakit, semoga cepat sembuh ya. Aamiin... Kalo kabarku, alhamdulillah saat ini aku baik-baik aja dan semoga tetap baik untuk kedepannya.

Ternyata udah lama juga ya aku nggak nulis di blog ini. Bukan bermaksud untuk ngelupain sih, hanya saja setelah yang terakhir kali aku nulis tentang si dia itu, aku emang ingin nenangin diri sejenak. Kebetulan dapat jadwal latsar CPNS juga. Sehingga 3 bulan belakangan ini aku cukup disibukkan dengan tugas dan kegiatannya. Bahkan kegiatan klasikalnya kemarin sampe diadain di Palembang.

Syukurnya sekarang udah selesai, jadi udah lumayan tenang sih. Bisa nulis lagi deh. Apalagi ada beberapa cerita tentang Palembang nih. Jadi ceritanya kemarin itu aku ikut kegiatan klasikal latsar CPNS di Asrama Haji Palembang selama satu minggu. Dan selama satu minggu itu kami terkarantina di dalam asrama. Nggak kemana-mana coy.

Jadi setelah acaranya selesai, aku putusin untuk jalan-jalan menikmati Kota Pempek ini. Petualangaku pun di mulai dari Museum Balaputera Dewa atau yang nama resminya Museum Negeri Provinsi Sumatera Selatan “Balaputera Dewa”.

Alamat Museum Balaputera Dewa

Museum Balaputera Dewa beralamat di Jalan Srijaya, No. 1, Rw 5, Srijaya, Kecamatan Alang-Alang Lebar, Kota Palembang. Museum ini letaknya masih ada di sekitar pusat kota Palembang, bahkan museum ini juga nggak jauh dari Stasiun LRT RSUD Prov Sumsel. Jadi mudah banget deh kalo mau ke museum ini.

Sejarah Museum Balaputera Dewa

Museum Balaputera Dewa dibangun pada tahun 1978 dan diresmikan pada tanggal 5 November 1984. Museum ini berstatus sebagai Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara. Penamaan Balaputera Dewa diambil berdasarkan nama Raja Sriwijaya yang memerintah ada abad ke-9 Masehi.

Tiket Masuk Museum Balaputera Dewa

Sebelum masuk ke dalam museumnya, udah pasti harus beli tiket dulu dong. Tiket masuknya murah meriah cuy, perorangnya cuma Rp. 2000 aja. Murah meriah dapat ilmu pengetahuan tentang sejarah dan budaya juga loh. Mantap banget coy. 

Museum Balaputera Dewa Palembang
Tiket masuknya cuma Rp. 2000 aja cuy

Koleksi Museum Balaputera Dewa

Setelah membayar tiket masuknya, aku pun segera menjelajahi setiap ruangan yang ada di museum ini. Ruangan pertama yang kumasuki adalah ruangan hibah. Ruangan ini menyimpan berbagai koleksi hasil hibah dari masyarakat dan orang-orang. Di dalamnya ada koleksi senjata, keramik hingga uang kuno. 

Museum Balaputera Dewa Palembang
koleksi hibah

Selain ruang hibah, masih banyak ruang-ruang lainnya yaitu, Gedung Pameran I, Gedung Pameran II dan Gedung Pameran III. Di dalam gedung pameran ini ada banyak koleksi lainnya seperti Galeri Melaka Bersejarah Bendaraya Warisan Dunia yang isinya berhubungan dengan sejarah dan budaya Melayu khususnya Melayu Melaka, 

Museum Balaputera Dewa Palembang
Gedung Pameran II
Museum Balaputera Dewa Palembang
Koleksi sejarah Melaka Melayu

Di ruang selanjutnya kemudian ada juga berbagai fosil-fosil dari hewan dan fosil lainnya yang ditemukan dari hasil ekskavasi di sekitar Sumatera Selatan. Selanjutnya ada berbagai barang peninggalan bersejarah dari Kerajaan Sriwijaya seperti prasasti dan arca-arca dari patung Budha serta berbagai sisa kayu kapal yang membuktikan kejayaan maritim Kerajaan Sriwijaya sebagai pusat perdagangan di Selat Malaka di masa lalu. 

Museum Balaputera Dewa Palembang
Berbagai fosil hasil ekskavasi
Museum Balaputera Dewa Palembang
Salah satu prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya
Museum Balaputera Dewa Palembang
Koleksi tempayan dan guci serta gerabah
Museum Balaputera Dewa Palembang
Sisa kayu kapal bukti kejayaan kemaritiman Kerajaan Sriwijaya
Museum Balaputera Dewa Palembang
Koin kuno bukti Sriwijaya sebagai pusat perdagangan
Museum Balaputera Dewa Palembang
Koleksi porselin dan keramik

Setelah itu ada juga koleksi peninggalan dari Kerajaan Palembang yang bercorakkan Islam dan salah satu koleksinya adalah Al-Quran tua. Selanjutnya ada peninggalan dari masa penjajahan seperti benda-benda sisa perjuangan melawan penjajah. Terakhir ada barang-barang koleksi yang berhubungan dengan adat dan budaya masyarakat Sumatera Selatan seperti kain dan pakaian khas Sumsel hingga berbagai barbagai barang peralatan hidup masyarakat, seperti peralatan bertani, peralatan kegiatan adat dan lain-lain. 

Museum Balaputera Dewa Palembang
Koleksi Al-Quran tua dan naskah-naskah Islam
Museum Balaputera Dewa Palembang
Koleksi dari masa perjuangan
Museum Balaputera Dewa Palembang
Kain khas Sumatera Selatan
Museum Balaputera Dewa Palembang
Ada si ganteng yang unyu di Museum Balaputera Dewa

Rumah Adat Limas

Sebelum keluar dari Museum Balaputera Dewa, aku teringat kalo ternyata Rumah Adat Limas yang ada di uang Rp. 10.000 juga ada di museum ini, tepatnya ada di sisi belakang museumnya. Buru-buru deh aku ke belakang untuk melihat Rumah Adat Limas yang ikonik tersebut. 

Museum Balaputera Dewa Palembang
Siganteng yang unyu di depan Rumah Adat Limas

32 komentar:

  1. Musiumnya sama kayak di tempatku . Namun sayangnya di tempatku itu ?? Belum ada musium rumah adatnya . Dan, selamat sudah jadi PNS yaa??

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak, nggak semua museum juga sih ada rumah adatnya. malah kebanyakan nggak ada rumah adatnya.

      Terima kasih Mbak. :)

      Hapus
  2. Omong-omong soal museum di kita, padahal tiketnya murah-murah tapi jarang pengunjungnya ya.


    Selamat ya latsarnya, semoga sukses ke babak selanjutnya 🙏😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah itu dia masalahnya Mbak, padahal murah banget tiketnya.
      terus dapat banyak ilmunya juga.
      tapi nggak tau deh kenapa bisa sepi pengunjung.

      Makasih Mbak :)

      Hapus
  3. Kalau berkunjung ke daerah baru emang paling bener harus ke museumnya ya mas, biar tau sejarahnya, lebih puas juga rasanya kalau berkunjung ke museum aslinya daripada hanya baca sejarahnya di buku hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak, bener banget tuh, jadi bisa lebih mengenal budaya dan sejarah daerah tersebut kalo ngunjungi musuemnya.

      Hapus
  4. Aihh senangnya, bisa sembari lihat2 museum yg ada di Sumsel ya. Saya senang kalau ke museum budaya gini, maksudnya sejarah di daerah tsb. Jadi nambah wawasan ttg daerah di Indonesia kan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak, bisa lebih mengenal budaya dan sejarah daerah setempat kalo ngunjungi museumnya. apalagi tiket masuk museum juga murah banget.

      Hapus
  5. Oh ada jadwal latsar PNS makanya tidak pernah update lagi selama tiga bulan ya bang Rudi, untungnya sudah selesai ya.

    Menarik juga museum balaputra dewa, yang menarik itu tiketnya murah meriah cuma 2.000, itu kalo disini cuma buat bayar parkir.😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayok main lah ke palembang mas Agus, aku penasaran sama mas Agus ini, hahaha

      Hapus
    2. Iya Mas Agus, jadi cukup sibuk juga kemarin itu.

      Ahahahha... semurah itu pun pengunjungnya sepi Mas.

      Nah, ada undangan main ke Palembang tuh Mas.

      Hapus
  6. Ada koleksi Al Qur'an tua dari Kerajaan Palembang nih. Banyak ya koleksi museum ini. Mestinya banyak pengunjungnya. Tiket masuknya juga terbilang murah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak, selain Al-Quran tua, masih banyak koleksi-koleksi keren lainnya. tapi sayang nggak rame pengunjungnya, padahal murah meriah tiketnya.

      Hapus
  7. Wah sik ya jalan ke museum... Aku terakhir ke museum udah lama banget, sekitar 2015, yakni museum purbakala Sragen hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waduh, lama banget tuh.
      tapi museum Purbakala juga keren banget tuh. saya juga pengen deh ke sana.

      Hapus
  8. Aku nunggu wisata2 Palembang yg mas Rudi datangin :). Aku kalo ke Palembang, ga pernah wisata begini mas, cuma wisata kuliner thok dari awal Ampe akhir 🤣. Terlalu enak makanan2 di sanaaa 😄👍.

    Menarik juga museumnya. Uang koin yg dulu di pake dan kayu bekas kapalnya, pengen banget aku liat langsung. Jadi ngebayangin saat Sriwijaya masih jadi kerajaan yg kuat dulu itu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahahaha... kulinernya emang juara sih Mbak. tapi destinasi wisatanya juga nggak kalah keren kok.

      Nah, makanya ke sini Mbak, ada dioramanya juga loh.

      Hapus
  9. Weeeeh jadi CPNS nih mas. Selamat yaaak. Baarakalllahu....
    Btw aku yg orang Palembang, itu bdlum pernah loh ke Museum Balaputradewa hehehehe.
    Oh yaa itu Rumah Limas yg ada di uang 10rb. Biasanya teman2 ku sering memfoto rumah limas di situ, sambil membawa uang 10rb biar bisa dibandingkan heheehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal mas Joe, salam blogger palembang.

      Hapus
    2. Aamiin... makasih Kang.
      ahahaha... emang gitu sih Kang. penduduk asli malah kebanyakan nggak berwisata di daerah sendiri.

      Hapus
  10. Terima kasih sudah berkunjung ke kota ku mas Rudi, saya senang sekali sudah membuat artikel tentang Museum Balaputradewa di palembang, saya terakhir kesana pas masih SD, jangan kapok maen ke kota pempek ini ya. Udah cobain pempek nya belum? Hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama Mas.
      nggak bakal kapok Mas, malah kurang nih, pengen ke sana lagi, pempeknya bikin nagih.

      Hapus
  11. Belum pernah ke Palembang :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga setelah ini bisa ke Palembang Kak. aamiin...

      Hapus
  12. Selamat ya sudah jadi PNS :) Semoga di tengah2 kesibukan bekerja nanti, bisa tetap ngeblog... Suka baca2 tentang pelosok daerah yg kamu datengin... ini salah satunya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih Mbak :)
      aamiin... ini juga diusahain Mbak.

      Aahhahaa... iya Mbak, wisata plosok eksotis soalnya.

      Hapus
  13. Wahhh aku pernah nih kesini, tapi waktu itu keknya masih kecil banget.. Lokasinya kalau gak salah ini sih, soalnya dari foto yang kupunya itu juga seperti itu.. Jadi kangen pengen balik lagi kesana hhu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo gitu harus ke sini lagi Mas, untuk ngembaliin kenangan masa kecilnya.

      Hapus
    2. Wahh haruss, semoga nataru nanti gak ada hambatan hhi

      Hapus
  14. Rumah Adat Limas kelihatan atapnya memamng ditonjolkan ya mas. Kayak mendem begitu bagian bawah atapnya alias dinding rumahnya. Wisata edukasi seperti ini harus digalakkan ya biar masyarakat main tahu sejarah dan keberadaannya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kayaknya sih gitu Mbak, padahal ini rumah panggung loh, tapi atapnya nonjol banget.

      Hapus

Terima kasih telah berkunjung, silahkan berkomentar dengan sopan :)