Sunday, February 9, 2014

Masjid Raya Ahmadsyah Tanjung Balai Terbuat dari Pasir dan Tanah Liat

 
Masjid Raya Sultan Ahmadsyah adalah sebuah masjid yang berada di Kota Tanjung Balai dan merupakan peninggalan Kesultanan Asahan. uniknya, masjid ini dibangun tanpa semen tetapi menggunakan pasir dan tanah liat. 

 Setelah 4 jam di atas kereta api, akhirnya saya sampai juga di Kota Tanjung Balai. langkah kaki ini membawa saya menuju Masjid Raya Ahmadsyah yang merupakan masjid bersejarah di Kota ini.
Sejarah
Masjid Raya Sultan Ahmadsyah Tanjung Balai didirikan mulai pada tahun 1884 dan selesai dibangun pada tahun 1886. Penggagas berdirinya Masjid Raya Sultan Ahmadsyah adalah Sultan Ahmadsyah yang bergelar Marhum Maharaja Indrasakti yang memerintah Kesultanan Asahan mulai tahun 1854 hingga 1888.
Arsitektur dan Keunikannya
Ciri utama dari masjid ini adalah bangunan Melayu. Hal ini saya lihat dari bentuk bangunannya yang berbentuk persegi panjang seperti kebanyakan bangunan Melayu. Pada pinggir atapnya juga terdapat ciri khas bangunan Melayu yaitu ukiran pucuk rebung.
          Keunikan masjid ini adalah tidak terdapat pilar di bagian dalam masjid yang bermakna Allah tidak memerlukan penyangga untuk berdiri. Padahal bangunan dasar dari masjid ini hampir tidak memakai semen melainkan pasir dan tanah liat serta batu bata. sungguh membuat saya terpana akan keunikannya. 
Ruang dalam yang tanpa pilar
Teras masjid yang memiliki banyak pilar
          Keunikan lainnya yaitu kubah masjid tidak terletak di tengah bangunan melainkan di bagian depan masjid sehingga jika dilihat dari depan, masjid ini terkesan biasa namun menyembunyikan keunikannya.
          Di dalam masjid terdapat mimbar yang berornamen Cina. Mimbar ini didatangkan langsung oleh Sultan dari Cina. selain itu juga ada tangga putar untuk naik ke menara masjid yang terletak tepat di belakang mimbar.
Mimbar yang berornamen China
Menurut penjaga masjid yang saya temui, bangunan utama Masjid Raya Sultan Ahmadsyah belum pernah direnovasi. Namun bangunan pendukungnya banyak yang diganti maupun ditambah. Seperti tempat wudhu’ yang berbentuk qullah dan dapur masjid diganti dengan pendopo. Sedangkan gerbang dan menara utamanya dibangun kemudian sehingga masjid ini memiliki dua menara. Di depan masjid juga terdapat kuburan massal korban revolusi sosial maret 1946. Sedangkan di belakang masjid terdapat kuburan keluarga imam dan nazir masjid. Saat ini di pendopo masjid juga terdapat tiga buah meriam peninggalan Kesultanan Asahan.
Makam korban revolusi di depan Masjid Raya Ahmadsyah
Fungsi didirikannya Masjid Raya Sultan Ahmadsyah bukan hanya sebagai sebuah tempat ibadah, tetapi juga merupakan tempat strategis bagi pengembangan masyarakat, Selain sebagai tempat ritual, masjid juga sebagai pusat tumbuh dan perkembangnya kebudayaan Islam.  Di dalamnya dilakukan penyusunan strategi, perencanaan dan aksi di dalam kerangka penyebaran Islam di tengah kehidupan masyarakat. Selain sebagai kepentingan ritual ibadah keagamaan, juga memiliki kepentingan politis untuk melawan hegemoni penjajah.
Fungsi Masjid Raya Ahmadsyah saat ini adalah sebagai tempat ibadah masyarakat muslim Tanjung Balai. Selain itu, di Masjid Raya Ahmadsyah juga dilakukan pengajian-pengajian mingguan, pengajian bulan ramadhan, pengajian remaja masjid dan pengajian anak-anak. Masjid Raya Ahmadsyah juga berfungsi sebagai tempat latihan manasiq haji serta tempat sosial kemasyarakatan seperti pemotongan hewan kurban dan khitanan massal serta penyolatan jenazah .
Sayangnya kini tak banyak yang mengetahui sejarah besar yang dimiliki oleh masjid ini. bahkan termasuk masyarakat Tanjung Balai sendiri. Apalagi saksi-saksi hidup masjid ini semakin berkurang. Padahal masjid ini lebih dahulu ada dari pada Masjid Raya Al-Mahsun di Medan maupun Masjid Raya Sulaimaniyah di Serdang. Oleh karena itu sudah seharusnya remaja-remaja Tanjung Balai melestarikan sejarah negerinya agar tak hilang di tengah arus jaman.
Alamat : Kota Tanjung Balai, Sumatera Utara
Transportasi : dapat menggunakan kereta api dari medan dengan tiket Rp. 35000. kemudian dari stasiun dapat dilanjutkan dengan becak motor seharga Rp. 5000 
Objek Wisata Sekitarnya:
> Lapangan Pasir
> Tanjung Balai Food Court 
> Rumah Balai
> Vihara Tri Ratna
> Kelenteng Dewi Samudera
> Jembatan Tabayang
> Sungai Asahan   


4 comments:

  1. Bagus sekali tulisannya..memang benar mesjid raya ini lebih tua dari pd yg dimedan...

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung, silahkan berkomentar dengan sopan :)