Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 November 2021

Wisata Kota Palembang, Museum Balaputera Dewa

Museum Balaputera Dewa Palembang
Museum Balaputera Dewa Palembang

Hai kawan-kawan, gimana kabar kalian? Semoga sehat selalu dan untuk seterusnya juga begitu. Kalo pun ada yang sakit, semoga cepat sembuh ya. Aamiin... Kalo kabarku, alhamdulillah saat ini aku baik-baik aja dan semoga tetap baik untuk kedepannya.

Ternyata udah lama juga ya aku nggak nulis di blog ini. Bukan bermaksud untuk ngelupain sih, hanya saja setelah yang terakhir kali aku nulis tentang si dia itu, aku emang ingin nenangin diri sejenak. Kebetulan dapat jadwal latsar CPNS juga. Sehingga 3 bulan belakangan ini aku cukup disibukkan dengan tugas dan kegiatannya. Bahkan kegiatan klasikalnya kemarin sampe diadain di Palembang.

Syukurnya sekarang udah selesai, jadi udah lumayan tenang sih. Bisa nulis lagi deh. Apalagi ada beberapa cerita tentang Palembang nih. Jadi ceritanya kemarin itu aku ikut kegiatan klasikal latsar CPNS di Asrama Haji Palembang selama satu minggu. Dan selama satu minggu itu kami terkarantina di dalam asrama. Nggak kemana-mana coy.

Jadi setelah acaranya selesai, aku putusin untuk jalan-jalan menikmati Kota Pempek ini. Petualangaku pun di mulai dari Museum Balaputera Dewa atau yang nama resminya Museum Negeri Provinsi Sumatera Selatan “Balaputera Dewa”.

Alamat Museum Balaputera Dewa

Museum Balaputera Dewa beralamat di Jalan Srijaya, No. 1, Rw 5, Srijaya, Kecamatan Alang-Alang Lebar, Kota Palembang. Museum ini letaknya masih ada di sekitar pusat kota Palembang, bahkan museum ini juga nggak jauh dari Stasiun LRT RSUD Prov Sumsel. Jadi mudah banget deh kalo mau ke museum ini.

Sejarah Museum Balaputera Dewa

Museum Balaputera Dewa dibangun pada tahun 1978 dan diresmikan pada tanggal 5 November 1984. Museum ini berstatus sebagai Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara. Penamaan Balaputera Dewa diambil berdasarkan nama Raja Sriwijaya yang memerintah ada abad ke-9 Masehi.

Tiket Masuk Museum Balaputera Dewa

Sebelum masuk ke dalam museumnya, udah pasti harus beli tiket dulu dong. Tiket masuknya murah meriah cuy, perorangnya cuma Rp. 2000 aja. Murah meriah dapat ilmu pengetahuan tentang sejarah dan budaya juga loh. Mantap banget coy. 

Museum Balaputera Dewa Palembang
Tiket masuknya cuma Rp. 2000 aja cuy

Koleksi Museum Balaputera Dewa

Setelah membayar tiket masuknya, aku pun segera menjelajahi setiap ruangan yang ada di museum ini. Ruangan pertama yang kumasuki adalah ruangan hibah. Ruangan ini menyimpan berbagai koleksi hasil hibah dari masyarakat dan orang-orang. Di dalamnya ada koleksi senjata, keramik hingga uang kuno. 

Museum Balaputera Dewa Palembang
koleksi hibah

Selain ruang hibah, masih banyak ruang-ruang lainnya yaitu, Gedung Pameran I, Gedung Pameran II dan Gedung Pameran III. Di dalam gedung pameran ini ada banyak koleksi lainnya seperti Galeri Melaka Bersejarah Bendaraya Warisan Dunia yang isinya berhubungan dengan sejarah dan budaya Melayu khususnya Melayu Melaka, 

Museum Balaputera Dewa Palembang
Gedung Pameran II
Museum Balaputera Dewa Palembang
Koleksi sejarah Melaka Melayu

Di ruang selanjutnya kemudian ada juga berbagai fosil-fosil dari hewan dan fosil lainnya yang ditemukan dari hasil ekskavasi di sekitar Sumatera Selatan. Selanjutnya ada berbagai barang peninggalan bersejarah dari Kerajaan Sriwijaya seperti prasasti dan arca-arca dari patung Budha serta berbagai sisa kayu kapal yang membuktikan kejayaan maritim Kerajaan Sriwijaya sebagai pusat perdagangan di Selat Malaka di masa lalu. 

Museum Balaputera Dewa Palembang
Berbagai fosil hasil ekskavasi
Museum Balaputera Dewa Palembang
Salah satu prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya
Museum Balaputera Dewa Palembang
Koleksi tempayan dan guci serta gerabah
Museum Balaputera Dewa Palembang
Sisa kayu kapal bukti kejayaan kemaritiman Kerajaan Sriwijaya
Museum Balaputera Dewa Palembang
Koin kuno bukti Sriwijaya sebagai pusat perdagangan
Museum Balaputera Dewa Palembang
Koleksi porselin dan keramik

Setelah itu ada juga koleksi peninggalan dari Kerajaan Palembang yang bercorakkan Islam dan salah satu koleksinya adalah Al-Quran tua. Selanjutnya ada peninggalan dari masa penjajahan seperti benda-benda sisa perjuangan melawan penjajah. Terakhir ada barang-barang koleksi yang berhubungan dengan adat dan budaya masyarakat Sumatera Selatan seperti kain dan pakaian khas Sumsel hingga berbagai barbagai barang peralatan hidup masyarakat, seperti peralatan bertani, peralatan kegiatan adat dan lain-lain. 

Museum Balaputera Dewa Palembang
Koleksi Al-Quran tua dan naskah-naskah Islam
Museum Balaputera Dewa Palembang
Koleksi dari masa perjuangan
Museum Balaputera Dewa Palembang
Kain khas Sumatera Selatan
Museum Balaputera Dewa Palembang
Ada si ganteng yang unyu di Museum Balaputera Dewa

Rumah Adat Limas

Sebelum keluar dari Museum Balaputera Dewa, aku teringat kalo ternyata Rumah Adat Limas yang ada di uang Rp. 10.000 juga ada di museum ini, tepatnya ada di sisi belakang museumnya. Buru-buru deh aku ke belakang untuk melihat Rumah Adat Limas yang ikonik tersebut. 

Museum Balaputera Dewa Palembang
Siganteng yang unyu di depan Rumah Adat Limas

Minggu, 17 Januari 2021

Museum Huta Bolon Simanindo di Pulau Samosir

Museum Huta Bolon Simanindo
Museum Huta Bolon Simanindo

Hai sahabat backpacker, setelah sebelumnya aku udah ngunjungi objek wisata Batu Kursi Raja Siallagan di Huta Siallagan, Desa Ambarita, Samosir, aku pun kembali melanjutkan petualanganku di Pulau Samosir ini. Tujuanku selanjutnya adalah Museum Huta Bolon Simanindo yang terletak tidak jauh dari Huta Siallagan.

Baca juga: Batu Kursi Raja Siallagan, Wisata Seram Pulau Samosir

Alamat Museum Huta Bolon Simanindo

Museum Huta Bolon Simanindo beralamat di Jalan Pelabuhan Simanindo, Desa Simanindo, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara. Museum ini berjarak sekitar 16 km dari Huta Siallagan. Oh ya, museum ini juga deket banget ama Pelabuhan Simanindo, jadi bisa sebagai salah satu alternatif wisata kalo ke Pulau Samosir melalui Pelabuhan Simanindo. 

Museum Huta Bolon Simanindo
Jalan ke Pelabuhan Simanindo

Tiket Masuk Museum Huta Bolon Simanindo

Tiket masuk ke Museum Huta Bolon Simanindo adalah Rp. 10.000 perorang. Menurutku ini adalah tiket wisata termahal di Pulau Samosir. Karena kebanyakan objek wisata di Pulau Samosir tiket masuknya kisaran Rp. 2000 sampe Rp. 5000 doang dan banyak juga yang seikhlasnya bahkan yang gratis. Jadi tiket masuk ke museum ini tergolong mahal sih menurutku untuk ukuran Pulau Samosir. 

Museum Huta Bolon Simanindo
Tempat tiket dan informasi

Jadwal Buka Museum Huta Bolon Simanindo

Museum ini buka setiap hari sejak pukul sembilan pagi hingga pukul lima sore.

Koleksi Museum Huta Bolon Simanindo

Setelah membayar tiket masuknya, aku pun segera masuk ke dalam museum ini untuk melihat-lihat koleksi yang ada di dalam museumnya. Seperti museum Batak pada umumnya, museum Huta Bolon Simanindo juga punya bentuk bangunan berupa rumah adat Batak Toba. Hanya saja dindingnya dibuat dari bilah-bilah papan sehingga cahaya matahari bisa masuk lebih banyak ke bagian dalam museumnya. Mungkin bangunannya lebih mirip sopo, tempat pengumpunan hasil panen dan ulos milik Batak Toba. 

Museum Huta Bolon Simanindo
Bangunan Museum Huta Bolon Simanindo

Museum Huta Bolon Simanindo ini adalah rumah adat warisan dari Raja Sidaruk dan sejak tahun 1969 udah dijadikan sebagai museum yang bebas dikunjungi wisatawan.

Di bagian dalam museum terdapat berbagai macam barang koleksi dari peninggalan leluhur orang Batak seperti parlahaan, pustaka laklak, tunggal panaluan, solu bolon. Kemudian juga ada berbagai macam alat-alat rumah tangga hingga peralatan berburu, bertani dan alat-alat untuk upacara adat yang kebanyakan nggak kuketahui apa fungsinya. 😂 

Museum Huta Bolon Simanindo
Bagian dalam museum
Museum Huta Bolon Simanindo
Berbagai koleksi Museum Huta Bolon Simanindo
Museum Huta Bolon Simanindo
Koleksi ulos Batak
Museum Huta Bolon Simanindo
Tongkat Batak
Museum Huta Bolon Simanindo
Tempayan dan nggak tau yang itu apaan

Setelah puas melihat berbagai barang koleksi yang ada di dalam Museum Huta Bolon Simanindo, aku pun keluar dari museum tersebut. Namun sebelum menuju tempat parkir, mataku malah melihat sebuah gerbang batu yang menarik.

Aku lantas masuk ke dalam gerbang tersebut dan ternyata di dalamnya terdapat perkampungan Batak dengan beberapa rumah adat. Sepertinya rumah adat ini udah berusia cukup tua. Di depan rumah adatnya juga ada boneka sigale-gale. Sayangnya saat itu rumah-rumah adatnya sedang direnovasi, jadi aku cuma melihat sekilas aja. 

Museum Huta Bolon Simanindo
Gerbang batu yang bikin penasaran
Museum Huta Bolon Simanindo
Rumah adat di sebelah museum

Setelah itu, akupun kembali ke parkiran karena hari sudah beranjak siang dan aku masih ingin mengunjungi danau unik di Pulau Samosir yang dinamain Danau Sidihoni, Danau Di Atas Danau. Brrmmm... brrmmm... 

Museum Huta Bolon Simanindo
Backpacker ganteng dan unyu di Museum Huta Bolon Simanindo

To be continued...

Jumat, 08 Januari 2021

Batu Kursi Raja Siallagan, Wisata Seram di Pulau Samosir

Huta Siallagan
Huta Siallagan

Hai sahabat backpacker, setelah sebelumnya aku ke Bukit Beta untuk melihat matahari terbit, aku pun segera kembali ke penginapan untuk bersih-bersih dan bersiap untuk melanjutkan petualangan di Bumi Samosir.

Baca Juga: Menanti Sunrise di Bukit Beta Samosir

Setelah mandi dengan air hangat namun tetap terasa dingin, Brrrr... Samosir di pagi hari dingin banget cuy. Aku kemudian cek out dan memulai petualangan di Pulau Samosir. Tujuanku pagi ini adalah Batu Kursi Raja Siallagan, salah satu destinasi sejarah di Pulau Samosir.

Alamat Batu Kursi Raja Siallagan

Batu Kursi Raja Siallagan beralamat di Huta Siallagan, Desa Ambarita, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara. Objek wisata sejarah ini letaknya tak jauh dari Desa Tuktuk Siandong, sentra penginapan yang ada di Pulau Samosir.

Batu Kursi Raja Siallagan

Batu Kursi Raja Siallagan ini berada di Huta Siallagan. Huta Siallagan adalah sebuah huta alias kampung yang dulunya ditinggali oleh Raja Siallagan dan para rakyatnya. Huta ini memiliki dinding batu setinggi 1,5 hingga 2 meter sebagai pagarnya. Pagar batu ini dulunya berfungsi untuk melindungi huta dari serangan binatang buas maupun serangan dari huta lain karena dulunya di Pulau Samosir sering terjadi peperangan antar huta. 

Huta Siallagan
Pagar batu

Begitu memasuki gapuranya yang dijaga dua patung dan bertuliskan Huta Siallagan, langsung terlihat deretan rumah adat Batak Toba. Konon rumah-rumah ini udah berusia ratusan tahun dan masih terawat hingga sekarang. Rumah-rumahnya juga memiliki fungsi yang beragam, ada yang menjadi tempat tinggal raja dan keluarganya hingga ada juga yang menjadi tempat pemasungan penjahat. 

Huta Siallagan
Rumah Adat Batak Toba

Yang paling menarik adalah adanya kursi dan meja yang dipahat dari batu. Kursi dan meja inilah yang dinamain sebagai Batu Kursi Raja Siallagan alias Batu Persidangan. Batu Kursi Raja Siallagan ini dulunya menjadi tempat raja dan petinggi adat untuk mengadili para pelaku kejahatan atau pelanggar hukum adat.

Jika kejahatannya tergolong kejahatan kecil, maka hukumannya hanya berupa sanksi pemasungan. Tapi kalo kejahatannya tergolong kejahatan berat, maka sang pelaku akan dijatuhi hukuman pancung alias potong kepala. Glekk..

Sebelum hukuman pancung dilaksanakan, penjahat tersebut akan di bawa ke batu persidangan yang ada di bagian belakang. Di sini ia akan dibaringkan, kemudian dihilangkan ilmu hitamnya. Untuk membuktikan ilmu hitamnya telah hilang, maka telapak kakinya akan diiris dan diberi air asam.

Setelah itu, barulah hukuman pancung dilaksanakan. Oh ya, pemancungan ini dilakukan dalam sekali tebasan. Jika dalam sekali tebas, penjahatnya nggak mati atau kepalanya nggak putus, maka sang algojo yang akan menggantikan tempatnya. Glekk.

Bagian seramnya belum selesai. Setelah kepala sang penjahat terpenggal, maka dadanya akan dibelah, jantung dan hatinya dikeluarin dan diletakkan di atas piring. Setelah itu jantung dan hati tersebut akan dimakan raja dan petinggi adat lalu dibagikan juga kepada rakyatnya agar kesaktian si penjahat berpindah ke raja. Serem cuy.. serem. 

Huta Siallagan
Batu Kursi Raja Siallagan
Huta Siallagan
Tempat pemasungan
Huta Siallagan
Tempat pemancungan

Fasilitas di Wisata Batu Kursi Raja Siallagan

Selain batu persidangan dengan sejarah seram tersebut, di Huta Siallagan ini juga ada beberapa objek wisata menarik lainnya seperti melihat rumah adat Batak Toba yang berusia ratusan tahun, lalu juga ada patung sigale-gale, hingga sentra oleh-oleh yang berada di bagian belakang huta.

Huta Siallagan
Patung Sigale-Gale
Huta Siallagan
Souvenir Shop

Tiket Masuk ke Batu Kursi Raja Siallagan

Tiket masuknya murah meriah, karena perorangnya hanya perlu membayar Rp. 2000 doang. Yupz.. Rp. 2000 perorangnya. Murah banget.

Setelah puas melihat-lihat Huta Siallagan, aku pun kembali melanjutkan petualanganku di Pulau Samosir dan tujuanku selanjutnya adalah Museum Huta Bolon Simanindo

Huta Siallagan
Backpacker ganteng dan unyu di Huta Siallagan

To be continued...

Selasa, 22 Desember 2020

Boneka Sigale-Gale di Pulau Samosir

Boneka Sigale-Gale di Pulau Samosir
Boneka Sigale-Gale di Pulau Samosir

Hai sahabat backpacker, setelah sebelumnya aku ngunjungi Museum Batak Tomok, aku pun berencana untuk melanjutkan petualangan di Pulau Samosir ini dengan mengunjungi objek-objek wisata lainnya yang ada di pulau ini. Namun sebelum beranjak dari Pasar Tomok, aku singgah sebentar di objek wisata Sigale-Gale yang masih berada di dalam kawasan Pasar Tomok.

Baca juga: Museum Batak Tomok di Pulau Samosir

Alamat Wisata Boneka Sigale-Gale

Wisata pertunjukan tari boneka Sigale-gale berada di Desa Tomok, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara. Wisata satu ini masih berada di dalam kawasan Pasar Tomok dan terletak tidak jauh dari Makam Batu Raja Sidabutar serta Museum Batak Tomok. 

Boneka Sigale-Gale di Pulau Samosir
Selamat datang di Sigale-Gale

Sejarah Boneka Sigale-Gale

Boneka Sigale-Gale adalah sebuah boneka kayu yang diukir mirip manusia seukuran orang dewasa. Boneka ini juga dipakein pakaian khas Batak lengkap ama kain ulosnya.

Menurut sejarahnya, kisah boneka Sigale-Gale ini bermula dari kisah Raja Rahat dan putranya yang bernama Manggalae. Jadi suatu hari kerajaan mereka diserang oleh kerajaan lain. Untuk menghadapi invasi dari kerajaan lain tersebut, sang raja memerintahkan anaknya memimpin pasukan untuk berperang di perbatasan.

Setelah peperangan yang berlangsung berbulan-bulan, tersiar kabar kalo Manggalae tewas secara ksatria di medan perang. Mendengar kematian putranya, sang raja menjadi sedih dan jatuh sakit. Beragam cara dilakukan agar sang raja sehat kembali, namun hasilnya nihil.

Hingga akhirnya rakyatnya bersama para dukun membuat sebuah boneka kayu yang mirip dengan rupa Manggalae. Boneka tersebut lalu dipakein pakaian khas Batak lengkap dengan ulosnya. Lalu dipanggillah roh Manggalae dan dimasukkan ke dalam boneka tersebut. Setelah itu, boneka Sigale-Gale pun menortor mengikuti iringan musik hingga sang raja sehat kembali.

Agak serem sih kalo dibayangin.

Sejak saat itu, tradisi menortor bareng boneka Sigale-Gale tetap dilakukan dan kini menjadi salah satu atraksi budaya yang ramai ditonton wisatawan. Hanya saja, boneka Sigale-Gale saat ini digerakkan dengan mekanisme tali atau kawat, bukan lagi dengan memasukkan roh ke dalam boneka. 

Boneka Sigale-Gale di Pulau Samosir
Boneka Sigale-Gale

Melihat Boneka Sigale-Gale

Seperti yang kukatakan di awal, sebelum beranjak dari Desa Tomok, aku menyempatkan diri untuk melihat boneka Sigale-Gale yang ada di Desa Tomok ini. Ditempat ini terdapat boneka Sigale-Gale lengkap dengan pakaian khas Bataknya. Sedangkan di belakangnya terdapat rumah adat khas Batak Toba.

Bagi yang ingin menortor bersama Boneka Sigale-Gale akan dikenakan biaya sekitar 100 hingga 200 ribuan. Namun karena aku cuma sendirian doang, jadi biayanya terasa cukup berat. Oleh karena itu, aku hanya melihat-lihat bonekanya doang tanpa meminta atraksi Sigale-Gale yang sedang menortor. 

Boneka Sigale-Gale di Pulau Samosir
Rumah adat Batak Toba
Boneka Sigale-Gale di Pulau Samosir
Tempat duduk buat penonton boneka Sigale-Gale

Setelah puas mengamati boneka Sigale-Gale dari dekat, aku pun beranjak dari Desa Tomok untuk melanjutkan petualanganku di Pulau Samosir dan tujuanku selanjutnya adalah melihat matahari terbenam di Pantai Pasir Putih Parbaba

Boneka Sigale-Gale di Pulau Samosir
Backpacker yang ganteng dan unyu di dekat Boneka Sigale-Gale

To be continued...

Sabtu, 19 Desember 2020

Museum Batak Tomok di Pulau Samosir

Museum Batak Tomok Samosir
Museum Batak Tomok

Note: -Perjalanan ini dilakukan sebelum musim hujan

          -Hati-hati saat berpetualang di musim hujan, terutama di wisata air. 

Hai sahabat backpacker...

Setelah sebelumnya aku mengunjungi sarkofagus alias Kubur Batu Raja Sidabutar yang berada di tengah-tengah Pasar Tomok, aku kemudian melanjutkan petualangan di Bumi Samosir. Tujuanku selanjutnya adalah Museum Batak Tomok yang masih berada di dalam kawasan Pasar Tomok tepatnya ada di bagian belakang pasar.

Baca juga: Kubur Batu Raja Sidabutar di Pulau Samosir

Tak sulit untuk menemukan museum ini karena terdapat plang penunjuk arahnya. Paling yang terasa sulit adalah menghindari godaan untuk singgah ke kios oleh-oleh yang berjejer di sepanjang jalan menuju museum ini. Apalagi banyak kakak-kakak ramah yang menawarkan dagangan dengan harga yang terjangkau. Wkwkwkwk... 😂😂 

Museum Batak Tomok Samosir
Plang selamat datang di Museum Batak Tomok

Alamat Museum Batak Tomok

Museum Batak Tomok terletak di Desa Tomok, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara. Museum ini berada tepat di belakang Pasar Tomok yang merupakan sentra oleh-oleh di Pulau Samosir. Museum ini juga terletak tak jauh dari objek wisata seperti Kubur Batu Raja Sidabutar dan  Pertunjukan Boneka Sigale-Gale, serta tak jauh dari Pelabuhan Tomok yang menghubungkan Pulau Samosir dengan Parapat.

Koleksi Museum Batak Tomok

Museum Batak Tomok ini punya koleksi yang cukup beragam. Benda-benda koleksinya juga punya sejarah dan budaya yang cukup tinggi. Barang-barang koleksinya seperti peralatan perang, peralatan pertanian dan mata pencaharian penduduk, hingga peralatan sehari-hari seperti peralatan dapur dan rumah tangga.

Selain itu juga terdapat barang-barang yang cukup khas seperti topeng kayu, patung kayu, berbagai jenis ukiran, alat tenun dan kain ulosnya dengan berbagai motif, buku dengan aksara Batak, tongkat Batak, hingga puluhan benda-benda lainnya yang aku pun nggak tau apa jenis dan fungsinya. 😅

Museum Batak Tomok Samosir
Berbagai koleksi Museum Batak Tomok
Museum Batak Tomok Samosir
Peralatan dapur masyarakat Batak
Museum Batak Tomok Samosir
Topeng kayu khas Batak Toba
Museum Batak Tomok Samosir
Katanya tempat buat nyimpen harta
Museum Batak Tomok Samosir
Ukiran kayu yang aku nggak tau fungsinya apaan

Kata bapak penjaga museum ini, barang-barang koleksi yang ada di Museum Batak Tomok ini tak sepenuhnya asli. Karena dulunya pada masa penjajahan Belanda cukup banyak barang-barang khas Batak Toba yang dibawa pihak Belanda ke negara asal mereka. 😢

Museum ini dibuka setiap hari mulai dari pagi hingga sore hari. Pengunjung juga tidak dipungut biaya alias gratis loh. Hanya saja jika ingin menyumbang, disediain kotak di dekat pintu masuk museum.

Rumah Adat Batak Toba

Oh ya, Museum Batak Tomok ini juga punya bentuk bangunan yang cukup unik loh karena bangunan museumnya berupa Rumah Adat Batak Toba atau yang lebih dikenal dengan nama Rumah Bolon.

Rumah Bolon ini berupa rumah panggung yang dibangun dari kayu dan disangga tiang-tiang penyangga berukuran cukup besar. Di dindingnya juga terdapat ukiran-ukiran khas Batak yang dinamain Gorga

Museum Batak Tomok Samosir
Rumah Adat Batak Toba
Museum Batak Tomok Samosir
Ukiran Gorga di Rumah Adat Batak Toba

Arsitektur Rumah Adat Batak Toba juga punya banyak filosofi yang sangat menarik. Misalnya tangganya yang berjumlah ganjil karena bagi orang Batak angka ganjil adalah angka keberuntungan. Lalu pintu masuknya juga dibuat rendah agar tamu merunduk saat masuk ke dalam rumah yang diartikan bahwa tamu harus menghargai sang pemilik rumah. Lalu atapnya juga dibuat lebih tinggi di bagian depan daripada bagian belakang, ini memiliki makna bahwa anak orang Batak harus lebih sukses dari orang tuanya.

Filosopi yang sangat bagus kan?

Oh ya, di halaman museum ini juga terdapat gazebo dengan kursi dan meja dari batu. Pohon-pohon rindang di sekitar gazebo membuat tempat tersebut cukup teduh hingga rasanya jadi nyaman kalo duduk-duduk di situ. Namun karena petualanganku di Bumi Samosir masih panjang, jadi aku pun melanjutkan perjalanan. 

Museum Batak Tomok Samosir
Gazebo di halaman museum

Museum Batak Tomok Samosir
Backpacker ganteng dan unyu di depan museum

To be continued..