Senin, 05 Oktober 2020

Danau Dendam Tak Sudah Bengkulu, Tempat Asyik Untuk Bersantai

Danau Dendam Tak Sudah

Hai sahabat backpacker, hari ini adalah hari kedua ku di Bumi Rafflesia. Setelah kemarin aku udah menjelajahi beberapa objek wisata yang ada di Kota Bengkulu, dan pagi tadi aku juga udah menyelesaikan ujian yang harus ku ikuti. Maka sebelum pulang ke kampung halaman di esok hari, aku pun memutuskan untuk melakukan petualangan lagi di siang menjelang sore ini dan tujuanku adalah Danau Dendam Tak Sudah.

Unik bangetkan namanya?

Sejarah Nama Danau Dendam Tak Sudah

Nama danau ini memang terdengar unik dan cukup serem juga sih. Ada beberapa versi cerita tentang asal muasal penamaan danau ini. Yang pertama adalah cerita tentang seekor buaya yang kehilangan ekornya karena bertarung dengan buaya Lampung. Hal inilah yang membuat sang buaya memendam dendam tak berkesudahan terhadap buaya Lampung.

Cerita yang kedua yaitu tentang kisah cinta sejoli yang tak direstui oleh orang tua mereka sehingga mereka bunuh diri di danau ini dan menjadi lintah raksasa yang menyimpan dendam tak berkesudahan akibat kisah cinta yang tragis.

Dan yang terakhir adalah cerita tentang pemerintah kolonial yang dulunya ingin membangun DAM di danau ini. Namun pembangunan dam ini tak pernah selesai alias dan berkesudahan hingga disebut Dam tak sudah.

Memang ada banyak versi sih dan terserah mau mempercayai versi yang mana pun. Namun yang pasti danau ini jadi punya nama yang unik dan menarik sehingga membuatku tertarik untuk melihat danau ini secara langsung.

Alamat Danau Dendam Tak Sudah

Danau Dendam Tak Sudah terletak di Jalan Danau, Dusun Besar, Kecamatan Singaran Pati, Kota Bengkulu.

Jalan Danau, Kota Bengkulu

Cara menuju Danau Dendam Tak Sudah

Danau ini letaknya ada di tepian Kota Bengkulu. Untuk mencapainya bisa menggunakan ojol dengan harga sekitar Rp. 10.000 dari pusat kota. Kalo untuk angkutan umum, aku kurang tau sih. Tapi biasanya bus-bus antar kota antar provinsi melewati danau ini untuk keluar dari Kota Bengkulu. Aku sendiri pergi ke sana dengan mengandalkan babang ojol. Brmmmm... brmmm... maju bang.

View Danau Dendam Tak Sudah

Tak sampai 10 menit berkendara dari pusat kota, kami pun tiba di kawasan Danau Dendam Tak Sudah. Namun karena tidak ada spot khusus yang disediakan di danau ini, maka aku berhenti di salah satu warung yang menjajakan kelapa muda yang ada di pinggir danau. Warung-warung ini menyediakan bangku-bangku yang menghadap ke arah danau.

Bangku-Bangku di tepi Danau Dendam Tak Sudah

Setelah memesan kelapa muda agar nggak segan buat duduk-duduk di sana, aku pun segera mengambil posisi menghadap ke arah Danau Dendam Tak Sudah. Meski nama danau ini serem, namun pemandangan yang terlihat dari tepian danau ini cukup indah.

Danaunya luas dan perairannya tenang, bersih dan jernih. Sedangkan di seberang sana, di kejauhan terlihat deretan pegunungan yang seolah-olah memagari keindahan alam Danau Dendam Tak Sudah ini.

Pepohonan yang rindang di tepi danaunya, angin yang bertiup sepoi-sepoi dan segarnya es kelapa muda juga membuat aku merasa nyaman banget buat duduk nyantai di sini sambil menikmati indahnya pemandangan alam.

Es kelapa muda di Danau Dendam Tak Sudah

Pepohonannya rindang

Di kejauhan terlihat barisan pegunungan

Menurutku sih danau ini juga spot yang cantik untuk melihat matahari terbit karena posisinya yang menghadap ke sisi timur. Sayangnya aku nggak berani untuk datang ke sini pagi-pagi buta sendirian, tapi kalo rame-rame, seru juga kayaknya. Mungkin ada teman-teman yang tertarik?

Sang backpacker di Danau Dendam Tak Sudah

Selasa, 29 September 2020

Tugu Thomas Parr, View Tower dan Gedung Daerah Provinsi Bengkulu


Tugu Thomas Parr

                  Hai sahabat backpacker, selamat datang di blognya backpacker yang ganteng dan unyu. Setelah sebelumnya aku mengunjungi Benteng Marlborough, aku kembali melanjutkan petualanganku di Bumi Rafflesia ini.

Baca juga: Fort Marlborough, Benteng Inggris di Kota Bengkulu

            Tujuanku selanjutnya adalah Tugu Thomas Parr, View Tower dan Gedung Daerah Provinsi Bengkulu yang letaknya tak jauh dari Benteng Marlborough ini. Palingan jaraknya kurang dari 200 meter doang dari Benteng Marlborough.

            Alamat Tugu Thomas Parr, View Tower dan Gedung Daerah

            Tugu Thomas Parr, View Tower dan Gedung Daerah ini letaknya berada di Jalan Ahmad Yani, Malabero, Kecamatan Teluk Segara, Kota Bengkulu. Ketiga tempat ini lokasinya berdekatan jadi aku bisa sekali kunjungi saja.

            Tugu Thomas Parr

            Tugu Thomas Parr dibangun pada tahun 1808 oleh pihak Inggris untuk memperingati insiden pembunuhan Residen Inggris yang memimpin Inggris di Tanah Bengkulu, Thomas Parr. Tugu ini memliki luas 70 meter persegi dan tinggi mencapai 13,5 meter. Bangunannya berbentuk oktagonal dengan sebuah kubah di atasnya.  

Pintu masuk Tugu Thomas Parr

Berbentuk oktagonal dengan tiang-tiang tinggi

            Meskipun dibangun Inggris untuk memperingati pembunuhan Thomas Parr, namun bagi rakyat Bengkulu tugu ini dijadikan sebagai simbol perlawanan dan sebuah pengingat bahwa dahulu mereka pernah dijajah oleh seorang yang kejam. Seseorang yang memerintahkan tanam paksa dan mengubah sistem peradilan masyarakat Bengkulu dengan semena-mena. Hingga akhirnya mereka memberontak dan terbunuhlah Thomas Parr.

Kapok lah, berani macam-macam sih

View Tower

Setelah merasa cukup dengan Tugu Thomas Parr, aku kembali melanjutkan perjalanan dengan menyusuri Jalan Ahmad Yani hingga menemukan Alun-Alun Bengkulu yang cukup ramai sore itu. Ada banyak pedagang kaki lima di pinggiran alun-alunnya. Dagangannya pun beragam, seperti makanan ringan kayak gorengan, bakso bakar hingga makanan berat, kayak mie bakso, soto, pempek dan yang sejenisnya. Selain itu juga ada yang menyediakan mainan anak-anak. Namun tujuanku bukan ini sih, melainkan sebuah menara yang berdiri di tengah Alun-Alun Kota Bengkulu. Menara tersebut dinamakan View Tower.

Pedagang di Alun-Alun Kota Bengkulu

View Tower adalah sebuah menara mercusuar pemantau tsunami yang dibangun pada tahun 2012 oleh Gubernur Bengkulu saat itu, Agusrin M Najamudin. Menara ini memiliki tinggi hingga 43 meter dan direncanakan dibuka untuk umum sehingga masyarakat bisa menikmati keindahan Kota Bengkulu dari ketinggian.

Namun sayangnya baru aja mau masuk ke dalam alun-alun, langkahku harus terhenti karena terdapat plang peringatan untuk tidak masuk ke dalam karena sedang dalam perbaikan. Yupz... View Tower ini semenjak diresmikan ternyata tak pernah difungsikan dan dirawat, sehingga kondisinya terbengkalai dan memperihatikan. Oleh karena itu, sempat ada wacana untuk merobohkannya meski akhirnya tidak jadi dan sekarang dilakukan renovasi untuk memperbaiki menara tersebut dan alun-alun agar lebih indah lagi.

Kebiasaan, ngebangun doang tapi kagak dirawat. -_-"


Dilarang masuk cuy
View Tower Bengkulu

Gedung Daerah Provinsi Bengkulu

Karena gagal melihat view Tower, aku kemudian berjalan ke sisi sebelah alun-alun yang terdapat Gedung Agung Provinsi Bengkulu. Gedung ini dulunya merupakan rumah tinggal bagi Residen Inggris yang memerintah di Bengkulu. Yup, di sinilah Thomas Parr tinggal dan terbunuh serta di sini jugalah Thomas Stamford Raffles tinggal selama memerintah di Bengkulu. Saat ini, Gedung Daerah dijadikan sebagi rumah dinas Gubernur Bengkulu. 

Gedung Daerah Provinsi Bengkulu

Hal yang menarik dari Gedung Daerah ini selain arsitekturnya yang megah adalah banyaknya rusa yang berkeliaran di halaman gedung. Di sekitar pagarnya juga banyak yang berjualan wortel dan sayur, sehingga bagi siapa yang mau memberi makan rusa, dipersilahkan.

Btw, kalo wartelnya mau dimakan sendiri juga boleh kok. :D

Rusa di halaman Gedung Daerah

Tak terasa senja telah menyapa Bumi Rafflesia. Karena esok hari aku masih ada ujian, jadi aku pun mengakhiri petualanganku di Kota Bengkulu untuk hari ini dan akan melanjutnya esok siang. Untuk saat ini aku pun kembali ke penginapan untuk beristirahat.

Sampai ketemu di hari selanjutnya,

to be continued...

Sabtu, 26 September 2020

Fort Marlborough, Benteng Inggris di Kota Bengkulu

Benteng Marlborough

Hai sahabat backpacker...

Setelah kemarin diselingi cerita petualanganku kampung sendiri, yaitu Wisata Hutan Mangrove Silau Laut dan Pesona Alam Sureng yang keduanya berada di Kabupaten Asahan. Maka sekarang aku mau melanjutkan kisah petualanganku di Bumi Rafflesia alias Tanah Bengkulu.

Baca juga: Wisata Baru di Asahan, Pesona Alam Sureng

Wisata Alam Mangrove Silau Laut, Pesona Baru di Asahan

 Setelah sebelumnya aku mengunjungi Pantai Tapak Paderi, Pondok Sendal Jodoh hingga Benteng Jepang, aku pun kembali melanjutkan perjalanan ke Fort Marlborough, sebuah benteng besar peninggalan Inggris ketika menduduki wilayah Bengkulu.

Alamat Fort Marborough

Benteng Marlborough ini beralamat di Jalan Benteng, Kebun Keling, Kecamatan Teluk Segara, Kota Bengkulu. Kalo dari Benteng Jepang itu nggak begitu jauh sih, bahkan dinding dan puncak Benteng Marlborough dapat terlihat. Hanya saja pintu masuknya ada di sisi lain, jadi aku harus berjalan  memutar sekitar 600 meter di bawah teriknya sengatan matahari pesisir.

Fuuhhh... gerah juga cuy, syukurnya angin dari pantai cukup mendinginkan tubuh ini.

Tiba juga di Fort Marlborough

           Sejarah Fort Marlborough

Fort Marlborough alias Benteng Marlborough merupakan sebuah benteng peninggalan Inggris. Benteng ini didirikan oleh East India Company (EIC) sebuah kompeni dagang Inggris pada tahun 1713 dan selesai pada tahun 1719 di bawah pimpinan gubernur Joseph Callet sebagai benteng pertahanan Inggris. Katanya benteng ini merupakan benteng terkuat Inggris di wilayah Timur setelah Benteng St. Geogre di Madras, India.

Meskipun disebut terkuat kedua, benteng ini juga pernah dibakar oleh rakyat Bengkulu hingga pihak Inggris harus mengungsi ke Madras. Pada tahun 1724 mereka kembali setelah dilakukan perjanjian. Namun pada tahun 1793 kembali terjadi serangan dan mengakibatkan seorang opsir Inggris, Robert Hamilton, tewas. Dan kemudian tahun 1807, residen Thomas Parr juga tewas. Keduanya diperingati Inggris dengan mendirikan monumen-monumen di Kota Bengkulu.

Makam Inggris di Fort Marlborough

Berani macam-macam sih ama orang Indonesia

Setelah Inggris menukar wilayah Bengkulu dengan Singapura kepada Belanda, benteng ini pun berganti kepemilikan kepada Belanda. Setelah itu benteng ini juga sempat menjadi milik Jepang pada masa Pendudukan Jepang. Setelah kemerdekaan Republik Indonesia, benteng ini menjadi markas TNI-AD hingga tahun 1977, benteng ini diserahkan kepada Depdikbud untuk dipugar dan dijadikan bangunan cagar budaya. Saat ini pun Fort Marlborough menjadi salah satu objek wisata yang wajib dikunjungi saat berwisata di Bengkulu.

Bung Karno dan Fort Marlborough

Benteng ini juga punya kaitan sejarah dengan Bapak Proklamator Indonesia, Bung Karno saat beliau diasingkan Belanda ke Bengkulu. Ketika itu Hitler menyerang Negeri Belanda, oleh karena itu mereka memanggil Bung Karno untuk membangunkan sebuah monumen peringatan. Namun Bung Karno malah menumpuk tiga buah batu kecil dan berkata, meminta seorang tahanan yang meminta kemerdekaan atas rakyatnya untuk membangunkan sebuah tugu karena bangsa lain merebut kemerdekaan negeri mereka, maka cuma itu yang mau dikerjakannya.

Sungguh heroik sekali Bung Karno.

Fort Marlborough Saat Ini

Setelah mengusap keringat yang menetes di jidat, aku pun segera membeli tiket masuknya yang seharga Rp. 5000 perorang dan segera memasuki Benteng Marlborough ini. Benteng ini dibangun di atas bukit buatan dan menghadap ke Kota Bengkulu dan memunggungi Samudera Hindia. Bentengnya dibangun berbentuk kura-kura dengan lima sudut penjagaan. Di sekeliling bentengnya dibuat parit sehingga untuk memasuki bentengnya melalui jembatan kayu. Konon dulunya jembatan ini bisa diangkat dengan rantai. 

Harga tiket masuknya
Parit benteng dan jembatan penghubung

Setelah melalui jembatan tersebut, terdapat dua ruangan di kanan dan kiri. Dulunya ruangan ini difungsikan sebagai penjara. Namun sekarang ruangan ini dijadikan sebagai museum yang berisi tentang alasan kedatangan Bangsa Eropa ke Nusantara hingga perjuangan Bangsa Indonesia, khususnya Rakyat Bengkulu dalam melawan penjajahan Bangsa Asing. 

Senjata tradisional Bengkulu


Blok penjara di Benteng Marlborough
Harta, salah satu alasan penjajahan

Di depannya terdapat sebuah lapangan luas berumput hijau, di lapangan ini juga berjejer meriam-meriam. Di bagian ujung terdapat ruangan yang dulunya menjadi kantor EIC dan sekarang menjadi kantor pengurus Benteng Marlborough, ruang baca, mushalla hingga toilet. Sedangkan di sisi kanan terdapat dua ruang pameran yang berisi sejarah pembangunan Benteng Marlborough ini termasuk bahan bangunannya, detail arsitekturnya hingga miniatur Benteng Marlborough. Di ruang pameran satunya terdapat sejarah tokoh-tokoh yang pernah ada di Bengkulu, seperti yang tokoh yang membangun benteng ini, tokoh Sir Stamford Raffles hingga Bung Karno yang pernah diundang ke benteng ini. 

Halaman benteng dan denahnya

Jejeran meriam di halaman Benteng Marlborough

Rumput hijaunya cantik

Kantor EIC

Penjelasan peluru meriam

Bahan pembangunan benteng

Miniatur Benteng Marlborough
Sir Stamford Raffles

Bagian terakhir yang kukunjungi di benteng ini adalah bagian atasnya. Posisinya yang berada di atas bukit membuat pemandangan dari atas benteng terlihat jelas. Di depan sana terdapat pemandangan Kota Bengkulu, sedangkan di bagian belakang terhampar lautan luas dari Samudera Hindia.  

Keren cuy.

Benteng Marlborough dari sisi atas

Samudera Hindia di belakang benteng
Kota Bengkulu di sisi depan benteng
Meriam di sisi atas benteng


Kalian kapan ke sini? 

Backpacker ganteng di Benteng Marlborough

Kamis, 24 September 2020

Wisata Baru di Asahan, Pesona Alam Sureng

Pesona Alam Sureng

Hai sahabat backpacker... selamat datang di blognya orang ganteng dan unyu yang suka berpetualang. :D

Setelah kemarin aku berbagi cerita tentang objek wisata baru di Kabupaten Asahan yang bernama Wisata Alam Mangrove Silau Laut. Maka kali ini aku mau berbagi lagi cerita tentang objek wisata baru yang masih berada di Kabupaten Asahan dan bernama Pesona Alam Sureng.

baca juga: Wisata Alam Mangrove Silau Laut, Pesona Baru di Asahan

Perjalanan ini bermula ketika salah satu temanku mengunggah foto Pesona Alam Sureng ini dan membuatku cukup penasaran. Saat itu bertepatan pula salah seorang temanku mengajak untuk jalan-jalan kalo lagi ke Kisaran.

Bang, kapan ke Kisaran? Jalan-jalan yok!” begitulah kira-kira chat dari Ratri, salah seorang temanku yang tinggal di Kota Kisaran.

Boleh. Kebetulan Abang hari senin ini ada agenda verifikasi di Kisaran.” Jawabku.

Aku ama temenku si Dila yang Bang, soalnya kalo pacarku si Gusti nanyain, kan ada alibi.” Chatnya lagi.

Ahahaha… iya-iya.” Balasku cepat.

Btw, si Ratri ini emang udah punya pacar sih dan katanya pacarnya ada di luar provinsi. Oh ya, alasan aku mau diajak jalan bukan karena mau jadi orang ketiga loh. Tapi lebih seru aja kalo jalan-jalan itu ada temennya. Toh dia yang ngajak juga kan? Dan dia bareng temennya juga kok. jadi amanlah.

Kalo bisa pagi yang Bang, soalnya aku masuk shift jam 2.” Kata Ratri lagi.

oke deh! Jam 9 juga udah beres kok itu” balasku yakin.

Tapi….

Pukul 8 pagi.

Pukul 9 pagi

Pukul 10 pagi

Aku dan beberapa orang yang punya agenda yang sama di hari itu masih mengunggu. Namun petugas verifikasinya tak kunjung hadir meski kami telah menunggu sejak pagi hari. Sedangkan hp ku sudah penuh dengan chat dari Ratri yang menanyakan kepastian buat jalan-jalan.

Dan akhirnya lewat pukul 10.20 pagi barulah kami mendapat kepastian kalo ternyata lokasi verifikasinya dipindah ke kantor.

Owalah…. Capek nunggunya dari tadi cuy. -_-

Setelah menyelesaikan agenda tersebut, aku pun bergegas menemui Ratri dan kami pun segera menuju objek wisata Pesona Alam Sureng. Namun lagi-lagi muncul kendala, ban belakang motorku bocor dan harus ditampal.

Sambil menunggu abang Kang Tambal menambal ban motorku yang bocor, aku menatap lekat-lekat parasnya Ratri.

Kenapa Bang?” Tanya Ratri dengan wajah yang bersemu merah.

Kagak. Cuma mau liat kira-kira kamu dijampi-jampi apaan sih ama si Gusti, kok banyak amat kendalanya saat jalan ama kamu. Mulai dari verifikasi yang telat sampe ban yang bocor.” Jawabku.

Ahahaha…” Dila cuma tertawa mendengar penjelasanku sedangkan Ratri memanyunkan bibirnya.

Tapi emang bener sih, mungkin nih cewek dijampi ama cowoknya kalo jalan ama orang lain biar kena kendala. Wkwkwkwk… atau mungkin ini hukuman karena jalan ama pacar orang ya?

Hmmmm…. Tapi nggak mungkinlah, soalnya aku kan orang yang baik hati dan tujuanku cuma buat temen jalan-jalan doang.

Iya kan?

Iya kan?

Dan akhirnya setelah menunggu beberapa saat, si motor udah bisa dibawa melaju kembali. Tak lama kami pun tiba di objek wisata yang di maksud.

Alamat Pesona Alam Sureng

Objek wisata Pesona Alam Sureng ini terletak di Sei Renggas, Kecamatan Kota Kisaran Barat, Kabupaten Asahan. Kalo dari pusat Kota Kisaran tempat ini cuma sekitar 10 menit berkendara doang melalui Jalan Lintas  yang menghubungkan antara Kota Kisaran dengan Kecamatan Mandoge dan Kabupaten Simalungun. Objek wisata ini juga tak jauh dari SMK Negeri 2 Kisaran.

Tiket Masuk Pesona Alam Sureng

Untuk tiket masuknya cukup murah sih, persepeda motornya dikenakan biaya Rp. 5000 aja dan sudah termasuk biaya parkir. Sedangkan mobil dikenakan biaya Rp. 10.000 aja. Di sini juga ada beberapa pondok-pondok untuk keluarga dan perpondoknya dikenakan biaya Rp. 10.000. Namun jika tak ingin duduk di sana, masih terdapat banyak kursi-kursi lain yang tersebar di sekitar sini dan untuk duduk di sana, cukup pesan minuman doang.

Pondok Rp. 10.000

Pemandangan Pesona Alam Sureng

Setelah membayar tiket masuk, aku pun segera memasuki kawasan Pesona Alam Sureng. Gerbang depan dengan tulisan “Selamat Datang di Pesona Alam Sureng” pun menyambut kami. Di belakangnya terdapat jejeran payung yang tergantung di antara dahan-dahan sawit. 

Selamat datang di Pesona Alam Sureng

Payung warna-warni bergantungan

Objek wisata utama di Pesona Alam Sureng ini adalah aliran Sungai Silau. Sungai ini mengalir dari wilayah Simalungun dan Mandoge, membelah Kota Kisaran dan kemudian menyatu dengan aliran Sungai Asahan di wilayah Tanjung Balai hingga akhirnya mengalir ke Selat Malaka.

Sungai Silau di Pesona Alam Sureng

 Sungai Silau yang ada di dekat Pesona Alam Sureng ini berkelok-kelok dan alirannya cukup lebar. Airnya memang tidaklah jernih, apalagi di musim penghujan seperti ini. Namun karena permukaan sungainya yang lebar dan berkelok, membuat suasana di sekitar Pesona Alam Sureng ini jadi adem karena angin yang bertiup dari arah sungai cukup kencang.

Sebagai sebuah objek wisata yang baru dibuka, tempat ini sudah memiliki fasilitas yang cukup lengkap seperti pondok, bangku-bangku, warung jualan, toilet dan yang paling utama adalah spot foto kekinian. Spot-spot foto kekinian yang disediakan pun ada beragam seperti payung-payung yang menggantung diantara pohon sawit, pintu kemana saja, spot berbentuk love, rumah kincir dan  yang paling utama yaitu perahu cinta, sebuah spot berupa haluan perahu yang menghadap langsung ke aliran Sungai Silau. 

Perahu Cinta

Tetap pake masker cuy

Minggu, 20 September 2020

Wisata Alam Mangrove Silau Laut, Pesona Baru di Asahan

Wisata Alam Mangrove Silau Laut

Hai sahabat backpacker, selamat datang di blog nya orang ganteng dan unyu yang suka berpetualang. :D

Kali ini aku mau berbagi cerita tentang objek wisata yang baru aja di buka di desa sebelah tempat tinggalku. Namanya adalah Wisata Alam Mangrove Silau Laut.

Alamat Wiata Alam Mangrove Silau Laut

Objek wiata baru ini terletak di perbatasan antara Desa Silau Baru di Kecamatan Silau Laut dengan Desa Pematang Sei Baru, Kecamatan Tanjung Balai, Kabupaten Asahan. Bahkan jalan masuknya pun dari sisi Desa Pematang Sei Baru sih. Btw, Pematang Sei Baru itu adalah nama desaku dan di sini ada banyak kepiting dan udang segar. 

Udang asli kampungku

Promosi. Wkwkwkwkwk

Untuk menuju tempat ini telah disediain jalan tanah melalui perkebunan sawit dan tambak udang milik masyarakat. Namun biar lebih greget, aku dan sepupuku memutuskan untuk mengunjungi objek wisata ini via laut dengan menggunakan perahu milik sepupuku. Karena kami perginya pun beramai-ramai bareng keluarga, jadi cocok juga menggunakan perahu. 

Berperahu rame-rame

Brmmm.... brmmmm....

Meski sore itu anginnya bertiup cukup kencang, namun perjalanan via laut ini cukup lancar. Cuma baju aja yang sedikit basah, terkena cipratan ombak. Serta ponakanku yang menangis ketakutan karena perahunya bergoyang-goyang. Sebagai Incek alias Oom yang baik, aku pun menakutinya hingga dia menangis lebih keras.

Wkwkwkwkwkwk…

Dasar oom nggak ada akhlak 


Perjalanan via laut
Pohon manggrove di tepi laut

Tak begitu lama kami pun tiba di sebuah sungai kecil dengan alirannya yang tenang. Deburan ombak dari lautan terhalang akar-akar pohon mangrove yang ada di sekitar sini. Setelah menambatkan perahu, petualangaan kami di Wisata Alam Mangrove Silau Laut pun di mulai. 

Sungai kecil menuju objek wisatanya

Oh ya, sebelum itu bayar tiket masuknya dulu sih, perorangnya dikenakan biaya masuk Rp. 5000 saja dan anak-anak gratis biaya masuk. Mantap.

Pemandangan di Wisata Alam Mangrove Silau Laut

Sesuai namanya, Wisata Alam Mangrove Silau Laut ini menawarkan pemandangan alam hutan mangrove dan tepi lautnya dengan berbagai pohon mangrove yang rimbun dan aneka satwa liarnya.

Di sini pihak pengelola sudah membuatkan sebuah jembatan dari batang-batang kayu yang memanjang menuju tepi laut. Di sisi jembatan itu kita bisa melihat rimbunnya hutan mangrove dengan berbagai jenis pepohonan seperti bakau, api-api dan lain-lain. Di sisi satunya juga terdapat satu sungai kecil dengan aliran airnya yang tenang. Sedangkan di bagian ujung bisa terlihat lautan luas dari Selat Malaka.

Wisata Alam Mangrove Silau Laut
Berbagai jenis mangrove


Selain pepohonan, di sini juga bisa melihat berbagai satwa liar, terutama jenis unggas seperti bangau putih, elang, camar dan jenis burung lainnya. Jika beruntung juga bisa bertemu kera, lutung serta biawak yang habitatnya memang ada di sekitar hutan mangrove ini. 

Burung Elang terbang di atas pepohonan mangrove

Di bagian ujung jembatan, pihak pengelola juga telah menyediakan pondok-pondok untuk bersantai. Pondok ini bebas dipakai siapa saja dan tidak dikenakan biaya lagi. 

Pondok di Wisata Alam Mangrove

Karena ini merupakan piknik bersama keluarga, jadi kami memutuskan untuk memakan bekal yang di bawa dari rumah di pondok tersebut. Rasanya mantap juga, menikmati makanan dengan pemandangan berupa hutan mangrove, lautan luas dan suara kicauan burung. 

Pemandangan di Wisata Alam Mangrove
Backpacker ganteng di Wisata Alam Mangrove Silau Laut