Minggu, 20 November 2016

Kuil Shri Mariamman, Kuil Hindu Tertua di Kota Medan



Kuil Shri Mariamman, kuil Hindu tertua di Medan
Wisata rohani kita dulu ya teman-teman backpack sejarah. Kali ini saya mau cerita tentang Kuil Shri Mariamman yang merupakan kuil Hindu khas India tertua di Kota Medan. tertua geng!
Sejarah
Kuil Shri Mariamman dibangun pada tahun 1884, artinya kuil ini sudah berusia emmm.... berapa ya? Bentar ya, ku hitung dulu. Yupz 132 tahun saat ini, tua banget ya? Pantas saja disebut sebagai kuil Hindu tertua di Kota Medan. Kuil ini dibangun untuk peribadatan dan memuja Dewi Mariamman.
Prasasti Kuil Shri Mariamman
Lokasi dan cara ke sana
Kuil Shri Mariamman ini terletak di kawasan Kampung Madras, sebuah kawasan yang mayoritas penduduknya beretnis India Tamil yang memeluk agama Hindu. Tepatnya di Jalan Tengku Umar No. 16 dan tidak jauh dari SUN Plaza.
Untuk mencapai kuil ini kita bisa menggunakan angkutan umum tujuan SUN Plaza, nanti dari sana jalan kaki aja sekitar 100 sampe 200 meter. Ketemu deh ama kuilnya. Oh ya, kuilnya hanya dibuka pada pukul 06.00-12.00 wib dan pukul 16.00-20.00 wib. Untuk masuk tidak dipungut biaya, hanya saja harus tetap menghormati mereka yang sedang beribadah.

Arsitektur kuil
Arsitektur kuil ini memiliki bentuk yang khas, di bagian depannya terdapat gopuram, yaitu menara bertingkat berwarna keemasan yang setiap tingkatnya terdapat ornamen patung dewa dan di puncaknya terdapat trisula.
Gopuram
Di bagian dalam terdapat altar dewa-dewa. Di bagian tengahnya adalah altar Dewi Mariamman, selain itu terdapat juga banyak patung-patung dewa lainnya dalam agama Hindu seperti Dewa Siwa, Wisnu, Ganesha, Dewi Durga dan dewa-dewa lainnya.
Bagian dalam kuil
Pada bagian luar kuil juga terdapat berbagai relief dan patung-patung dewa yang berdiri menghiasi setiap sudut kuil tua ini.
Patung-patung Dewa di dinding luar kuil
Cowok tampan di depan kuil

Objek wisata di sekitarnya : Museum TNI Medan

Selasa, 15 November 2016

Momen Indah: Supermoon 14 November 2016


Supermoon 14 November
Aku adalah seorang penggemar langit atau astronomis, alasannya tentu saja karena langit itu indah dan keindahannya bermacam-macam serta misterius. So, aku suka banget sama langit.
Bicara tentang langit, semalam kita pun mendapat kado yang luar biasa cantik dari luar angkasa, yaitu fenomena supermoon terbesar dalam 68 tahun terakhir. Supermoon sendiri adalah fenomena dimana bulan purnama lebih besar dan lebih terang daripada bulan purnama biasa.
Fenomena ini terjadi karena posisi bulan yang cukup dekat dengan bumi dengan jarak 221.524 mil. Sebelumnya bumi belum pernah sedekat ini dengan bulan purnama sejak 26 Januari 1948 yang berjarak hanya 30 mil lebih dekat dari supermoon pada bulan ini.
Jika dihitung, purnama supermoon ini terlihat lebih besar 7 persen dari rata-rata dan 15 persen lebih terang dari purnama yang biasa. Oh ya, katanya sih fenomena ini baru akan terjadi lagi hingga 25 November 2034.
So, tentu saja aku tidak melewatkan kesempatan langka tersebut dan memang fenomena supermoon semalam itu sangat indah luar biasa. Karena bulan terlihat seperti bulan raksasa dan bersinar cukup terang. Sayangnya aku tidak menemukan tempat yang keren untuk mengamatinya dan kamera yang ku miliki tidak mampu menangkap detail keindahan supermoon itu. Hiks... hiks... sedih.
Tak mampu menangkap detailnya
Keindahannya tak diragukan

Senin, 14 November 2016

Mendaki Gunung Sibayak


Kawah Gunung Sibayak
Pendakian ke Gunung Sibayak adalah perjalanan paling absurd yang pernah ku lakukan. Keabsurdan ini dimulai saat makan malam bersama teman-teman di kost, Bang Wahyu Sutrisno, Dede Sumarna dan Abdul Rahman. Saat makan malam tersebut, Bang Wahyu mengatakan bahwa belum sah menjadi seorang mahasiswa jika belum pernah dugem di diskotik ataupun belum pernah mendaki gunung.
Mendengar itu, kami kemudian kompak untuk berdugem. Namun karena wajah saya yang unyu-unyu ini pasti tidak akan diijinkan masuk ke diskotik, akhirnya kami ubah rencana untuk  mendaki ke Gunung Sibayak.
Pendakian ini akan kami lakukan besok pagi. Iya, besok pagi. Dan absurdnya, rencananya tersebut disepakati jam 8 malam. Selesai makan, kami pun mempersiapkan diri dan jam 10 malam kami fix akan mendaki esok pagi bersama teman kuliahku Ian Rendi Ginting. Sungguh perencanaan pendakian yang tidak pantas ditiru.
Kenapa ku katakan tidak pantas ditiru? Karena selama tiga minggu kami tidak ada satu pun yang berolahraga dan besok kami akan mendaki gunung yang ketinggiannya mencapai 2.094 m dari permukaan laut dan direncanakan hanya dalam beberapa jam saja. Absurd sekali.
Pasukan tempur
Gunung Sibayak
Gunung Sibayak adalah salah satu gunung berapi aktif yang terdapat di Dataran Tinggi Karo. Gunung ini memiliki ketinggian mencapai 2.094 m dari permukaan laut. Puncak tertinggi dari Gunung Sibayak bernama Takal Kuda, ini adalah bahasa Karo yang berarti Kepala Kuda.
Puncak Gunung Sibayak
Rute Pendakian
Ada tiga rute pendakian yang bisa digunakana para pendaki untuk mencapai Puncak Gunung Sibayak. Karena kami belum ada yang pernah mendaki gunung, maka kami pun memilih rute wisata yang titik startnya di Desa Jaranguda.
Rute ini tergolong mudah karena kami cukup mengikuti jalan utamanya saja. Jalannya juga telah diaspal meski dikelilingi hutan dan jurang hingga ke pos 1 yang berupa tanah lapang dan ada semacam kolam yang di semen.
Dari sana terdapat tangga yang disemen menuju puncak hingga sampai di hutan pandan. Dari hutan pandan, puncak gunung sudah terlihat.
Puncak sudah terlihat
daki terus
Landscape di Puncak
Pemandangan di Puncak Gunung Sibayak ini sangatlah indah. Karena puncak gunung ini dipenuhi bebatuan yang tidak beraturan. Bebatuan tersebut merupakan hasil dari letusan yang terjadi beberapa waktu lalu yang mengguncang puncak gunung ini. pemandangan tersebut  justru menjadi keunikan tersendiri yang menarik di puncak ini. Sedangkan di bawah sana, kami juga bisa melihat hamparan pemandangan lanskap kota Berastagi dan di kejauhan terlihat pula Gunung Sinabung berdiri gagah menantang langit.
Kota Berastagi di kejauhan
Lingkar kawah Gunung Sibayak dan Gunung Sinabung di kejauhan
Seremmmm

Selasa, 08 November 2016

Kawah Putih, Perjalanan Bangsat Demi Sang Eksotis


Kawah Putih si eksotis
Di Sumatera Utara ada sebuah objek wisata yang sangat ekstotis keindahannya, objek wisata tersebut dikenal dengan nama Kawah Putih. Kawah Putih adalah sebuah kawah yang berwarna putih. Soalnya kalo kawahnya berwarna hitam ya namanya Kawah Hitam lha. Gitu aja susah. MUHAHAHAHA.....
Lokasi
Kawah Putih ini berada di Desa Dolok Tinggi Raja, Kecamatan Silau Kahean, Kabupaten Simalungun. Perjalanan ke objek wisata ini adalah perjalanan paling bangsat yang pernah ku lakuin. Iya paling bangsat.
Rute Perjalanan Bangsat
Perjalanan ini dimulai bersama sepupu-sepupu dari rumahku di plosok Asahan sana. Kami mulai start jam 4.30 pagi melalui rute Kisaran-Tebing Tinggi-Simpang Serapuh. Nah, karena kami belum pernah ke objek wisata ini, aku pun bertanya pada seorang bapak-bapak yang ada di Simpang Serapuh tersebut. Menurut bapak tersebut Kawah Putih tidak jauh lagi, hanya sekitar 2 kilometer, begitu katanya.
Dengan semangat membara, kami pun kembali memacu kendaraan dari Simp. Serapuh meski kondisi jalannya rusak parah, lobang ada dimana-mana. 40 menit berlalu dan kami belum menemukan plank apapun menuju ke Kawah Putih. Akhirnya aku kembali bertanya pada seorang pemuda yang sedang menjaga kios.
Pemudanya lumayan tampan tapi masih tampanan aku dari pada abang itu kok. Muhahahaha....
“bang, ini jalan ke Kawah Putih?” aku bertanya dengan sopan.
“Iya bang, lurus aja nanti.” Jawab si abang.
“masih jauh lagi bang kira-kira?” aku bertanya lagi.
“ya sekitar 2 jam lagi lha.”
Ha? 2 jam? Yang benar aja? Langsung saja dalam hatiku memaki si bapak di Simp. Serapuh tadi. Dasar sempak komodo tuh bapak-bapak. 2 kilometer apaan, kilometernya raksasa barangkali.
Akhirnya karena sudah nanggung juga, kami pun meneruskan perjalanan ini melewati jalan yang sungguh bangsat. Jalannya tidak ada yang bagus, lobang semua. Mendekati Kawah Putih, jalannya makin hancur, jalannya dipenuhi batu padas. Bahkan adikku yang ku gonceng sampe komentar. “ntar nyampe rumah nih motor tinggal stang doank” #pukpuk semangat ya motor.
Yang bangsatnya lagi, di jalan menuju Kawah Putih ini banyak pemuda setempat yang akting memperbaiki jalan, tapi mereka memaksa siapapun yang lewat untuk membayar dan itu dipatokin permotor Rp. 5000 minimalnya. Yang anjaynya, setiap 100 sampe 200 meter ada lagi pemuda meminta uang ini.
Tapi berhubung aku traveler gembel yang bahkan bensin motornya aja dicampur air pipis saking gembelnya, aku pun lewati aja mereka tanpa bayar. Muhahahaha.... jangan ditiru ya, soalnya mereka tuh emosian. Namun jujur saja, aku memang tidak berniat untuk membayar, soalnya kalo tiap tempat membayar, ditotalin tuh duitnya bisa bikin naik haji 4 kali. Hajinya dari Makkah.
Landscape Kawah Putih
Akhirnya jam setengah sebelas kami sampai juga di Kawah Putih ini, sangat jauh memang. Kami pun langsung mendaki bukit untuk melihat kawah putih ini.
dari atas bukit
Subhanallah... itulah kata yang secara tidak sadar terucap dari bibir ini saat melihat keindahan Kawah Putih ini. Sangat-sangat eksotis sekali, bahkan pegal-pegal di jalan tadi langsung hilang saat melihat pemandangan Kawah Putih ini.
Kawah Putih ini memiliki tanah yang bertingkat-tingkat dan berwarna putih bersih seperti salju, tapi saljunya panas. Karena kawah putih ini memiliki kawah belerang dan mata air panas. Aliran mata airnya pun terkumpul di kolam di depan tanah putihnya dan airnya berwarna biru toska. Perpaduan tanah seputih salju dengan air biru toska menghadirkan sebuah kombinasi keindahan yang sangat eksotis. Wondefull Indonesia.
cantik banget
eksotis
Oh ya, katanya dulu kawahnya berada tepat di atas gunungnya, namun beberapa tahun kemudian kawahnya pindah ke tempat yang sekarang. Sepertinya kawah ini sedikit labil dalam nentuin tempat tinggal.
Kawahnya yang lama
Demikianlah sedikit cerita saya tentang Kawah Putih ini, sungguh objek wisata yang sangat indah, bahkan sangat eksotis. Namun sayangnya akses menuju tempat ini sangat parah dan ditambah banyaknya pungli di sepanjang jalannya. Keberadaan pungli inilah yang kemudian meredupkan nama Kawah Putih di mata wisatawan saat ini.
cowok tampan berpose

Jumat, 04 November 2016

Museum Negeri Sumatera Utara



Museum Negeri Sumatera Utara
Karena blogku ini isinya fokus ke wisata alam dan sejarah, jadi sekarang aku ingin memposting sebuah tempat wisata untuk belajar sejarah. Tempat apakah itu? Yupz Museum, lebih tepatnya Museum Negeri Sumatera Utara.
Museum Negeri Sumatera Utara adalah sebuah museum. Ya iya lah, sebuah museum, masak rumah makan.
Ok.. ok.. serius.
Museum Negeri Sumatera Utara ini merupakan museum yang menyimpan berbagai benda bersejarah dan budaya dari daerah-daerah di Sumatera Utara.
Alamat
Museum Negeri Sumatera Utara berada di Jalan H.M. Joni No 15. Tidak begitu sulit untuk mengunjungi museum ini, karena lokasinya dekat dari Stadion Teladan, Kota Medan. Cukup jalan kaki dari stadion ini juga udah nyampe. Ntar museumnya bentuknya mirip-mirip rumah-rumah ada di Sumatera Utara yang digabungin gitu deh.
Tiket Masuk
Tiket masuk ke museum ini nggak mahal-mahal amat kok. Gak mesti sampe jual kolor, percaya deh. Soalnya tiket masuk ke Museum Negeri Sumatera Utara cuma Rp. 3000 perorang. Murah kan?
Koleksi
Nah, Apa aja sih koleksi museum negeri Sumatera Utara?
Jadi gini teman-teman, Museum Negeri Sumatera Utara ini memiliki koleksi yang banyak. Iya, banyak banget. Semua benda tersebut disimpan rapi dan dikelompokkan di ruangan sendiri sesuai masanya atau kategorinya gitu. Tenang aja, ada petanya kok, jadi kalian gak bakal tersesat.
Peta Museum Negeri Sumatera Utara
Ruang Pertama
Ruang ini berisi benda-benda prasajerah, seperti fosil gajah, peninggalan zaman batu dan boneka yang menggambarkan kehidupan pada masa purba, bonekanya ya mirip-mirip kok ama kalian.
#dikeplakpembaca.
Patung dari jaman batu

Ruang Kedua
Ruang selanjutnya adalah ruang kebudayaan kuno Sumatera Utara. Di sini terdapat berbagai peninggalan kuno suku-suku yang ada di Sumatera Utara seperti peti mati, meja, tongkat kayu dan macem-macem deh.
Peti mati dari Nias
Ruang Ketiga
Ruang ini adalah ruang klasik pengaruh Hindu-Buddha dan Islam. Di sini terdapat berbagai peninggalan seperti patung dewa, replika candi yang ditemukan di Sumatera Utara. Lalu ada nisan Islam yang ditemukan di Barus, berbagai Al Quran tua dan miniatur Masjid Raya Azizi.
Ruang Keempat
Setelah itu, ada ruang kolonialisme di Sumatera Utara yang menggambarkan kehidupan masyarakat Sumatera Utara pada masa kolonialisme. Di sini terdapat diorama kehidupan masyarakat di Sumatera Utara yang kelasnya terbagi-bagi dari kelas kolonial, pemilik tanah, pekerja, pedagang dan sebagainya.
Ruang Kelima
Ruangan ini berada di lantai dua, ruangan ini berisi berbagai benda dari suku-suku yang ada di Sumatera Utara seperti suku Melayu, Batak Toba, Karo, Simalungun, Mandailing dan Angkola. Benda-benda tersebut yaitu peralatan hidup hingga miniatur rumah-rumah adat dan juga benda-benda kesenian.
Miniatur Rumah Adat Melayu
Ruang Keenam
Ruang ini berisi berbagai benda-benda kebudayaan dari negara mancanegara, katanya museum ini memang bekerja sama dengan negara tetangga sebagai pertukaran budaya. So, benda-benda budaya dari Sumatera Utara dipamerin di negara mereka dan benda budaya mereka dipamerin di sini.
Ruang Ketujuh
Ruang ini adalah ruang perjuangan yang menceritakan sejarah perjuangan masyarakat Sumatera Utara sejak sebelum 1908 sampai masa revolusi fisik 1945-1949, juga ditampilkan sejarah perjuangan pers di Sumatera Utara dan berbagai uang kertas di masa perjuangan tersebut.
uang kertas di masa perjuangan
Ruang kedelapan
Ruang ini adalah ruang gubernur, jadi di sini terpajang foto-foto gubernur Sumatera Utara dari gubernur yang pertama hingga gubernur Sumatera Utara saat ini. di sini juga dipajang foto-foto pahlawan yang berasal dari Sumatera Utara. Oh ya, foto saya nggak ada dipajang di sini, so, jangan dicari ya.
Lagi nyari foto saya ya mas?
Itulah sedikit ceria tentang Museum Negeri Sumatera Utara. Semoga bermanfaat.
Si tampan di depan museum