Minggu, 01 Januari 2017

Selamat Tahun Baru 2017 Semuanya



Happy New Years 2017

Selamat tahun baru 2017 sobat backpack sejarah. Happy New Years.

Yupz.... tadi malam tahun 2016 secara resmi telah berakhir dan sekarang kita akan memulai tahun 2017. Semoga tahun ini lebih baik dari tahun sebelumnya. Amin...

Nah, sebelum aku mulai bercerita tentang acara malam pergantian tahun yang aku ikuti tadi malam, aku ingin minta maaf dulu ya sobat, soalnya beberapa hari ini aku tidak aktif di blog tercintaku ini. Maklumlah, akhir tahun ini aku sibuk mencari dukungan dalam event dTraveler of The Year 2016 di Detik Travel, semoga aja menang, amin... Selain itu, kuota juga lagi kritis, akibatnya aku jarang deh main blog. Bahkan cerita tentang edisi Menembus Batas Sumut-Aceh pun masih belum selesai. Sebagai seorang travel blogger aku merasa gagal. Hiks..hiks...

Oke deh, kembali ke topik. Sekarang aku ingin bercerita tentang acara malam pergantian tahun yang ku ikuti tadi malam. Untuk acara pergantian tahun 2017 ini sih aku berencana untuk belajar memotret kembang api. Inginnya sih motret kembang api dengan latar yang keren, tapi sayangnya di Kota Medan tidak ada spot yang cocok, jadi yang apa adanya aja deh.

Rencana ini hampir gagal sih, soalnya di Kota Medan tuh turun hujan sejak pukul 10 pagi dan nggak berhenti-henti. Aku sempat mikir, nih hujan lupa cara berhenti atau remnya lagi blong, soalnya hujan kok gak siap-siap. Pada akhirnya hujannya berhenti juga, tapi berhentinya itu bikin sakit. Soalnya nih hujan berhenti jam 5 sore, saat orang-orang yang punya pasangan lagi siap-siap buat malam tahun baruan. Rasanya nih hujan nggak menghargai perasaan kami banget, benar-benar dilecehin sama nih hujan.

Gara-gara ini lah aku jadi sempat nggak semangat mau keluar, apalagi mikirin ramainya suasana malam tahun baruan. Tapi akhirnya keluar juga sih dari pada bosen di kost, kan nggak mungkin tidur selama satu tahun dari 2016 dan bangunnya udah 2017. Awalnya aku keluar mau beli makanan buat ngisi perut, tapi malah keterusan ke Lapangan Merdeka. Melihat ramainya suasana, spontan aku malah markir kereta (baca:motor) dan lihat-lihat suasananya. Begitu ngelihat yang datang rata-rata bereng pasangan membuat aku balik badan. Sayangnya ternyata keretaku udah nggak bisa dikeluarin karena terhalang kendaran lain yang banyaknya nauzubillah.
Jalanannya padat
Lapangan Merdeka rame
 Ya... mau nggak mau aku balik lagi deh ke dalam Lapangan Merdeka. Ternyata di Lapangan Merdeka malam itu acara pergantian tahunnya diisi dengan dzikir tausyiah dan panggung hiburan. Acaranya dimulai dengan kegiatan khatam Al-Quran oleh 30 qori dan qoriah yang bergabung dalam Ikatan Persatuan Qory dan Qoriah Kota Medan. Acara dzikir tausyiahnya pun menghadiran Al Ustadz Syeh Ali Jaber, seorang penceramah kondang dari Jakarta.
Panggung hiburan
Setelah pukul 22.00 wib lebih, panggung hiburan mulai diramaikan dengan artis-artis lokal yang menampilkan hiburan bernuansa Islami dan multi etnik. Acara ini ditutup dengan doa lintas agama dengan harapan Kota Medan tetap aman dan kondusif.

Oh ya, seperti biasa, Pemerintah Kota Medan tahun ini juga tidak mengadakan pesta kembang api. Namun pengunjung Lapangan Merdeka tetap bisa melihat pesta kembang api yang buat oleh masyarakat secara pribadi dan pihak Hotel Grand Aston, hotel yang berada tepat di depan Lapangan Merdeka.

Ya sudah, karena kereta juga nggak bisa keluar, sekalian aja aku motret kembang api. Sambil menunggu jam 12 tepat, aku pun duduk-duduk di sudut Lapangan Merdeka bareng pengunjung yang lain. Nggak lama, datang seorang cewek yang duduk di sebelah kiriku, ceweknya lumayan cantik juga, wih... senengnya. Tapi kemudian cowoknya ikut duduk di sebelahnya, terus mereka bermesraan.

Woy kampret, liat situasi dong! Grrrr... bikin kesel aja.

Nggak lama datang lagi pasangan yang duduk di sebelah kananku dan mereka juga bermesraan. Ya Tuhan... hati hamba terluka, hiks... hiks...
Banyak yang bareng pasangan
Daripada liat mereka yang bermesraan dan dengan sengaja menjadikan aku obat nyamuk, aku kabur aja deh ke arah ruko-ruko toko buku yang ada di sisi Lapangan Merdeka. Di sini juga rame pengunjungnya, tapi nggak apa-apa deh, soalnya dari sini aku bisa motret bunga api.

Akhirnya, tepat pukul 00.00 WIB masyarakat dan Hotel Grand Aston secara serentak menghidupkan kembang api, seketika langit Kota Medan dihiasi warna-warni indah dari kembang api tersebut. Bahkan saking indahnya, aku malah jadi nggak fokus ngambil foto kembang apinya. Hahaha...
Kembang apinya cantik
Bikin nggak fokus motret
indah
 Tapi nggak apa-apa deh, soalnya melihat keindahan kembang api tersebut membuat semangat di dalam diriku bangkit dan berharap bisa lebih baik di tahun ini. selain itu, meski banyak yang kontra dengan perayaan pergantian tahun, namun sisi positifnya saat warna-warni kembang api menghiasi langit Kota Medan, semua pengunjung ikut bersorak gembira tanpa memandang perbedaan, semua bersatu dalam suka cita. Sungguh indah. Ku harap Indonesia juga akan seperti itu selamanya. Amin...
Happy New Years 2017
Akhir cerita, selamat tahun baru kawan-kawan
Happy New Year 2017

Selasa, 20 Desember 2016

Masjid Azizi Tanjungpura, Masjid Kebanggaan Masyarakat Langkat



Masjid Azizi
Yo Sobat Backpack Sejarah, kali ini masih melanjutkan edisi petualanganku menembus batas Sumatera Utara-Aceh dengan uang kurang dari 100 ribu. Dan kali ini adalah cerita perjalanan pulangku, soalnya udah puas juga jalan-jalan ke Aceh walaupun cuma Aceh Tamiang dan hanya melihat Istana Karang dan Istana Benua Raja, tapi yang penting kan Aceh. Hahahaha...Apalagi tadi juga udah sempat liat-liat cewek Aceh. Hahaha....
Sebenarnya belum puas juga sih, tapi hari udah terlalu siang, bahaya juga kalo aku pulang kemalaman. Apalagi kondisiku kan naik kereta (baca:motor) dan uang di kantong cuma sisa 55 ribu dari 100 ribu yang ku bawa. Jika kemalaman dan terjadi sesuatu di jalan bisa bahaya ntar. So... sebelum magrib target udah harus nyampe ke Medan.
Meski pake target gitu, tapi tetap keamanan yang utama, jadi aku nggak ngebut-ngebut juga. Nikmati aja perjalanannya. Apalagi siang gini pas jam pulang anak sekolah, jadi bisa sekalian cuci mata. Hahahaha.... Sebelum pulang pun aku udah berencana untuk singgah ke beberapa tempat di Kabupaten Langkat dan yang pertama adalah Masjid Azizi.
Cowok ganteng singgah di Masjid Azizi
Lokasi Masjid Azizi
Masjid Azizi ini berada tepat di tepi jalan yang menghubungkan antara Kota Medan dengan  Banda Aceh, tepatnya di Kota Tanjungpura, Kabupaten Langkat. So... aku bisa singgah ke masjid ini saat pergi maupun pulang.

Sejarah Masjid Azizi
Masjid Azizi adalah masjid kebanggaan masyarakat Langkat dan merupakan peninggalan dari Kesultanan Melayu Langkat. Masjid ini dibangun pada tahun 1899 di masa pemerintahan Sultan Haji Musa hingga akhirnya selesai dan diresmikan oleh putranya, Sultan Abdul Aziz Djalil Rachmat Syah pada tanggal 13 Juni 1902. Artinya usia nih masjid udah lebih dari 100 tahun. Wow... tua banget ya.

Dalam pembangunannya, masjid ini menggunakan bahan bangunan yang didatangankan sendiri dari Penang, Malaysia dan Singapura dengan menggunakan kapal ke Tanjungpura. Sedangkan pekerjanya banyak dari etnis Tionghoa dan masyarakat Langkat sendiri. Untuk rancangan masjidnya sendiri ditangani oleh seorang arsitek berkebangsaan Jerman.
arsitekturnya sangat indah
Arsitektur Masjid Azizi
Menurutku arsitektur Masjid Azizi adalah salah satu masjid dengan arsitektur terindah. Bangunannya yang megah dengan warna kuning yang warna khas Melayu Islam dipadukan dengan corak khas arsitektur Timur Tengah yang terlihat pada bagian dalam masjid dan arsitektur khas India yang terlihat dari bangunan fisik kubah dan menaranya.
Karena keindahan arsitekturnya ini, sampai-sampai pembangunan Masjid Zahir di Kedah, Malaysia menjadikan arsitektur Masjid Azizi sebagai rujukannya. #keren..
mimbar masjid
Oh ya, di samping masjid ini juga terdapat makam-makam para raja Langkat dan kerabatnya. Bahkan di sini juga ada makam T. Amir Hamzah, seorang pahlawan nasional Indonesia yang meninggal saat peristiwa revolusi sosial di Sumatera Timur.
Makam keluarga Kerajaan Langkat

Senin, 19 Desember 2016

Pesona Indonesia di Uang Baru NKRI



Yo sobat backpack sejarah, gimana kabar kalian hari ini? semoga baik-baik aja ya, amin... Hari ini aku tidak membahas tentang jejak perjalananku dulu, karena aku ingin membahas sesuatu yang cukup keren. So, untuk cerita lanjutan menembus batas Sumatera Utara-Aceh edisi Masjid Raya Azizi dipending dulu.

Emang apa sih yang ingin dibahas sampe artikel sendiri ditunda?

Jadi gini cuy, tepat hari ini tanggal 19 Desember 2016 pada pukul 09.00 WIB tadi, Pak Presiden Bapak Joko Widodo secara resmi meluncurkan uang NKRI yang baru yang dikeluarkan Bank Indonesia dengan desain yang baru. Peresmiannya tadi juga disiarkan secara live streaming.
Aku memang udah nunggu-nunggu peluncuran uang baru ini sih, soalnya aku penasaran banget ama gambar-gambar pemandangan yang biasanya ada di belakang uang rupiah. Tau sendiri kan, gambar-gambar pemandangan alam Indonesia di uang rupiah itu sangat-sangat cantik dan bikin ngiler. Berfoto di lokasi yang ada di gambar uang rupiah juga bisa bikin aku makin ganteng. Hahaha...
Akhirnya setelah aku dengan sabar menunggu, uang baru tersebut pun diluncurkan tanpa menunggu aku hadir.
“emang lo siapa harus ditunggu-tunggu?” hahaha
Langsung saja, inilah gambar pemandangan di uang baru NKRI

1.      Uang Rp. 1000 dengan Pemandangan Alam Banda Naira.
Banda Naira adalah salah satu pesona dari dari Maluku Tengah, di sini terdapat berbagai objek wisata menarik mulai dari alam bawah lautnya, alam daratannya, pesona sejarah, kearifan budaya dan masih banyak lagi.
2.      Uang Rp. 2000 dengan Pemandangan Alam Ngarai Sianok
Ngarai Sianok adalah pesona dari Sumatera Barat, kita bisa melihat keindahan alamnya dari Kota Bukit Tinggi. Lembah curam ini membentang sepanjang 15 km dan di tengahnya mengalir Sungai Sianok. Cantik banget deh.
3.      Uang Rp. 5000 dengan Pemandangan Alam Gunung Bromo
Gunung Bromo merupakan salah satu gunung api terpopuler di Jawa Timur dan terkenal dengan keindahan sunrisenya yang tiada tara. Di sini juga ada pasir berbisik, bukit teletubbis, kearifan budaya Tengger dan masih banyak lagi deh.
4.      Uang Rp. 10.000 dengan Pemandangan Alam Taman Nasional Wakatobi
Taman Nasional Wakatobi adalah pesona dari Sulawesi Tenggara. Tempat ini terkenal akan pesona bawah lautnya yang sangat mengagumkan dan dianggap sebagai surga nyata bawah laut Indonesia. Amazing.
5.      Uang Rp. 20.000 dengan Pemandangan Alam Derawan
Derawan adalah pesona dari Kalimantan Timur, tempat ini juga terkenal akan pesona bawah lautnya. Selain itu di sini juga ada satu danau air payau yang berisi ubur-ubur tidak menyengat. Keren...
6.      Uang Rp. 50.000 dengan Pemandangan Alam Taman Nasional Komodo
Taman Nasional Komodo adalah pesona dari Nusa Tenggara Timur. Taman ini terkenal dengan hewan naga purbanya yang bernama komodo. Selain itu Taman Nasional Komodo juga memiliki pemandangan alam bawah laut dan daratan yang sangat indah.
7.      Uang Rp. 100.000 dengan Pemandangan Alam Raja Ampat
Raja Ampat adalah pesona dari Papua Barat. Tempat yang menjadi salah satu destinasi impian hampir semua traveler Indonesia ini terkenal dengan gugusan pulau-pulau karangnya yang bersanding dengan birunya lautan. Selain itu pesona bawah lautnya pun sangat mengagumkan.
Jadi gimana cuy? Bikin ngiler kan pesona alam-alam Indonesia di gambar belakang uang baru NKRI? Pastinya ngiler lha, secara alam-alamnya cantik banget gitu. Tapi jujur ada sedikit rasa kesal juga sih soalnya alam Sumatera Utara nggak masuk. Tapi nggak apa-apa deh soalnya jika dilihat dari sisi potitif, ini bisa memacuku untuk lebih mengenalkan dan mempromosikan pesona Sumatera Utara sebagai traveler yang tinggal di Sumatera Utara dan bisa memacuku juga untuk berwisata keluar daerah, ke tempat-tempat yang ada di gambar uang baru NKRI. So... kapan kita berangkat?

Jumat, 16 Desember 2016

Menembus Batas Sumatera Utara-Aceh Part 3 : Istana Benua Raja



Istana Benua Raja

Brmm... Brmmm...
Aku kembali memacu keretaku (baca:motor) setelah tadi singgah di Istana Karang dalam rangka menembus batas Sumatera Utara-Aceh dengan duit kurang dari 100 ribu. Tujuanku selanjutnya adalah mencari makan siang yang murah meriah. Soalnya perut juga udah lumayan keroncongan, apalagi cuaca di Kota Kuala Simpang ini cukup panas. Haaaa.... kekeringan nih badan, lama-lama bisa jadi zombie nih.
Tapi beruntungnya, saat muter-muter nggak jelas menyusuri jalanan Kota Kuala Simpang ini untuk nyari makanan murah, aku malah nggak sengaja melihat plang bertuliskan Istana Benua Raja. Lucky. Urusan perut bisa ditunda deh, soalnya ada istana di depan mata.

Lokasi Istana Benua Raja
Istana Benua Raja ini ternyata berada di Desa Benua Raja, Kecamatan Rantau, Kabupaten Aceh Tamiang dan tidak begitu jauh dari pusat Kota Kuala Simpang. Kira-kira bisa dicapai dalam waktu 10 menit lha dari pusat kota kalo naik kereta, atau bisa 30 menit kalo jalan kaki, itu pun kalo sanggup, panas kotanya ampun cuy.

Arsitektur istana
Arsitektur Istana Benua Raja ini sekilas terlihat tidak jauh berbeda dengan Istana Karang yang tadi pertama ku jumpai. Istana ini arsitekturnya juga terlihat sederhana, khas rumah-rumah peninggalan zaman kolonial Belanda di perkebunan gitu. Jika nggak ada plang nama di depannya, aku nggak bakal nyangka kalo ini adalah sebuah istana, soalnya terlihat sederhana, tanpa kemewahan dan tanpa ada tanda-tanda istana.
Plang Istana Benua Raja
Istana ini memiliki halaman yang cukup luas dengan rumput berwarna hijau. Segar deh melihat hijau rumputnya apalagi di tengah cuaca yang cukup menyengat ini. Di halamannya pun banyak siswa yang bermain dari satu sekolah yang berada di belakang istana ini. Jadi makin segar deh liat siswi-siswi itu, ahahaha... #ingetumurwoy.
Halamannya hijau
 Kondisi Istana
Istana Benua Raja saat ini juga udah ditetapkan sebagai situs/cagar budaya oleh pihak Pemerintah Aceh Tamiang. Kondisi istananya pun sangat terawat dengan baik karena istana ini masih dikelola dan dijadikan sebagai tempat tinggal oleh ahli waris kerajaan. Syukurlah. Istana ini sendiri adalah peninggalan dari Kerajaan Benua Tunu, salah satu kerajaan yang dulu berkuasa di Tanah Aceh Tamiang dan masih memiliki hubungan dengan Kerajaan Karang.
Berhubung hari pun udah siang, aku pun bergerak ke satu rumah makan yang cukup murah, lumayan untuk kondisi kantongku yang tipis ini. Saat makan aku juga sempat bertanya ama pelayannya kalo ke Kota Langsa tenyata cuma 40 menit lagi. Lumayan dekat, tapi karena takutnya pulang kemalaman, aku pilih pulang aja deh.
Sebelum pulang, aku juga menyempatkan diri membeli oleh-oleh. Lumayan juga dapat pisang sale dua bungkus seharga 10 ribu, murah cuy. Rencananya pisang salenya buat dimakan sendiri entar di kost, soalnya mau dibagi-bagi juga adanya dikit. #padahalpelit. Hahahaha.....
So, dengan ini berakhir juga deh petualanganku menembus batas Sumatera utara-Aceh dengan duit kurang dari 100 ribu, dan ternyata emang bisa karena setelah dipotong bensin, makan dan oleh-oleh, masih ada sisa duit 55 ribu di kantong, alhamdulillah.. oh ya, dalam perjalanan pulang aku juga berencana untuk singgah di Masjid Azizi, Langkat. Brmmm... Brmmm... lets go.
Cowok ganteng di depan istana