Tampilkan postingan dengan label Wisata Sumatera Utara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata Sumatera Utara. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 Juli 2021

Air Terjun Simanik-Manik di Asahan, Catatan Terakhir Tentang Dirimu

Air Terjun Simanik-Manik Alam Tani
Air Terjun Simanik-Manik

Hai kawan-kawan, dah lama juga ya aku nggak menulis cerita. Gimana kabar kalian? Semoga tetap sehat ya.

Kabarku?

Ah! Secara fisik aku sehat sih, tapi secara perasaan, entahlah? Saat ini rasanya seperti campur aduk hingga aku pun nggak tau gimana rasanya.

Kali ini aku mau menulis sebuah cerita perjalanan yang udah cukup lama kulakukan. Bahkan aku sempat terpikir untuk tak menuliskan cerita perjalanan ini. Tapi kurasa kisah ini harus kutulis sebagai catatan bahwa aku pernah bersamanya dan sebagai ucapan terima kasihku untuk segalanya, selama ini.

Perjalanan ini kulakukan bersama seseorang yang bernama Seila. Tujuan perjalanan kami adalah Air Terjun Simanik-Manik atau yang lebih dikenal juga dengan nama Air Terjun Alam Tani

Alamat Air Terjun Simanik-Manik

Air Terjun Simanik-manik terletak di Desa Loburappa, Kecamatan Aek Songsongan, Kabupaten Asahan, Sumatera Utara.

Cara ke Air Terjun Simanik-Manik

Untuk ke air terjun ini sebenarnya cukup mudah. Kalo berkendara dari Kota Kisatan, Ibukota Kabupaten Asahan, ambil aja rute menuju Air Terjun Ponot atau Sigura-Gura. Nantinya sebelum Objek Wisata Bedeng ada plang air terjunnya di sebelah kiri. Aksesnya juga cukup mudah. Dari parkiran udah disediakan jalan setapak hingga ke air terjunnya dengan jarak sekitar 5 menit jalan kaki.

Pemandangan Air Terjun Simanik-Manik

Air Terjun Simanik-Manik ini cukup cantik juga. Apalagi sepanjang jalan dari parkiran mata juga disuguhi pemandangan sungai kecil yang berair jernih di sisi jalan. Sedangkan di sisi satunya ada tebing batu dengan tumbuhan merambat serta tetesan air seperti gerimis. Eksotis. 

Air Terjun Simanik-Manik Alam Tani
Rintik air di sela bebatuan
Air Terjun Simanik-Manik Alam Tani
Ketinggiannya sekitar 15 meter

Air terjunnya sendiri punya ketinggian sekitar 15 meter dengan di bawahnya terbentuk kolam air terjun yang cukup lebar. Namun menariknya di balik jatuhan airnya terbentuk formasi batuan seperti gua kecil, cantik juga.

Di sisi kiri kolam air terjun juga ada goa kecil yang terbentuk dari bebatuan cadas sehingga cukup sederhana tanpa stalagtit maupun stalagmit. Tapi dari mulut goa ini bisa ngelihat jelas pemandangan Air Terjun Simanik-Manik dari sudut yang berbeda. Mantap! 

Air Terjun Simanik-Manik Alam Tani
Goa di sebelah air terjun
Air Terjun Simanik-Manik Alam Tani
Pintu masuk goanya
Air Terjun Simanik-Manik Alam Tani
Pemandangan dari mulut goa

Namun saat itu sebenarnya fokusku bukan pada indahnya air terjun ini sih. Saat itu aku lebih fokus pada wajahnya yang asyik bercerita tentang banyak hal seperti kegiatan sehari-harinya. Rasanya nyaman aja melihat senyum lembutnya.

Ah... tapi itu kisah lama  sih. Kisah yang sudah berlalu.

Karena ketidakpekaanku, selalu berpikir kalo semuanya akan baik-baik aja. Hingga aku sedikit sepele. Padahal aku tau, Seila itu orangnya cantik dan banyak lelaki yang mendekatinya. Tapi ya itu. Aku naif dan aku kehilangannya.

Setelah itu aku move on, melupakannya.

Tapi semesta tau kalo aku belum benar-benar ngelupainnya. Lantas semesta ngasi tau aku untuk benar-benar melepasnya dengan  cara yang tak pernah kuduga.

Aku udah lama banget nggak buka Instagram, mungkin sudah berbulan-bulan aku nggak membuka aplikasi berbagi foto tersebut. Bahkan notifikasi instagram di hpku selalu ku slide aja tanpa pernah ku buka.

Tapi ntah kenapa, hari itu seolah-olah semesta membuatku membuka Instagram. Yupz! Nggak ada angin nggak ada hujan, tiba-tiba aja aku ngebuka Instagram.

Dan Bammm!!!

Hal pertama yang terihat mataku adalah IG story Seila tentang kue pernikahannya. Sungguh nggak habis pikir. Andai aku nggak buka IG, aku nggak akan pernah tau hal tersebut karena postingan story bakal hilang dalam 24 jam.

Tapi itulah cara semesta bekerja, penuh dengan misteri. Tapi ku pikir semesta hanya ingin memberitahuku agar aku benar-benar merelakannya, dan berhenti berjuang untuknya serta memulai untuk berjuang demi diriku sendiri.

Jadi Seila, dimanapun kamu berada, kuharap kamu selalu bahagia. Dan dengan kupostingnya cerita ini maka berakhirlah kisah yang pernah ada dan aku seutuhnya merelakanmu. 

Air Terjun Simanik-Manik Alam Tani
Air Terjun Simanik-Manik Alam Tani

 

Kamis, 17 Juni 2021

Rumah Pengasingan Bung Karno di Berastagi

Rumah Pengasingan Bung Karo di Berastagi
Rumah Pengasingan Bung Karno di Berastagi

Hai sahabat backpacker, setelah sebelumnya aku singgah di Masjid Lama Kabanjahe yang merupakan masjid pertama dan tertua di Tanah Karo, aku kemudian kembali melanjutkan perjalananku di Bumi Karo ini dan tujuanku selanjutnya adalah Rumah Pengasingan Bung Karno di Berastagi.

Baca juga: Masjid Lama Kabanjahe, Masjid Pertama dan Tertua di Tanah Karo

Alamat Rumah Pengasingan Bung Karno di Berastagi

Rumah Pengasingan Bung Karno terletak di Jalan Sempurna Desa Lau Gumba, Kecamatan Berastagi, Kabupaten Karo. Kalo dari Medan, rumah pengasingan ini terletak sebelum masuk ke Pasar Buah Berastagi dan simpangnya berada tepat sebelum Hotel Bukit Kubu. Dari persimpangan tersebut, rumah ini terletak sekitar 600 meter doang.

Sejarah Rumah Pengasingan Bung Karno

Berdasarkan sejarahnya, rumah bergaya Belanda ini dibangun pada tahun 1917, dulunya rumah ini adalah tempat tinggal seorang perwira Belanda. Pada Agresi Militer Belanda II, tepatnya pada tanggal 22 Desember 1948, tiga pemimpin Republik Indonesia, yaitu Bung Karno, Sjahrir dan Haji Agus Salim ditangkap Belanda di Yogyakarta dan dibuang ke Berastagi.

Mereka ditahan selama 12 hari di Berastagi dengan pengawasan ketat.. Namun karena masalah keamanan, saat itu di Tanah Karo ada basis perjuangan kemerdekaan yang dikenal dengan nama Laskar Rakyat, jadi Belanda memindahan mereka ke Parapat.

Meski hanya tinggal 12 hari di Berastagi, tetapi Bung Karno telah mendapat tempat khusus di hati masyarakat Karo. Bahkan mereka menjuluki Bung Karno sebagai Bapak Rakyat Sirulo yang berarti Bapak Lambang Kemakmuran Rakyat. 

Rumah Pengasingan Bung Karo di Berastagi
koleksi foto tua di dalam rumahnya
Rumah Pengasingan Bung Karo di Berastagi
Salah satu surat lama

Desain Arsitektur Rumah Pengasingan Bung Karno di Berastagi

Rumah Pengasingan ini dibangun dengan bangunan bergaya Belanda yang cukup kental. Rumahnya terbuat dari kayu jati dan berukuran 10x20 meter dengan cat putih dan seng berwarna merah. Di dalamnya terdapat beberapa ruangan seperti ruang tamu, kamar tidur, dapur dan kamar mandi.

Kondisi terkini Rumah Pengasingan Bung Karno di Berastagi

Saat ini Rumah Pengasingan Bung Karno di Berastagi masih terawat dengan baik. Bahkan keaslian furniturnya masih tetap terjaga seperti tempat tidur, lemari pakaian dan perabot lainnya. Di dalamnya juga ada foto-foto tua dan surat-surat lama milik beliau. Di pelataran depan rumah ini juga ada satu patung Bung Karno dari perunggu setinggi 7 meter dengan posisi duduk sebagai penanda bahwa rumah ini pernah menjadi saksi sejarah perjuangan Beliau. 

Rumah Pengasingan Bung Karo di Berastagi
Patung Bung Karno di pelataran rumah pengasingan
Rumah Pengasingan Bung Karo di Berastagi
Ada gazebo kecil di halaman rumahnya
Rumah pengasingan Bung Karno di Berastagi
Tempat tidur di dalam rumah pengasingan
Rumah Pengasingan Bung Karo di Berastagi
Meja dan kursi di dalam rumah

Hanya saja sekarang statusnya dijadikan sebagai Mess Pemprov Sumatera Utara sehingga cukup sulit untuk masuk ke dalam rumah ini dan butuh izin khusus. Untuk pengunjung umum, hanya dikasi izin untuk berfoto-foto di bagian depan rumah dan sekitaran Patung Bung Karno. 

Rumah Pengasingan Bung Karno di Berastagi
Sekarang menjadi Mess Pemprov

Padahal jika dijadikan sebagai museum atau bangunan wisata, tentu bisa menjadi tempat belajar sejarah tentang perjuangan Bung Karno dan para pahlawan lainnya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. 

Rumah Pengasingan Bung Karo di Berastagi
Rumah Pengasingan Bung Karno di Berastagi
Rumah Pengasingan Bung Karo di Berastagi
Backpacker ganteng dan unyu di pelataran rumah pengasingan

Rabu, 02 Juni 2021

Masjid Lama Kabanjahe, Masjid Pertama dan Tertua di Tanah Karo

Masjid Lama Kabanjahe
Masjid Lama Kabanjahe

Hai sahabat backpacker, gimana kabarnya? Semoga sehat-sehat aja ya. Aamiin... Maaf ya, lama kagak keliatan, lama kagak ngeupdate cerita-cerita perjalanan. Soalnya beberapa waktu ini lagi sibuk persiapan ujian semester anak-anak.

Oh ya, selamat hari raya idul fitri ya teman-teman, mohon maaf lahir dan batin. 🙏

Baiklah, kali ini aku mau berbagi cerita lanjutan setelah sebelumnya aku mengunjungi Danau Lau Kawar yang indah yang berada di kaki Gunung Sinabung.

Setelah mengunjungi danau tersebut, aku kembali ke Kota Kabanjahe, ibukota dari Kabupaten Karo. Di kota ini rencananya aku mau mengunjungi Masjid Lama Kabanjahe yang konon katanya masjid pertama dan tertua di Tanah Karo, ya sekalian mau sholat ashar juga di sana.

Alamat Masjid Lama Kabanjahe

Masjid Lama Kabanjahe beralamat di Jalan Masjid, Kelurahan Lau Cimba, Kabanjahe, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Masjid ini berada di belakang Pasar Kabanjahe dan agak sulit untuk kutemuin. Soalnya aku udah nanya ke beberapa penduduk di sana tapi pada jawab kagak tau dan malah ngarahin ke Masjid Agung Kabanjahe yang merupakan masjid terbesar di Tanah Karo.

Untuk nemuin masjid ini, aku kemudian nyoba nyusurin jalanan Pasar Kabanjahe dan berharap nemuin masjid ini. Setelah 2 kali bolak balik, akhirnya aku nemuin juga atap masjid berwarna hijau yang mengintip dari balik atap-atap pasar.

Sejarah Masjid Lama Kabanjahe

Berdasarkan sejarahnya, Masjid Lama Kabanjahe dibangun pada tahun 1902 dan selesai dibangun pada tahun 1904. Masjid ini merupakan masjid pertama dan tertua di Tanah Karo.

Pembangunannya diinisiasi oleh para pedagang Islam yang berdagang di Tanah Karo. Karena saat ini belum ada satu pun masjid di Tanah Karo sehingga para pedagang Islam berniat untuk membangun tempat ibadah tersebut.

Niat tersebut kemudian disampaikan kepada Sibayak Lingga, pemimpin adat saat itu. Niat baik itu ternyata diterima dengan baik oleh Sibayak Lingga dan dengan bantuan dana dari Sultan Langkat, akhirnya berdirilah masjid pertama dan tertua di Tanah Karo. 

Masjid Lama Kabanjahe
Dibangun tahun 1902 hingga 1904

Arsitektur Masjid Lama Kabanjahe

Masjid Lama Kabanjahe memiliki arsitektur seperti masjid-masjid pada umumnya. Bangunannya yang berwarna hijau dan kuning itu terbuat dari kayu dan papan sedangkan atapnya bertingkat tiga. Di bagian serambinya dikelilingi pagar hijau dan terdapat beberapa kursi dan satu kentongan dari kayu. 

Masjid Lama Kabanjahe
Pelataran masjid
Masjid Lama Kabanjahe
Kentongan kayu di serambi masjid
Masjid Lama Kabanjahe
Ada kursi-kursi juga
Masjid Lama Kabanjahe
Ruang dalam masjid

Di bagian dalamnya aku melihat bangunan masjid ini cukup sederhana dengan beberapa tiang kecil sebagai pilar. Ruang ibadahnya terbagi dua dengan satu bagian untuk tempat ibadah pria, satu bagian lagi untuk tempat ibadah wanita.

Di bagian depan ada satu ruang kecil untuk tempat imam dan dilengkapi mimbar sederhana juga. Di sebelahnya juga ada kaligrafi dengan gambar Masjid Lama Kabanjahe. Sedangkan pada bagian belakang juga ada tiga Al-Qur’an berukuran besar. Dan secara umum, arsitektur masjid ini masih asli seperti saat dibangun dulu. 

Masjid Lama Kabanjahe
Mimbar masjid
Masjid Lama Kabanjahe
Kaligrafi dan foto masjid
Masjid Lama Kabanjahe
Al-Qur'an besar

Masjid Lama Kabanjahe sebagai Pusat Dakwah

Di bagian belakang Masjid Lama Kabanjahe ini juga ada satu ruangan tambahan yang dulunya dijadikan sebagai pusat pengajian dan belajar agama Islam. Karena pada awal berdirinya, masjid ini juga menjadi pusat dakwah dan penyebaran Islam di Kabanjahe dan daerah sekitarnya.

Namun saat ini aktifitas keagamaan di masjid ini udah mulai berkurang karena udah ada Masjid Agung Kabanjahe yang lebih besar dan berdiri di pusat kota Kabanjahe. Saat aku di sini, aku cuma nemuin satu cewek yang sedang asyik mengaji Al-Qur’an. Suaranya lembut dan merdu cuy. 

Masjid Lama Kabanjahe
Backpacker ganteng dan unyu di pelataran Masjid Lama Kabanjahe